Powered by Blogger.
RSS
Showing posts with label Gramedia. Show all posts
Showing posts with label Gramedia. Show all posts

Ketika Seni Dicinta Tanpa Kasta

 


Judul : Kemolekan Landak
Penulis   : Muriel Barbery

Penerjemah : Jean Couteau dan Laddy Lesmana

Penyelia naskah bahasa Indonesia : Mirna Yulistianti
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : 2017
Tebal     : 364 Halaman
ISBN     : 978-602-03-3827-9

Seni bukan hanya milik orang-orang tertentu. Namun banyak diyakini, seni selayaknya cuma dikonsumsi oleh orang-orang kelas atas. Kaum proletar, kasta rendahan, golongan miskin, semacam disangsikan dapat menikmati sebuah karya seni. Karena keadiluhungan seni dianggap tak akan mampu dicerna oleh mereka.

Seperti seorang penjaga gedung bernama Renee, yang menjadi tokoh utama dalam novel karya Muriel Barbery. Novel yang bertajuk frasa unik, “Kemolekan Landak”. Di sini Renee berusaha memerankan dirinya sebagai penjaga gedung kebanyakan. Stereotype umum berwajah jutek, gemar menonton TV sebagai cerminan kemalasan, jauh dari pintar apalagi cerdas, memelihara kucing gemuk, dan hal remeh temeh lainnya.

Bungkus luar Renee sangat berbeda dengan senyatanya. Renee berpura-pura menyalakan TV dengan mengeraskan suaranya, padahal di sudut lain ia tengah menikmati film bercita rasa tinggi atau buku-buku berat bertema filsafat. Renee juga sangat menyukai sastra. Ia penggemar berat Leo Tolstoy.

Sejak usia 27, Renee menjadi penjaga gedung di Jalan Grenelle no.7, sebuah bangunan pribadi nan megah dengan halaman dan taman di dalamnya, terbagi menjadi delapan apartemen sangat mewah, semuanya dihuni, semuanya besar. (halaman 3) Bagi para penghuni apartemen, ia jujur, dapat diandalkan, dan tentu saja, tampak kurang berpendidikan (sesuai citra yang selalu ditampilkan Renee).

Beragam karakter muncul di antara para penghuni gedung, namun satu yang pasti, mereka berada dalam golongan elite, kaum borjuis yang selalu tampil elegan di depan umum. Mereka pelik dalam urusannya masing-masing.

Yang menarik adalah seorang gadis kecil berusia 12 tahun, bernama Paloma Josse. Ia seorang jenius, menguasai ilmu pengetahuan melampaui usianya. Baik budaya, sastra, dan filsafat. Ia merencanakan bunuh diri saat berusia 13 tahun, demi menghindar dari masa depan borjuisnya yang sudah bisa dipastikanya. Ia juga akan membakar apartemennya agar keluarganya mengalami sedikit kesusahan.

Pada satu kesempatan, Renee dan Paloma bertemu lalu terjadi hal-hal yang tak terduga. Ditambah dengan kehadiran penghuni baru yang cukup menarik perhatian seisi gedung, yaitu Kakuro Ozu, pria Jepang yang bercita rasa tinggi. Ketiganya kemudian menjadi semacam sahabat yang sehati dan sejiwa.

Novel ini banyak mengangkat teori-teori filsafat. Juga hal-hal yang berkaitan dengan dunia seni, sastra, dan budaya. Melalui interaksi para tokoh dalam cerita ini, Muriel Barbery tampak ingin mempertontonkan beragam sisi kehidupan yang lestari dalam kebobrokannya di masyarakat. Kaum elite yang selalu merasa lebih unggul, padahal kenyataan hidupnya menunjukkan banyak kelemahan.

Paloma sebagai anak kecil, mewakili kelompok yang tidak dianggap. Ia merasakan kesoktahuan orang dewasa di sekitarnya. Orangtua, kakak, dan gurunya. Para orang dewasa kerap merasa sebagai si paling benar padahal dengan kemampuannya yang di atas rata-rata, Paloma mapu menunjukkan kesalahan tersebut. Namun karena dia dianggap anak kecil yang tidak tahu apa-apa, maka orang dewasa tetap menjadi pemenangnya.

Lalu Renee, dengan statusnya sebagai orang bawahan, sangat disangsikan intelegensinya. Dan ia menyembunyikan kecerdasannya karena enggan menerima tatapan penuh kernyit tak percaya dari orang-orang yang menahbiskan dirinya sebagai kaum terpandang. Padahal pengetahuan Renee sangat mumpuni di bidang seni dan filsafat. Buku-buku yang dilahapnya bahkan mungkin tak pernah terjamah oleh kaum yang mengaku terpelajar di dalam gedung yang dijaganya.

Sosok Kakuro Ozu hadir sebagai pria sopan penuh tata krama yang sangat menghargai seseorang bukan dari tampilan luar semata. Dengan kepekaannya, Kakuro mampu menebak bahwa Renee bukan penjaga gedung biasa. Secara berseloroh Kakuro mengira bahwa Renee adalah seorang putri yang sedang menyamar.

Hingga kemudian Kakuro berhasil menerabas sekat yang selalu dipasang Renee untuk memagari diri. Mereka berdua bertemu, berbincang, bertukar pikiran selayaknya dua kawan baik. Dengan Paloma di antara keduanya, mereka serasi bersahabat.

Novel ini bertabur kalimat-kalimat filosofis yang tidak ringan. Namun bukan berarti ini bacaan berat yang sulit dinikmati. Sisi humanis tetap menyertai, seperti manisnya persahabatan Renee dengan Manuela, seorang pembantu berkebangsaan Portugis.

Novel dengan judul asli L'Elegance du herisson dan diterjemahkan oleh Alison Anderson ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Elegance of The Hedgehog menjadi best seller 30 minggu berturut-turut dan dicetak ulang sebanyak 50 kali. Tidak hanya di negeri asalnya, Perancis, buku tersebut juga menjadi best seller di Italia, Jerman, Spanyol, dan Korea Selatan.

Misteri judul unik “Kemolekan Landak” terungkap di pertengahan cerita. Siapakah si Landak? Mengapa disimbolkan dengan landak? Termasuk mengapa digunakan pilihan kata “molek”. Ini sungguh mengesankan.

Di ujung cerita, pembaca mendapat kejutan. Apakah ini tergolong kejutan menyenangkan, melegakan, menyedihkan, atau menyakitkan, sangat berkaitan dengan rasa, kadar emosi, juga selera. Satu yang pasti, hingga cerita ditutup, pembaca mendapat banyak bekalan hidup dari muatan filsafat, seni, budaya, sastra, juga cara hidup dan cara pandang para tokoh. Sungguh sebuah novel yang komplet. Menghibur serta mencerahkan.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Misteri Gua Jepang : Melacak Jejak Rahasia Harta Karun



 Judul                           :  Misteri Gua Jepang
Penulis                         :  Iwok Abqary
Illustrator                    : Indra Bayu
Penerbit                       :  Kiddo (Gramedia Grup)
Tebal Buku                  :  v + 152 halaman
Cetakan                       : Pertama, Juni 2015
ISBN                           :  978-979-91-0865-4

Memang beda ya, cerita anak yang ditulis oleh penulis kawakan. Kayak yang satu ini nih, Misteri Gua Jepang by Iwok Abqary. Ceritanya asyik, bahasanya enak, dan plotnya rapi. Novel ini merupakan rangkaian Seri Misteri Favorit yang di;uncurkan oleh Penerbit Kiddo. Beraroma detektif karena di dalamnya terdapat suatu misteri yang menarik untuk dipecahkan. Seruu..

Cerita diawali dengan kekesalan Adon karena rencana liburan ke Yogyakarta, batal. Ayah mengalihkan tujuan ke Pantai Pangandaran karena keinginan Kek Pardi. Kek Pardi adalah kakek jauh Adon yang tinggal bersama keluarga Adon. Kakek jauh itu maksudnya kakak dari kakeknya Adon.

Hubungan Adon dan Kek Pardi yang memang tidak terlalu dekat semakin terasa tidak nyaman. Adon kesal, mengapa Kek Pardi memilih Pantai Pangandaran. Tapi ternyata Pantai Pangandaran adalah tempat wisata yang menarik. Akhirnya Adon pun mulai menikmati liburannya.

Suatu malam, Adon terkejut karena tempat tidur Kek Pardi kosong. Adon memang sekamar dengan Kek Pardi di hotel. Lalu Adon turun ke lobby dan mendapati Kek Pardi tengah mengobrol dengan seorang pria. Adon jadi bertanya-tanya. Kemudian menghubungkan dengan perilaku Kek Pardi. Saat baru tiba di Pantai Pangandaran, Kek Pardi langsung ingin segera mengunjungi cagar alam. Di dalam cagar alam itu terdapat beberapa gua. Salah satunya adalah Gua Jepang. Tapi belum sempat masuk ke dalam gua, Kek Pardi pingsan di pintu gerbang.

Setelah mengamati dan menyelidiki, Adon semakin yakin kalau Kek Pardi menyimpan rahasia tentang Gua Jepang. Dan itu berhubungan dengan harta karun peninggalan Jepang. Bersama Ujang, pemandu wisata cilik yang akrab sejak hari pertama, Adon kemudian terlibat dalam petualangan seru dan menegangkan.

Bagaimana kisah serunya? Baca aja yaa.. berasa kembali ke masa kecil deh. Suka banget baca cerita-cerita petualangan ala detektif gini. Kalo versi luar, tetep serial Lima Sekawan juaranya. Versi lokalnya, aku ngefans banget sama serial Noni.. sampe termimpi-mimpi si Godek-nya.. hehe..

Oh ya, yang menarik juga dari novel ini, ada sisipan kotak-kotak info yang memuat fakta unik tentang hal-hal yang terdapat dalam cerita. Misal: tentang Gua Jepang, pedang samurai, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, dan lain-lain. Kotak info itu dilengkapi pula dengan ilustrasi yang lebih memperjelas keterangannya. Jadi selain menghibur, novel ini juga menambah pengetahuan.

Deskripsi settingnya juga asyik dan detil. Pembaca betul-betul bisa membayangkan suasana tempat yang menjadi lokasi para tokoh beraksi. Hal ini menambah wawasan pembaca tentang daerah wisata di tanah air.

Buat orangtua juga bagus lho, baca buku ini. Setidaknya bisa belajar dari ayahnya Adon, gimana kalau anak kehilangan barangnya yang mahal. Bayangin aja, kamera DSLR punya Adon hadiah dari Ayah, hilang. Dan Ayah tenang ae menghadapinya. Sementara ibunya lumayan ada intro mau ngomel tuh. Hadeuh..
“Ya ampun, makanya hati-hati dong. Itu kamera pemberian Ayah, kan?” Ibu menggelengkan kepalanya.
“Ya sudahlah, bukan rezekimu berarti. Sudah, ayo habiskan kepitingnya!” Ayah menengahi.
(halaman 79)

See? Ayah nyantai banget, ya.. kayak cuma kehilangan kaos kaki yang harganya sepuluh-duapuluh ribu doang. Dan di halaman berikut juga, handphone Adon hilang. Oh, tidak.. kalau aku mah udah ngomel sepanjang pantai kayaknya.. wkwkwk..

Back to the novel,  ini adalah novel seri kesepuluh. Semua seri mengangkat setting di tanah air. Bagus banget untuk pengayaan pelajaran IPS. Anak-anak memang perlu pengetahuan macam begini, yang dikemas dalam sebuah cerita yang asyik. Jadi nggak berasa kayak baca pelajaran.

So, novel anak ini recommended buat anak-anak. Ceritanya keren, bikin penasaran, dan bikin pinter.. :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Di Balik Lezatnya Bitterballen



 Judul                          :  Bitterballen Love
Penulis                        :  Allana Izarra
Penerbit                      :  PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku                :  184 halaman
Cetakan                      : Pertama, Mei 2015
ISBN                           :  978-602-03-1578-2
Ada banyak hal yang membuat orang tertarik untuk membeli novel. Bisa karena covernya yang membetot perhatian, atau karena endorsernya seorang yang populer jadi bikin penasaran ceritanya kayak apa, dan beragam alasan lain. Uniknya, baru kali ini saya tertarik pada novel karena nama penulisnya. Saya baru mendengar nama ini. Alana Izarra. Hmm.. nama yang manis. Entah kenapa, saya membayangkan hasil karya seorang Alana Izarra ini tentu semanis nama penulisnya. Apakah dugaan saya terbukti? Yuk, ikuti cerita saya tentang novel ini.

Kisah langsung dibuka dengan konflik. Aliya yang berjualan makanan di dalam kelas mendapat cibiran tajam dari Vanya.
“Wah, wah, wah, ada yang gelar lapak lagi rupanya. Kelas jadi berasa pasar deh setiap jam istirahat.” (halaman 9)

Rupanya memang peraturan di SMU mereka itu, yang boleh berjualan hanya pihak kantin. Makanya Vanya merasa punya alasan kuat buat nyolot ke Aliya.
“Setidaknya gue menghargai apa yang ditulis pihak sekolah dan dipajang besar-besar di pintu gerbang. ‘Pedagang apa pun dilarang masuk lingkungan sekolah’. Dan itu peraturan sekolah. Paham?” (halaman 10)

Aliya sendiri berjualan bukan tanpa alasan. Keluarganya butuh uang. Karena pencari nafkah keluarga cuma ibunya yang berjualan di warung kecilnya. Ayahnya tidak ada. Kehidupan mereka sungguh sederhana. Berlawanan dengan hidup Aliya sebelumnya. Yup! Dulu Aliya termasuk kalangan berada. Rumah mewah, mobil, barang-barang bagus adalah bagian dari hidup Aliya.

Dengan keahliannya memasak, Aliya mencoba membantu perekonomian keluarga dengan berjualan nasi uduk, mie goreng, risoles, dan lumpia, di kelas. Aliya tahu, perbuatannya melanggar peraturan sekolah, tapi ia terpaksa melakukannya. Dan teman-temannya banyak yang suka. Terutama kedua sahabatnya, Zia dan Chika.

Sepandai-pandai Aliya menutupi, akhirnya ketahuan juga. Walikelasnya, Bu Hilda, menegur dan melarangnya berjualan.
“Megapa pihak sekolah hanya mengizinkan kantin yang berjualan di lingkungan sekolah? Karena pihak sekolah ikut bertanggung jawab atas kesehatan kalian selama berada di sekolah. Pihak sekolah berusaha keras untuk mendapatkan pengertian masyarakat di sini agar tidak berjualan di sekitar sekolah. Dan kami tidak mau peraturan ini justru dilanggar oleh pihak internal.” (halaman 41)

Di tengah kesedihan Aliya karena sumber penghasilannya terhenti, konflik dengan Vanya semakin meruncing. Pada pagi yang hujan, Aliya tidak sengaja membuat Vanya terjatuh sehingga baju dan tasnya kotor. Vanya marah besar. Kata-katanya menusuk hati Aliya.
“Lo pikir tas ini murah? Lo jualan nasi uduk setahun juga nggak bakalan mampu beli tas model begini!” (halaman 54)

Aliya semakin tersungkur dalam kesedihan. Pada saat itulah, Zia muncul dengan ide cemerlangnya. Mereka mendatangi kantin, melobby kemungkinan Aliya bisa menitip dagangannya di sana. Dengan dukungan penuh dari kedua sahabatnya, Aliya kemudian mengirimkan contoh makanan hasil buatannya. Ternyata pihak kantin menilai makanan Aliya layak untuk diterima.

Selanjutnya Aliya rutin menitipkan makanannya di kantin. Risoles dan bitterballen buatan Aliya selalu diserbu. Laris manis. Bentuk bitterballen yang bulat, dengan kreatifnya diubah oleh Aliya menjadi bentuk hati. Jadilah namanya, bitterballen love.


Sementara itu, Bu Hilda pun memesan risoles untuk acara arisan di rumahnya. Aliya suka cita menerima order itu. Tapi ketika mengantarkan pesanannya, Aliya kaget karena di gerbang rumah Bu Hilda ia disambut oleh cowok yang selama ini ia benci. Namanya Danur. Selama ini Aliya selalu menghindari Danur di sekolah. Sikapnya selalu jutek kepada cowok ganteng itu. Hal ini membuat penasaran kedua sahabatnya, Zia dan Chika.

Rupanya urusan dengan Danur, masih terus berbuntut. Vanya yang jelita, merasa terganggu karena ia naksir Danur. Didorong rasa cemburu, Vanya membeberkan sebuah fakta yang membuat Aliya ternganga. Aliya kaget bukan kepalang.

Selain dibelit masalah-masalah di sekolah, Aliya juga tak bisa lepas dari masa lalunya. Ia tak mau berdamai dengan ayahnya. Ayah yang membuat kehidupannya berbalik.

Dari novel ini, pembaca akan menemukan nilai-nilai kesungguhan. Bahwa berjuang keras adalah sebuah keniscayaan. Betapa Aliya berjibaku membagi waktu antara belajar dan memasak, hingga akhirnya menjadi pengisi tetap menu jajanan di sekolah dan menerima banyak pesanan  untuk acara arisan ibu-ibu.

Bitterballen love menjadi lambang perjuangan Aliya. Bermula dari penganan itu, rasa percaya diri Aliya terus menguat. Sebelumnya, kadang Aliya masih dikepung ragu, tapi larisnya bitterballen buatannya, menunjukkan bahwa orang-orang menyukai hasil racikannya. Dan itu artinya, makanan buatannya diakui enak oleh orang lain.

Kehadiran bitterballen love menjadi bagian dari hidup Aliya, tidak lepas dari masa lalunya. Kalau saja ayahnya tidak pergi dari kehidupannya, ia tidak mungkin akan menjadi seorang pembuat makanan. Kemampuan memasaknya belum tentu akan tereksplor. Kehidupan yang mengubahnya menjadi bukan anak orang kaya lagi, telah mengantarnya menjadi seorang calon chef andal. Sungguh, segala sesuatu itu pasti ada hikmahnya.

Penulis novel ini tampak tenang menggiring pembaca menyusuri kisah perjuangan Aliya. Bahkan saking tenangnya, bikin pembaca gregetan. Terutama pada bagian ayah Aliya. Informasi disampaikan tidak terburu-buru. Sedikit demi sedikit, membuat pembaca turut menyelami perasaan Aliya yang sakit hati oleh tindakan ayahnya. Hingga akhirnya terkuak siapa ayah Aliya.

Selalu hidup ini adalah tentang pilihan. Demikian pun Aliya. Pilihannya ada dua. Yang pertama, menunjukkan sikap protes pada ayahnya dengan selalu menghindar dan tak mau memaafkan. Mengikuti bisikan hati yang tidak rela menerima begitu saja, orang yang telah menghancurkan hidupnya. Biar saja ayahnya menerima hukuman dengan sikap Aliya yang terus menolak untuk bertemu. Tak apa ayahnya terus dirundung penyesalan akibat penolakan Aliya. Pilihan ini memuaskan hati. Tapi sejatinya itu puas yang semu. Sampai kapan bisa bertahan dalam kebencian?

Pilihan kedua adalah berdamai dengan masa lalu. Memaafkan orang yang telah melukai hati dan memorakporandakan hidup. Tentu saja ini tidak mudah. Bagaimana mungkin meluluhkan hati yang dibelit benci? Di sinilah saya tercerahkan. Bahwa masa lalu seburuk apa pun, jangan sampai menumpulkan nalar, meminggirkan cinta. Selama masih bisa diperbaiki, kenapa nggak?

Aura semangat dan optimis yang menguar, memberi kesan positif kepada pembaca. Meski agak kurang unsur yang menegangkan. Misalnya: order makanan yang nyaris rusak, bahan-bahan mentah yang ternyata busuk, dan semacamnya. Kayaknya seru deh, kalau pembaca dibuat deg-degan dulu, meskipun nantinya kekacauan itu bisa diselamatkan.

Tokoh-tokoh dalam novel ini pun biasa aja, nggak ada yang ‘aneh’. Aliya yang tangguh, Danur yang ganteng tapi cool, Vanya yang cantik tapi nyebelin, dan sahabat-sahabat Aliya, Zia dan Chika yang baik dan ringan tangan. Semuanya asyik-asyik aja.

Sebagai novel remaja, bahasa yang mengalir sepanjang cerita, terasa ringan dan segar. Khas remaja. Seperti dialog Zia yang menyindir Vanya. “Ah, kuntilanak juga dilarang bersekolah di sini kok. Tapi buktinya kamu ada di sini,” cetus Zia enteng. Dia sibuk mengunyah mie goreng dan sama sekali tidak mengangkat wajah. (halaman 10).

Dengan label teenlit, novel ini menawarkan sisi lain dari remaja. Bukan remaja yang asyik dengan dunia suka-sukanya, tapi sebuah kehidupan yang sulit yang butuh ketangguhan untuk menghadapinya. Aliya bukan sosok remaja cengeng yang lantas menyerah pada keadaan pahit. Tentunya diharapkan sosok ini akan menginspirasi pembaca remaja. Namun bukan berarti sama sekali menyingkir dari dunia remaja, novel ini tetap menampilkan sisi romance yang manis, semanis nama Allana Izarra.. :)

Dan, ada satu lagi yang menarik. Para pembaca bisa berkesempatan mencicipi gurih serta renyahnya bitterballen love dan risoles andalan Aliya. Caranya? Sila mencoba meraciknya di dapur, karena Aliya membagikan resepnya dalam novel ini. Jadi setelah membaca, selamat memasak.. :)
Ini nih bitterballen, biasanya bentuknya bulat kayak gini.
(gambar diambil dari sini)



 
Nah, ini risoles.. udah pada tau, kan? :)
(gambar diambil dari sini)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Tentang Iman dan Kemanusiaan




Judul Buku                :  Maryam
Penulis                        :  Okky Madasari
Penerbit                      :  Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                      :  Februari 2012
Tebal Buku                :  280 halaman
ISBN                           :  978-979-22-8009-8

Ketika pertama kali baca “Entrok”, saya langsung jatuh cinta sama novel itu. Meski ada hal-hal yang beraroma vulgar, tapi kisahnya demikian membumi, sehingga membacanya memberi efek candu. Gaya penuturannya lugas, tapi tetap terasa indah. Kemudian saya baca karya Okky Madasari lainnya berjudul “86”. Saya masih terkagum-kagum dengan novel ini, meski aroma jurnalisnya terlalu pekat. Tapi tetap dua jempol saya berikan. Setelah itu, saya baca “Pasung Jiwa”, dan mulai merasakan tidak nyaman dengan tema yang digelar serta cara eksekusinya. Terakhir, saya baca “Maryam”, rasanya semakin menipis kekaguman itu.

Temanya sangat tidak biasa, mengangkat kelompok Ahmadiyah, dengan latar tempat di Lombok. Tokoh utama, Maryam, adalah perempuan yang terlahir dari rahim seorang Ahmadi sejati. Ia tidak bisa menolak didikan ayah ibunya yang menggiringnya untuk menjadi seorang Ahmadi pula. Mereka shalat di masjid yang berbeda, serta mengikuti pengajian rutin yang berbeda pula dari orang-orang pada umumnya.

Ayah Ibu Maryam sangat menjaga putrinya agar tetap berada di lingkungan Ahmadi. Maryam patuh. Ia tidak pernah jatuh cinta kepada siapa pun. Hingga akhirnya saat kuliah, orang-orang mulai menjodoh-jodohkannya dengan pemuda Ahmadi juga. Namanya Gamal, empat tahun lebih tua dari Maryam, sedang mengerjakan skripsi di Teknik Mesin ITS. Secara alami, keduanya ternyata saling jatuh cinta.

Keadaan berbalik ketika Gamal pulang dari Banten untuk urusan skripsi. Ia menjauh. Tak lagi mau berinteraksi dengan komunitas Ahmadi-nya. Gamal berpindah jalan, melepas ke-Ahmadi-annya. Dan akhirnya Gamal benar-benar menghilang. Maryam patah hati. Ia berdarah-darah dalam luka yang terus membasah.

Selepas lulus kuliah di Surabaya, Maryam melesat ke Jakarta. Perjumpaannya dengan Alam, seorang non-Ahmadi, mampu menggeser posisi Gamal. Maryam pun menetapkan satu tujuan: hanya ingin hidup bahagia bersama Alam. Dan konsekuensinya tentu berimbas pada keharusan untuk keluar dari Ahmadi.  Maryam tak peduli. Ia hanya ingin hidup bahagia bersama lelaki yang mencintai dan dicintainya. Tak ingin lagi ia mengalami kehilangan seperti dulu. Maka ditentangnya ayah ibu tercinta. Maryam pun pergi meninggalkan keluarganya dan kampung kelahirannya, Gerupuk.

Ternyata bahagia masih sulit diraih. Aneka konflik mengepung kehidupan rumah tangga Maryam. Hingga cinta Maryam dan Alam pun karam. Kembali ke kampung menjadi pilihan Maryam untuk menenangkan gejolak hatinya.

Sekian tahun tak pulang, Gerupuk telah berubah. Rumahnya kosong. Telah terjadi pengusiran terhadap warga Ahmadi. Maryam teriris hatinya, membayangkan penderitaan yang dialami ayah ibu dan adiknya. Ia tak ada saat tragedi terjadi. Rasa bersalah yang bertubi, membuatnya berusaha sekuat tenaga mencari jejak keluarganya.

Bagaimana selanjutnya kisah Maryam, tidak akan saya ceritakan. Sinopsis cukup sampai di sini. Ada banyak perkembangan baru dalam status Maryam sebagai janda. Dan tentu saja perkembangan kaum Ahmadi berikutnya. Terlalu spoiler kalau diceritakan semua.

Apa sebetulnya yang ingin disampaikan buku ini? Mendedah siapa kaum Ahmadi? Tidak begitu. Sepertinya penulis ingin menyentuh sisi-sisi kemanusiaan di balik penyerangan terhadap kaum Ahmadi. Tapi yang terasa malah jadi seba nanggung. Tidak ada penjelasan tentang apa itu kaum Ahmadi. Apakah pembaca novel ini semuanya tahu apa itu Ahmadi? Hanya ada disebut-sebut tentang gambar seorang lelaki. Yang dimaksud tentu Ghulam Ahmad. Di antara bingkai-bingkai itu, terselip satu gambar tanpa bingkai. Gambar laki-laki itu. Yang dicintai dengan tulus oleh keluarganya. Yang menjadi perekat dan penyatu. Tapi yang sekaligus membuat hidup mereka kerap diwarnai nada sendu (halaman 59).

Penulis memosisikan diri di tengah. Tidak memihak. Ingin mengajak pembaca untuk menyelami luka hati penganut Ahmadi yang tersakiti akibat diusir dan diserang. Bahwa kaum Ahmadi hanya ingin hidup damai. Tidak mengganggu, dan tetap saling menghormati. Hei.. tunggu! Pihak pemerintah, MUI dan orang-orang yang menentang keberadaan Ahmadiyah, bukan berarti menginginkan ada yang tersakiti dan menderita. Esensinya adalah karena ajaran yang dibawa Ahmadi bertentangan dengan ajaran Rasulullah Muhammad SAW. Jadi ketika digambarkan kondisi Fatimah, adik Maryam, yang mendapat perlakuan diskriminatif di sekolah, rasanya simpati saya tidak terbangkitkan. Sepertinya itu bukan diskriminatif, tapi kompromistis. Toh Fatimah tetap bisa bersekolah, meski nilai Agama di bawah rata-rata, dan itu tersebab ke-Ahmadi-annya, bukan oleh buruknya nilai yang didapat.

Ilustrasi menyedihkan lainnya ketika ayah Maryam meninggal. Bahkan setelah terbujur kaku pun, mayat seorang Ahmadi tetap ditolak oleh warga. Apakah dalam hal ini, rasa kemanusiaan yang harus dikedepankan? Tetap saja, masalah aqidah adalah masalah yang prinsip. Hendaknya orang-orang Ahmadi menyadari itu.

Memang ternyata orang Ahmadi itu ngeyel. Digambarkan dalam beberapa dialog betapa mereka keukeuh untuk satu hal, sementara yang menjadi pokok permasalahan adalah hal yang lain. Gubernur sudah menyediakan tempat penampungan bagi warga Ahmadi yang terusir. Sudah mengupayakan bantuan rutin dari Dinas Sosial. Tapi orang-orang Ahmadi itu tetap saja mempertanyakan kenapa mereka tidak boleh tinggal di rumahnya yang dulu. Padahal sudah jelas, ajaran mereka itu yang merupakan jalan sesat yang tidak bisa diterima warga. Kembalinya mereka ke rumah yang dulu, hanya akan memicu kerusuhan kembali.

“Kalau selamanya harus tinggal di pengungsian seperti ini, bagaimana, Bu?” wartawan itu bertanya lagi.
“Ya bagaimana lagi?” perempuan itu balik bertanya.
“Sudah lama tinggal di sini, apakah terpikir untuk menuruti permintaan orang-orang itu...?”
Perempuan itu tampak bingung dengan pertanyaan wartawan.
“Maksudnya keluar dari Ahmadiyah agar bisa pulang lagi ke rumah,” jelas wartawan.
Perempuan itu menggeleng. “Namanya orang sudah percaya,” jawabnya. “Semakin susah, semakin yakin kalau benar,” lanjutnya.
Wartawan itu terdiam. Raut mukanya menunjukkan rasa kasihan, tak tega, sekaligus terharu. Tak jauh dari mereka, Maryam pun berkaca-kaca. Sementara perempuan yang bicara tetap seperti biasa-biasa saja. Demikian juga teman-temannya
(halaman 272).

Dalam epilog novel ini, tertulis surat yang dibuat Maryam untuk penguasa negeri, konon untuk ketiga kalinya. Isinya tentang penderitaan kaum Ahmadi selama hidup di tempat pengungsian. Maka yang diinginkan adalah keadilan, bukan bantuan. Dan tidak akan ada dendam akibat perlakuan buruk yang diterima di masa lalu. Fyuuh.. rasanya saya pingin bilang, “Cape deeh..!” Kok warga Ahmadi itu nggak ngerti-ngerti, ya?

Karakter Maryam dalam kisah ini terkesan goyah. Sebagai Ahmadi yang menjadi Ahmadi tersebab keturunan, ia mengalami kegalauan. Seperti anak-anak Ahmadi lainnya, saat sekolah mereka takut dengan pelajaran agama yang menyebutkan Ahmadiyah sebagai aliran sesat. Namun lama-lama, kata ‘sesat’ menjadi akrab dalam kesehariannya. Kehidupan sebagai Ahmadi kembali dijalani. Tapi, saat dewasa, keinginan melepaskan diri menggebu lagi. Dan memang Maryam pun kemudian keluar dari Ahmadiyah. Bahkan saat menikah dengan Alam, ia bersyahadat lagi.

Pasca perceraiannya, Maryam tetap bukan Ahmadi. Namun ia sangat kukuh membela keluarga dan kaum Ahmadi lainnya. Hal itu murni dilatari rasa cinta keluarga, dan bukan karena membela keimanan. Sebagai bukan Ahmadi, seharusnya Maryam paham betul, mengapa Ahmadiyah dilarang hidup di negeri ini. Tapi ia menutup mata. Semua berdasar rasa kemanusiaan belaka. Ini cukup mengesankan ambigu. Masalah iman bukan berarti harus minggir ketika kemanusiaan maju ke depan, toh?

Cover buku ini pun terasa kurang nge-klik di hati. Terdapat ilustrasi tokoh Maryam, sebatas pundak. Kenapa harus tanpa busana? Dan tangan Maryam yang menggenggam rumah, kok seperti ada tiga tangan, ya?

Terlepas dari masalah iman dan keyakinan, saya menarik satu pelajaran tentang menjadi orangtua. Betapa hati harus membentang seluas semesta, betapa sabar harus selalu melekat dalam dada, betapa cinta harus melimpah tanpa dipilah. Buah hati yang menjadi tumpuan, yang kepadanya digantungkan sejuta harap, yang digadang-gadang akan menjadi anak baik sesuai ajaran agama yang ditanamkan sejak kecil, setelah dewasa, tak ada lagi kuasa orangtua dalam memengaruhi jalan hidupnya. Orangtua harus siap menghadapi keadaan ketika kenyataan tak sesuai harapan. Di titik ini, saya meyakini dalam diri, sejak sekarang, jangan pernah putus doa dipanjatkan demi keselamatan putra-putri tercinta, terutama keselamatan aqidahnya.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS