Powered by Blogger.
RSS
Showing posts with label Mizan. Show all posts
Showing posts with label Mizan. Show all posts

Memotret Wajah Kaum Urban



 Judul      : Tiada Ojek di Paris
Penulis   : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit : Mizan
Cetakan : 2015
Tebal     : 207 Halaman
ISBN     : 978-979-433-846-9
Kaum urban mengacu pada masyarakat kota modern yang bergerak dinamis. Jakarta, dengan segala dinamikanya menjadi contoh nyata pergulatan hidup kaum urban. Segala permasalahan ibukota berputar bagai lingkaran setan, namun tetap memikat orang-orang untuk mengadu nasib di Jakarta.
Seno Gumira Ajidarma, membincang kaum urban, khususnya Jakarta, dalam Tiada Ojek di Paris. Buku ini memuat esai-esai bernas yang pernah dimuat dalam buku Affair dan Kentut Kosmopolitan, serta majalah Djakarta!. Meski ditulis dalam kurun tahun 2004 - 2013, namun tetap relevan dibaca saat ini.
Termasuk tipe manakah Jakarta? Seno Gumira Adjidarma mengusung teori Barker (2004: 23 -5) yang menyebutkan tiga tipe kota kontemporer, yaitu kategori Inner City, Global City, dan Postmodern City. Setelah menjabarkan ciri-ciri yang mewakili kategorisasi masing-masing, tampak Jakarta lebih condong pada Postmodern City atau Kota Pasca Modern.
Dalam kerangka baru fragmentasi, segregasi, dan polarisasi sosial, kelas menengah mengalami pengerutan, sementara gelandangan, buruh murah, dan siapa pun bergantung pada bantuan dinas sosial, semakin berkembang -- yang berhubungan langsung dengan semakin banyaknya pendatang, dan artinya keberbedaan etnik semakin terasa. Meningkatnya kekerasan dan kriminalitas dijawab dengan kesadaran atas keamanan yang tinggi. Maka wajah kota akan ditandai oleh rumah bertembok tinggi, satpam bersenjata, mall yang selalu dipatroli, kawat berduri dan kamera pengintai (di Jakarta semua ini ada bukan?) (halaman 18)
Selanjutnya seperti apakah manusia Jakarta? Seperti kita ketahui, Jakarta dan macet selalu berpasangan. Kondisi macet yang menyebabkan manusia berada dalam mobil lebih lama, menciptakan sebuah trend baru, yaitu manusia mobil. Di dalam mobil, di tengah kepungan macet, manusia Jakarta bisa melakukan banyak hal. Seorang istri biasa membawa paket kosmetik ringkas, di mana ia mengoleskan pensil alis, membuat bayangan mata, hingga mewarnai bibir dengan rapi. Termasuk makan, membaca koran, mendengar berita, memasang CD, sampai ber-handphone ria. Maka mobil menjadi bukan sekadar sarana transportasi. Transaksi bisnis yang dilakukan melalui notebook mungil yang selalu terbuka, hingga wawancara pun dilakukan di dalam mobil. Tak ayal lagi, mobil adalah dunia ketiga, setelah rumah dan tempat kerja. Di Dunia Ketiga itu dilakukan segala hal yang mungkin --maupun tidak mungkin-- terjadi di Dunia Pertama maupun Dunia Kedua : berkeluarga, bekerja, atau bercinta. Hmmm. Berterima kasihlah pada kemacetan Jakarta. (halaman 23)
Dalam geliat Jakarta, premanisme menjadi sisi gelap yang senantiasa menetap dan menahun. Para preman beraksi dibungkus dengan kostum wajah sangar. Kerja kotor ini berhasil menghimpun rupiah dalam bentuk pungutan liar. Penguasa ‘resmi’ bermunculan menduduki sebuah wilayah untuk ditarik ‘pajak’ alias dipalak atau di-kompas dengan menyebarkan anak buahnya. Namun mengusut lalu membabat para preman ini bukan hal mudah.  Di titik ini, Seno Gumira justru membidik preman dalam bentuk lain. Apakah kita tidak sebaiknya menjadi lebih empet kepada para jawara berdasi yang perusahaannya resmi, tetapi sangat berdaya menilep tanah dan mengakali pajak dengan piawai sekali? Jumlah penilepan mereka inilah yang telah diketahui angkanya oleh Sri Mulyani ketika masih menjadi menteri Mereka tidak bertato, tampangnya tidak sangar fashion-nya pun jauh dari kampungan, tapi mereka inilah yang layak ditembak mati. (halaman 79)
Tulisan menarik lainnya menyoal gaya hidup manusia Jakarta, daerah pinggiran Jakarta, the motorcycle people, kafe dan warung kopi, para pengamen, fenomena mudik, dan beragam permasalahan yang berkelindan di belantara Jakarta. Sesekali dihadirkan juga kutipan yang berasal dari para pemikir kontemporer sekelas Barker, Mauss, Bhaba, dan Saunders.
Buku setebal 207 halaman ini mengajak pembaca untuk mencermati tingkah polah Jakarta dengan gaya santai, ringan, bak obrolan di warung kopi. Pembaca bisa tersenyum, mengernyit, hingga tertawa, yang di ujungnya mengarah pada perenungan tentang makna kehidupan urban yang serba cepat dan mudah berubah. Dari perenungan itulah akan muncul gagasan-gagasan baru yang diharapkan membawa perubahan pada kebaikan.

*) resensi ini dimuat di indoleader.com pada tanggal 3 Februari 2016

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Keajaiban Natal Terakhir Untuk Cecilia



 Judul: Dunia Cecilia
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Juni 2015
Tebal: 216 Halaman
ISBN: 978-979-433-886-5
Natal menyimpan momen-momen istimewa yang selalu dinanti. Pohon natal, kado-kado, sinterklas, lagu-lagu, juga makanan lezat menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak. Di samping suasana khidmat atas kekudusan natal itu sendiri yang dirindukan orang dewasa.
Tidak demikian halnya bagi Cecilia. Gadis kecil ini hanya bisa menghirup aroma natal di tempat tidur di lantai atas rumahnya. Cecilia sakit keras. Namun keluarganya sangat mendukung. Ayahnya membopong Cecilia ke lantai bawah, untuk berkumpul bersama keluarga di dekat pohon natal. Ia mendapat hadiah natal yang diidamkannya, yaitu papan ski dan toboggannya. Padahal dengan sakit berat yang dideritanya, rasanya tidak mungkin Cecilia bisa bermain ski di atas salju.
Ketika kembali ke kamar, Cecilia kembali merasakan sepi. Lalu tiba-tiba ada sosok berjubah putih duduk di depan jendela. Ia menanyakan apakah Cecilia bisa tidur nyenyak. Sosok itu ternyata adalah malaikat. Namanya Ariel. Keduanya lalu asyik mengobrol hingga dibuat kesepakatan, Cecilia memberikan informasi tentang bagaimana rasanya menjadi manusia yang menjalani kehidupan di dunia, sebaliknya Ariel menyampaikan seperti apakah kehidupan di surga.
Cecilia banyak mengajukan pertanyaan, seperti: mengapa malaikat tak punya rambut, apakah malaikat menggosok gigi dan memotong kuku setiap Sabtu, apakah malaikat punya sayap, apakah malaikat merasa capek, dan sebagainya. Begitu pun malaikat Ariel, ia menanyakan tentang ‘rasa’, kata-kata yang keluar dari mulut, perbedaan waktu, rasa sayang antar keluarga, dan lain-lain.
Melalui percakapan itulah, Jostein Gaarder, sang penulis buku ini, memaparkan pemikiran filsafat mengenai kehidupan manusia, hubungan antara Tuhan, manusia, dan malaikat, serta hakikat alam semesta. Pembaca diajak menelusuri hakikat penciptaan alam serta korelasi antar makhluk dilihat dari perbedaan dan persamaannya.
Seperti halnya anggapan umum, Cecilia mengira malaikat punya sayap. Anggapan itu dibantah Ariel. Sayap malaikat hanyalah takhayul kuno yang dimulai pada masa ketika manusia menganggap Bumi ini datar seperti kue dadar, dan bahwa malaikat sepanjang waktu terbang pulang-pergi antara Surga dan Bumi. Sebenarnya tidak sesederhana itu. Burung memerlukan sayap untuk terbang karena mereka terbuat dari darah dan daging. Kami terbuat dari ruh, jadi kami tidak memerlukan sayap untuk bergerak di alam semesta ini. (halaman 84)
Burung yang terbuat dari darah dan daging, tidak berbeda dengan manusia. Dengan malaikat, manusia pun punya kesamaan. Malaikat dan manusia sama-sama punya ruh yang diciptakan Tuhan. Tapi, manusia juga punya badan untuk tumbuh, seperti tumbuhan dan hewan. (halaman 49)
Cecilia menganggap pernyataan tersebut konyol, karena ia tidak ingin disamakan dengan hewan. Namun Malaikat Ariel menjelaskan lebih lanjut. Bahwa semua tumbuhan dan hewan memulai hidup mereka sebagai benih atau sel mungil. Mula-mula mereka sangat serupa sehingga manusia tak bisa membedakannya. Tapi kemudian, benih-benih mungil perlahan berkembang dan menjelma menjadi segala tumbuhan, mulai dari semak berry merah dan pohon plum sampai jerapah. Tapi, tak ada dua manusia yang benar-benar sama, begitu juga binatang. Bahkan, di seluruh dunia, tak ada dua helai rumput yang identik. (halaman 49-50)
Percakapan semakin menarik. Dialog Surga dan Bumi yang menggugah kesadaran. Cecilia yang cerdas selalu mengajukan pertanyaaan-pertanyaan kritis dan melontarkan ide-ide yang mencengangkan. Ia paham bagaimana proses komunikasi yang terjadi di antara mereka berdua. Aku yakin yang kau maksud adalah kau tak mendengar dengan telinga seperti diriku. Kita berdua berbincang kira-kira dengan saling mendengar pikiran kita. (halaman 103)
Ketika Cecilia menanyakan tentang keberadaan surga, Malaikat Ariel memintanya untuk memahami bahwa saat itu ia sudah berada di surga. Cecilia tersentak. Inikah Surga? Malaikat Ariel mengangguk. Menurutmu, kita berada di mana? Bumi hanyalah satu noktah kecil di alam semesta yang mahaluas. (halaman 157)
Cecilia merasa dirinya tak pernah berpikir demikian. Lalu Malaikat Ariel melanjutkan keterangannya. Inilah Bumi Surgawi, Cecilia. Inilah Taman Firdaus tempat manusia. Para malaikat tinggal di tempat-tempat lainnya. (halaman 158).
 Cecilia tetap bertanya. Aku selalu bertanya-tanya di manakah surga berada. Tak seorang pun astronaut pernah melihat Tuhan atau malaikat (halaman 158). Malaikat Ariel menjawab dengan analogi mendalam. Tak seorang pun ahli bedah otak pernah menemukan pikiran dalam otak. Dan, tak seorang pun psikolog pernah melihat mimpi orang lain. Itu tak berarti pikiran dan mimpi tak benar-benar ada di dalam kepala manusia.” (halaman 158).
Seperti buku karya Jostein Gaarder sebelumnya, Dunia Sophie, yang merupakan fiksi terlaris di dunia pada 1995 dan telah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa dunia, Dunia Cecilia pun telah terjual lebih dari 2,5 juta kopi dan telah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa. Buku ini juga memenangi Norwegian Bookseller Prize dan diadaptasi ke dalam film yang juga memenangi Amanda Award, anugerah tertinggi Norwegia pada 2009. Sebuah novel yang layak direkomendasikan karena merupakan perpaduan indah antara fiksi dan filsafat, yang mengajak pembaca pada perenungan mengenai hakikat alam semesta dan penciptaannya. 

*) Resensi ini dimuat di koran Radar Sampit, tanggal 10 Januari 2016 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

And The Mountains Echoed - Dan Gunung-gunung pun Bergema



Judul : And The Mountains Echoed
Penulis : Khaled Hosseini
Penerbit : Quanta - PT Mizan Pustaka
Tebal Buku : 516 Halaman
ISBN : 978-602-9225-93-8
Tahun Terbit : Cetakan Ke-I, Juli 2013

                      Cetakan ke-II, Oktober 2013

Blurb:
Kulihat peri kecil muram
Di keteduhan pohon kertas
Kumengenal peri kecil muram
Yang tertiup angin suatu malam

Abdullah sangat menyayangi Pari, adik satu-satunya. Sejak ibu meninggal dan ayah mereka menikah lagi dengan Parwana, Abdullah menjadi ayah, sekaligus ibu bagi Pari. Bagi Abdullah, Pari adalah bumi, langit, sekaligus semestanya. Dalam kehidupan pedesaan Afghanistan yang keras dan kejam, Pari adalah seberkas cahaya matahari bagi Abdullah.

Lalu, ayahnya menjual Pari kepada pasangan kaya di Kabul demi kelangsungan hidup keluarga mereka di musim dingin. Abdullah limbung, dunianya hancur. Tak ada lagi Pari, tak ada lagi kehidupan.

And The Mountains Echoed, novel ketiga Khaled Hosseini yang menggemakan kehidupan keras di Afghanistan. Lewat novel ini, Hosseini berkisah bagaimana pilihan yang kita ambil akan bergaung hingga ke generasi selanjutnya. Bagaimana cinta yang tulus, akan bergema ke seluruh semesta, memanggil jiwa-jiwa yang kehilangan belahannya. 

Alhamdulillah request buku ini dikabulkan sama Mizan. Udah lama banget pingin baca, baru kesampean sekarang. So, telat yaa review buku ini sekarang. Orang-orang mah udah zaman kapan baca buku ini. It's Ok ae lah, better late than never.. :)

Ini buku kedua karya Khaled Hosseini yang aku baca, meski dalam jejeran karyanya, ini adalah novel ketiga. Yang pertama kubaca, pastilah The Kite Runner. Buku yang mengguncang perasaan, dan susah move on berhari-hari dari buku itu.

Ketika baca buku The Mountains Echoed ini, nggak bisa dipungkiri, aku punya ekspektasi yang paling nggak, buku ini menyamai The Kite Runner. Secara Khaled Hosseini, konon memang ahlinya mengaduk emosi pembaca. Halaman-halaman awal, aku terhanyut. Bahkan mata mendanau, emosi terseret dalam duka yang menyayat. Tapi semakin lanjut ke halaman berikutnya, emosi kurasakan mengendur. Entahlah, aku tidak lagi merasa terikat kuat.

Kisah diawali dengan dongeng yang dituturkan Baba kepada Abdullah dan Pari. Dongeng Baba itu terasa ngilu, tentang seorang ayah yang kehilangan anak kesayangannya. Dan ketika cerita bergerak, kemudian Baba pun mengalami nasib yang sama.

Secara singkat, cerita novel ini adalah tentang Abdullah dan Pari. Bocah kecil kakak beradik dari sebuah kampung miskin di Afghanistan. Desa Shadbagh namanya. Mereka memiliki paman yang bekerja di Kabul, pada keluarga kaya raya, yang tak memiliki anak. Sang nyonya jatuh cinta kepada Pari. Ia ingin memiliki anak cantik dan cerdas itu. Dengan uang berlimpah yang dimilikinya, Pari pun akhirnya menjadi 'anak' di keluarga kaya tersebut, keluarga Wahdati.

Jangan dikira Baba adalah ayah yang kejam karena tega menjual anaknya. Di sinilah letak kekuatan Hosseini. Keterpaksaan akibat kemiskinan yang menjerat serta rasa kehilangan dan rindu yang mencekik, mengakibatkan Baba membenci dirinya sendiri. Perasaan Baba terdeskripsikan dengan sangat baik, sehingga pembaca bisa merasakan kepedihan yang sungguh mengiris itu.

Yang lebih mencelos hati adalah apa yang terjadi pada Abdullah. Separuh jiwanya kosong, hilang bersama kepergian Pari. Bagaimana ia menguntai kenangan tatkala Pari masih di sampingnya, adalah bagian yang menusuk hati. Tak hanya Abdullah, seekor anjing kampung yang setia pada Pari, turut berduka, hingga akhirnya ajal menjemput dalam rindu yang tak berbalas.

Cerita terus berlanjut mengisahkan paman Nabi, yaitu paman yang bekerja pada Keluarga Wahdati. Kemudian orang-orang yang terkait dengan Pari dan Abdullah. Masing-masing dari sudut pandangnya sendiri. Seperti biasa, Hosseini sangat detil mendeskripsikan apa yang terjadi, emosi yang tercipta, serta lekuk setting yang melatari. Keahliannya yang satu ini, tak tertandingi.

Ada kejutan yang muncul dari Tuan Wahdati. Sejujurnya, aku nggak kepikir tentang hal itu. Oh, ternyata Tuann Wahdati itu.......... Ah, aku nggak suka. Lalu Paman Nabi yang ganteng itu hingga akhir hayatnya tidak menikah.. mengapa oh mengapa..

Banyaknya tokoh yang bercerita membuatku agak sedikit merasa kurang nyaman. Aku terlampau jatuh sayang kepada Abdullah dan Pari. Tapi porsi keduanya tidak lebih dominan dibanding tokoh-tokoh lain: Paman Nabi, Nila Wahdati, Parwana, Markos, Pari (anak Abdullah). Tapi aku salut pada Hosseini. Kemampuannya meramu beragam sudut pandang, PoV 3 dan PoV1 dengan banyak tokoh, nggak mengganggu jalan cerita. Semua karakternya tetap ajeg alias konsisten.

Seperti halnya The Kite Runner yang berlatar waktu sangat panjang, demikian pun novel ini. Bermula dari musim gugur 1952 hingga musim dingin 2010. Setting tempat pasti Afghanistan, walaupun ternyata Desa Shadbagh itu fiktif, tapi tentu mencerminkan desa miskin di Afghanistan kala itu. Ada juga Paris dan Yunani. Sudah bisa dibayangkan ya, gimana detil deskripsi yang disuguhkan buat pembaca. Benar-benar memanjakan. Hosseini memang nggak ada matinya untuk urusan ini.

So, nggak nyesel baca buku ini. Meski nggak sedahsyat The Kite Runner, tapi ceritanya apik dengan alur berliku. Kalaupun nanti ada novel keempat yang akan dilahirkan, para pembaca di seluruh dunia pasti akan tetap menantikannya. Khaled Hosseini sepertinya memang punya kemampuan menyihir.



 



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bulan Merah : Kisah Para Pembawa Pesan Rahasia



 Judul                            : Bulan Merah
Penulis                          : Gin
Penerbit                       : Qanita - Mizan
Editor                          : Indradya SP
Tahun Terbit                : Pertama, 2014
Jumlah Halaman          : 256 halaman
ISBN                           :  978-602-1637-33-3

Seorang pejuang kemerdekaan bukan saja mereka yang mengangkat senjata, beradu fisik dengan pihak musuh. Ada juga para pahlawan yang bertaruh dengan nyawanya, demi menyampaikan pesan-pesan rahasia untuk para pejuang pergerakan. Mereka harus mengusahakan agar pesan bisa tersampaikan dengan baik, lalu gegas mengambil balasannya. Semua harus dilakukan dengan cepat, sebelum patroli kolonial datang mengendus lalu menciduknya, yang bisa berujung pada hilangnya nyawa sang pembawa pesan.

Adalah Bulan Merah, sebuah grup musik keroncong, yang mengambil peran sebagai pembawa pesan. Pertunjukan Bulan Merah bukan pertunjukan musik keroncong biasa. Karena beberapa penonton yang datang juga bukan penonton biasa. Para penonton yang tak biasa itu ternyata menyimak dengan saksama lirik lagu Krontjong Padang Bulan yang telah disisipkan pesan di dalamnya. Pesan-pesan rahasia. Pesan-pesan rahasia itu kemudian akan berbalas pesan rahasia lainnya sebelum pertunjukan purna. (halaman 12)

Bulan Merah bermula dari ide Bumi, untuk melanjutkan grup musik keroncong warisan Rawi, yang telah dibekukan sejak Rawi meninggal. Rawi adalah sahabat baik Said, ayah Bumi, yang mengasuh Bumi, dan adiknya Siti, setelah orangtua Bumi dan Siti meninggal saat keduanya masih kecil. Said tewas di tangan patroli Belanda, karena perannya sebagai pembawa pesan. Said adalah salah seorang pembawa pesan terbaik yang dimiliki para pejuang. Entah sudah berapa pesan penting berhasil Said sampaikan. Salah satu pesan terbaik yang berhasil disampaikan adalah pesan dari deri grdung Khatolieke Jongenlingen Bond, Oost-Java Bioscoop, dan Indonesische Club-gebouw. (halaman 57)

Hidup dalam pengasuhan Rawi, seorang pemimpin grup musik keroncong, membuat potensi seni yang dimuliki Bumi dan Siti terus terasah dengan baik. Meski hanya mendengarkan, kemampuan keduanya dalam bermusik, khususnya keroncong, tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan darah seni yang mengalir kuat itu, Bumi dan Siti bertekad menghidupkan kembali grup musik keroncong rintisan Rawi. Bumi ingin menjadikan musik keroncong sebagai alat penyampai pesan rahasia. Tugas mulia ayahnya ingin ia teruskan.

Bumi sudah memikirkan dengan matang, bagaimana cara pesan rahasia itu bisa tersampaikan. Kelompok musik keroncong Rawi terkenal dengan lagu-lagu yang mereka gubah sendiri. Tak pernah sekali pun mereka membawakan lagu milik orang lain. Begitulah pesan-pesan rahasia itu disampaikan. Aku akan menggubah setiap pesan rahasia yang ada dengan menyisipkannya ke dalam lagu. Tidak akan ada yang menaruh curiga karena lirik-lirik dalam lagu itu bias. Tak bisa dicerna begitu saja. Hanya kita yang akan memahami maksud lirik-lirik sandi itu. (halaman 88)

Memang tak semua pesan akan saya masukkan ke dalam lagu. Tentu surat-surat tetap menjadi jalan utama menyampaikan pesan-pesan rahasia. Selama pertunjukan itulah kita harus cepat-cepat bertukar pesan. Bisa lewat kertas-kertas yang dilipat sekecil mungkin. Karena begitu pertunjukan usai, semua pembawa pesan harus sudah meninggalkan tempat. Sekali lagi, harus cepat meninggalkan tempat sebelum patroli menyadarinya. (halaman 89)

Maka dimulailah perjuangan Bumi dan Siti, yang disokong penuh oleh Ratna Melati, vokalis utama grup musik keroncong Rawi pada masa jayanya dulu. Ratna Melati menjadi seperti ibu bagi Bumi dan Siti.

Ternyata tidak mudah menghidupkan kembali grup musik keroncong warisan Rawi. Para pemain utama yang dulu, telah mengundurkan diri karena faktor usia. Sementara para pemain cadangan yang masih berusia muda telah bergabung dengan kelompok musik keroncong lain. Bumi dan Siti pun berjibaku merekrut pemain. Para kandidat banyak yang menolak dengan alasan beragam. Tapi alasan kuat adalah karena peran sebagai pembawa pesan perjuangan. Nyali mereka ciut mengingat bakal berurusan dengan patroli keamanan.

Setelah perjuangan yang melelahkan dalam mencari para pemain yang bersedia bergabung, akhirnya grup musik keroncong bentukan Bumi dan Siti dapat terwujud. Grup musik keroncong tersebut dinamai “Bulan Merah”. Mereka pun memulai pertunjukan sambil membawa misi rahasia, membawa pesan-pesan perjuangan.

Ketika  instrumen agak panjang di tengah lagu dimainkan, dua vokalis “Bulan Merah” tiba-tiba turun dari panggung dan membaur dengan para penonton. Mereka mengajak penonton untuk menari bersama, menikmati alunan musik keroncong. Pada saat itulah pembawa pesan harus maju. Tepat ketika para vokalis mengulurkan tangan seperti hendak bersalaman, mereka harus cepat-cepat saling menukar pesan berupa lipatan-lipatan kecil kertas yang sesegera mungkin harus dimasukkan ke dalam saku baju masing-masing.

Tahun demi tahun berganti. Berbagai kota disinggahi. Berpuluh-puluh pesan telah dikabarkan. Perjuangan “Bulan Merah” tidak selamanya mulus. Seringkali mereka dicurigai dan diinterogasi. Namun pemerintah kolonial kesulitan mendapat bukti yang pasti. Bumi selalu mengatakan bahwa mereka sepenuhnya seniman dan buruh tani milik Rawi.

Kisah perjuangan para pembawa pesan ini menjadi tema yang menarik, karena peran para pembawa pesan sepertinya luput dari catatan sejarah. Sesungguhnya mereka adalah bagian dari perjuangan. Pengorbanannya tak berbeda dengan para pejuang lainnya. Bila ketahuan, tertangkap, ditembak di tempat, atau digantung di tanah lapang untuk disaksikan banyak orang. Hal ini dilakukan kompeni agar masyarakat tak ada yang berani-berani menjadi pembawa pesan.

Konflik dan intrik sepanjang perjalanan sebagai pembawa pesan memberi pengetahuan baru kepada pembaca mengenai situasi zaman pergerakan dulu. Dengan kemasan fiksi yang menarik, dilengkapi unsur romance yang lembut, penulis novel ini berhasil mengantarkan pembaca untuk mengenali sisi lain dari sejarah negeri ini. Selamat membaca!

*) Resensi ini dimuat pada hari Sabtu tanggal 6 Juni 2015 di duajurai.com

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS