Powered by Blogger.
RSS
Showing posts with label romance. Show all posts
Showing posts with label romance. Show all posts

Cinderella Syndrome : Ketika Pernikahan Menjadi Begitu Penting di Mata Perempuan




Judul: Cinderella Syndrome
Penulis: Leyla Hana
Penyunting Bahasa: Woro Lestari
Penerbit: Salsabila - Pustaka Al-Kautsar
Cetakan: Pertama, 2012
Jumlah hal.: 240 halaman
ISBN: 978-602-98544-2-8

Menarik banget deh novel ini. Ceritanya membumi. Mewakili perasaan kaum wanita terhadap lembaga pernikahan. Ada 3 tokoh yang bertutur sendiri-sendiri. Erika, Violet, Annisa. Masing-masing menggunakan PoV 1. Yuk, kita berkenalan dengan ketiganya.

Erika, wanita cerdas, high educated, cantik, sangat menentang pernikahan. Ia tidak mau menikah. Baginya, pernikahan hanya akan membuat susah. Wanita akan terbelenggu pada sebuah ikatan yang mengekang. Dan, cinta, hanya perasaan yang bisa membuat seseorang bertindak bodoh. Seperti ibunya, yang diperlakukan semena-mena oleh ayahnya. Dipoligami, tanpa keadilan. Namun atas nama cinta, ibunya bertahan. Bahkan hingga jiwanya terganggu.

Violet, penulis novel romance yang belum terkenal, bersifat kekanakan meski sudah berusia 25 tahun. Sebagai anak semata wayang yang dimanjakan orangtuanya, ia tumbuh menjadi gadis yang tidak mandiri. Ke mana-mana harus selalu diantar, karena ia bisa dipastikan akan tersesat kalau jalan sendiri. Melihat ibunya yang seorang ibu rumah tangga sejati, Vio merasa ngeri sendiri. Bagaimana mungkin seorang perempuan mengerjakan begitu banyak pekerjaan rumah tangga sepanjang hari?

Annisa, seorang guru TK lulusan D1 berpenghasilan 200 ribu sebulan. Sering digunjing tetangga sebagai perawan tua. Hidupnya serasa tak berarti karena pekerjaannya tak membanggakan orangtua dengan jumlah penghasilan yang minim. Di usianya yang ke-28, ia nyaris putus asa karena merasa dirinya seorang pecundang.

Ketiga tokoh ini tidak saling terkait satu sama lain. Masing-masing dengan konfliknya, yang memiliki benang merah, yaitu tentang kesiapan menikah. Erika, dalam usianya yang kepala 3, merasa yakin tidak akan menikah. Baginya, sulit untuk mempercayai sosok laki-laki sebagai pendamping dan pelindung keluarga. Namun, pernikahan memang menjadi momok terbesar untukku. Rasanya aku takkan pernah siap menghadapinya. Entah kenapa, sepertinya Tuhan memang selalu mempertemukanku dengan wanita-wanita yang mengalami kegagalan dalam pernikahan. (halaman 98)

Violet, gadis berusia 25 tahun itu hanya menulis dan menulis saja yang ada dalam pikirannya. Ia membiarkan saja hidup mengalir apa adanya. Aku tak pernah memikirkan kehidupan selain kehidupan yang sedang kujalani ini. Jadi, menikah? Yang benar saja! (halaman 66)

Annisa, sudah gerah dengan julukan ‘perawan tua’ yang seolah ditahbiskan oleh semua orang kepadanya. Ya, usia dua puluh delapan tahun adalah usia yang rawan untukku. Ibuku pun sudah sangat khawatir karena aku belum juga mendapat calon suami. Aku harus bagaimana? Aku juga ingin menikah, tapi belum ada calonnya. (halaman 71)

Dalam perjalanannya kemudian ketiga perempuan itu berjumpa dengan seorang laki-laki yang mulai merasuki hati. Erika yang terkenal judes dan galak pada makhluk berjenis kelamin laki-laki, tiba-tiba merasakan getaran lain saat interaksinya semakin intens dengan Lukman, rekan kerjanya. Violet, yang selama 25 tahun hidupnya tidak pernah merasakan kisah cinta indah berbunga seperti yang ada dalam novel-novelnya, merasa yakin ketiban cinta pada editornya. Sang editor, Arfan, telah memikat hatinya dan melambungkan mimpi-mimpinya. Lain lagi Annisa, ia menjatuhkan harap pada ayah muridnya, seorang duda keren dan kaya.

Konflik demi konflik terjalin apik. Tidak dibuat-buat dan didramatisir. Semua mengalir dan asik diikuti. Dengan bahasa ringan, renyah, nggak bikin boring, namun tidak kosong makna.

Perpindahan bab selalu membuat penasaran, membuat terikat ingin terus membacanya. Walaupun adegannya biasa, tapi nggak bisa ketebak juga kelanjutannya. Dan endingnya.. hmm.. suka deh.. hehe.. pas sama keinginanku.

Rasanya ini novel yang paling aku suka dari novel-novel Mbak Ela. Paling seru dan paling asik. Bukan berarti novel yang lain nggak bagus lho. Tapi kita kadang punya satu favorit dari deretan yang bagus-bagus kan?

Apa nggak ada kekurangannya novel ini? Nggak juga sih. Antar tokoh kadang terasa masih itu-itu juga. Seperti mendengar suara hati Mbak Ela aja.. haha.. maaap atas kesotoyanku ini, Mbak..

Akhirul kata, novel ini recommended buat lajangers maupun yang udah nge-dobel. Prinsip-prinsip tentang pernikahan juga makna suci sebuah lembaga pernikahan, bisa menjadi ilmu yang mencerahkan para lajangers. Sedangkan buat yang udah nikah, novel ini menyadarkan kembali bagaimana sebuah pernikahan harus dibangun. Dan yang tak kalah penting, bagaimana menempatkan cinta pada tempat yang tepat, sehingga membuahkan kebahagiaan hakiki.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ketika Cinta Membuat Gila




Judul                          :  I Love My Boss
Penulis                        :  Alberthiene Endah
Penerbit                      :  Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku                :  344 halaman
Terbit                         : 2006
ISBN                           :  979-22-1941-2
Blurb:
Salahkah bila sekretaris naksir bosnya sendiri? Semua orang menyikapi itu dengan pandangan menghina. Tapi apa salahnya, jika keadaan itu ditinjau dari cinta sepasang manusia (tanpa embel-embel bos dan sekretaris)?
Setahun bekerja di perusahaan event organizer, Karina Dewi tak bisa mengelak dari pesona bosnya, Rene Natalegawa. Pria muda yang sukses, cerdas, tampan, karismatik.. dan sedang dalam proses perceraian dengan istri yang selama ini menjadi ‘hantu’ baginya.
Celakanya, sang istri, Mariska, mendadak menelepon Karina dan memintanya menjadi ‘mata-mata’ untuk meneropong tingkah polah Rene, dan membantu Mariska mendekatkan lagi hubungannya dengan Rene. Mana cinta yang akan keluar jadi pemenang? Cinta tulus sekretaris atau cinta posesif istri?

Review:
Ini novel lawas, terbitan 2006. Tapi membacanya di tahun 2014, tetap asyik dan nggak terasa out of date. Saya beli novel ini di acara Gramedia Fair. Novel karya penulis kondang dengan harga miring, gimana nggak ngiler..? hehe.. Secara saya belom pernah baca novel karya Mbak AE.

Ternyata emang nggak nyesel beli novel ini. Asyik banget. Saya betul-betul nggak bisa berhenti dari halaman awal hingga akhir, bahkan sampe menerobos jam tidur. Bela-belain deh, abis ini novel membuat saya terkerangkeng dan nggak bisa lepas.

Ini novel ringan yang menyenangkan. Bahasanya segar, ngalir, nggak ribet, nggak main diksi yang susah-susah. Dengan latar Jakarta, bahasanya terasa ngepop dan khas anak Jakarta. Saya jadi teringat temen saya, Mugniar, yang pernah mengeluhkan model bahasa beraroma ibukota. Katanya, kan pembaca tuh tersebar dari Sabang sampai Merauke, nggak semuanya bisa ngerti. Engh.. saya nggak tahu deh kalo dikaitkan sama segmen pembaca yang beragam. Yang jelas, buat saya mah nge-klik banget model yang kayak begini. Ifa Avianty juga suka-suka bercirikan khas bahasa anak Jakarta, kan? Dan novelnya asyik toh?

Jangan berpikir bahasanya yang bahasa model prokem. Tapi maksud saya, gaya becanda dan humor-humornya itu lho. Misal, ada bagian ketika perusahaan EO itu mau bikin acara dengan mengundang artis KD, Ruth Sahanaya, dan diva-diva lainnya. Terus, gagal karena budget yang kritis. Muncullah dialog: Dapet salam dari KD, Uthe, Anggun, sama artis mancanegara! (halaman 131). Nah, itu kan ungkapan kekesalan, bukan dalam arti sebenarnya.

Settingnya juga Jakarta, bangsanya Sogo, Plaza Senayan, Mangga Dua, dan sejenisnya. Nggak ada deskripsi detilnya, dianggap tahu aja kali ya.. Termasuk ketika menyebut-nyebut PS, nggak dijelasin kalau itu Plaza Senayan dan bukannya Play Station.. hihi..

Ok, sekarang kita masuk ke isi cerita, ya. Seperti yang disebutkan di blurb, ini kisah seorang sekretaris cantik yang tak berdaya oleh pesona bosnya sendiri. Namanya Karina Dewi. Tapi dia harus menutup rapat perasaan itu karena statusnya sebagai sekretaris. Bahkan sahabat-sahabatnya sesama sekretaris, Diandra dan Lucia, tak mencium gelagat sama sekali.

Sesungguhnya Karin tersiksa dengan situasi seperti itu. Memendam perasaan dalam-dalam sambil dihantui perasaan bersalah. Bahwa sekretaris dilarang jatuh cinta sama bos sendiri. Tapi Karin nggak bisa berhenti mencintai Rene, dengan segala keganjilan perilakunya.

Penulis novel ini, Alberthiene Endah, seorang pencerita ulung. Saya seakan merasuk ke dalam cerita. Bisa merasakan bagaimana Karin tertekan, oleh perasaannya sendiri, oleh perangai Rene yang membingungkan, oleh tuntutan kerja, oleh teror keluh kesah Mariska-istri Rene, juga oleh sekitarnya. Tapi Karin tidak bisa membaginya kepada siapapun.

Novel ini membuat saya tersenyum, terbahak, tersebal-sebal, bahkan rasanya ikut terhipnotis oleh pesona Rene. Di bagian yang mengharu biru, hati saya ikut nelangsa. Dan di bagian yang bikin gemes, saya jadi gregetan sendiri. Mbak AE ini pinter banget mengaduk emosi.

Sebagaimana novel romance, kisah cinta Karin dibuat dalam plot yang meliuk-liuk. Tapi nggak berasa bertele-tele. Ada banyak hal yang tak terduga. Karena saya membaca novel ini nggak berusaha menebak-nebak, tapi ikut meleburkan diri dalam alur cerita. Jadi ketika Karin tertipu, ya saya ikutan tertipu juga.. haha..

Selain menghibur, novel ini membuat saya merenung. Kehidupan ibukota yang penuh tekanan bisa memunculkan suatu gaya hidup yang bikin geleng-geleng kepala. Bos-bos muda, para eksekutif keren dengan segala pesonanya, sibuk dengan irama kerja yang menyedot waktu. Di sela kesibukan itu, ada celah-celah yang mereka ciptakan untuk sebuah kesenangan semu. Di sisi lain, istri-istri mereka tak kalah sibuk dengan gempita gaya borju yang terus menghembus di dalam komunitasnya. Lalu untuk membunuh sepi yang tercipta dalam hati, para istri itu tidak sedikit yang sama gilanya dengan kelakuan suami mereka. Cowok-cowok berondong sasarannya. Dan menurut salah seorang endorser yang berprofesi sebagai psikolog, realita yang dikhayalkan novel ini cukup banyak mewarnai ruang konsultasi psikolog di kota besar.

Tentang pekerjaan sekretaris, deskripsinya cukup menarik. Sebab, pekerjaan sekretaris adalah pekerjaan kesetiaan, ketekunan, dan keteguhan. Sekretaris bukan show manager yang selalu dihidupkan gempita pekerjaannya yang kreatif. Bukan pula stylist yang selalu bergairah mereka-reka ide. Pekerjaan sekretaris adalah pekerjaan penjaga. Ritme kerjanya menjemukan. Di seluruh dunia, pekerjaan sekretaris sama. Pekerjaan ribet yang tak mendatangkn pencapaian apa-apa kecuali surat-menyurat lancar, bos puas, semua urusan beres, laporan mulus. Satu-satunya kesempatan memilih adalah memilih jenis perusahaan yang ia cintai. Sehingga ia bisa bekerja dengan penuh komitmen (halaman 23).

“Hubungan kerja yang sangat dekat antara pimpinan dan sekretarisnya, kerap menyisakan ruang-ruang yang menyentuh perasaan pribadi. Ruang itu bisa berisi rasa simpati, pengertian, rasa persamaan, dan banyak lagi. Pendeknya ada sisi-sisi pribadi yang akhirnya tergali dan tumbuh subur di luar pekerjaan resmi yang mengikat keduanya. Sesuatu yang sangat manusiawi. Contohnya gue. Irshad itu bos gila. Edan. Psikopat. Gue rasa, di luar gue, semua sekretaris bisa sakit lever kalau kerja buat Irshad.” Lucia tersenyum kecil .“ Tapi waktu akhirnya mengajarkan gue siapa diri Irshad yang sebenarnya (halaman 159).

Buat yang penasaran sama novel ini, kayaknya nggak bisa lagi dapetin di tobuk manapun, mengingat tahun terbitnya yang delapan tahun lalu. Pada tahun terbitnya, 2006, novel ini mengalami cetak ulang dalam waktu empat bulan. Terbukti, memang novel ini disukai. Begitu pun saya, yang baru membacanya pada tahun 2014.

Oh ya, endingnya rada-rada ngegantung. Bagaimana nasib Rene, Mariska, Artha, Wieke...? hmm.. pembaca dipersilakan menyimpulkan sendiri. Yang jelas, Karin telah mengalami pendewasaan sikap. Kayaknya itu yang lebih penting yang ingin disampaikan Mbak AE.



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ketika Cinta Harus Diperjuangkan



 Judul Buku                  :  Only You
Penulis                         :  Mustika Amalia
Penerbit                       :  PT Bentang Putaka
Terbit                           :  Mei, 2014
Tebal Buku                  :  vi + 250 halaman
ISBN                           :  978-602-7888-95-1
Pertama kali melihat cover novel ini yang terbayang adalah cerita yang manis dan lembut.  Berlatar warna putih dengan gambar sepasang tsuru (bangau dari origami Jepang) dan sarang burung bertirai putih dengan gambar hujan, rasanya novel ini perempuan banget. Dan ternyata memang benar, ada stempel bertuliskan Pemenang Lomba Novel ‘Wanita Dalam Cerita’.

Wanita yang menjadi tokoh sentral bernama Alexandra, biasa dipanggil Lexa. Dalam usia muda, 24 tahun, Lexa sudah menjadi wanita yang mandiri dan mapan. Dengan bakat menonjol di bidang fashion, Lexa berhasil mengelola butik miliknya sendiri, Gorgeous Boutique. Namun sukses dalam pencapaian prestasi pribadi ternyata tidak berbanding lurus dengan kondisi keluarganya. Lexa merana karena tidak memiliki keluarga utuh.

Trauma perpecahan ayah ibunya sangat membekas di hati Lexa. Ia mantap memutuskan tidak akan menikah, tidak ingin mengenal cinta, dan merasa tidak butuh lelaki pendamping hidup. Seorang pria mapan plus ganteng, yang berusaha dijodohkan ibunya, ditolak mentah-mentah. Galang, lelaki itu, selama hidupnya selalu dikejar-kejar wanita. Baru Lexa-lah yang menolaknya terang-terangan.

Galang seperti kena batunya. Ia ternyata benar-benar jatuh cinta pada Lexa, dan bertekad untuk meluluhkan kebekuan hati Lexa. Sementara itu, ada Aditya, yang kemudian menelusup halus ke dalam hati Lexa. Awalnya Lexa jatuh suka pada lukisan bertajuk “Ruang Rindu” yang dipajang di sebuah pameran lukisan. Ia berniat ingin membelinya. Namun Aditya, sang pelukis, sama sekali tidak ingin menjualnya.

Drama pun dimulai. Galang mati-matian menginginkan Lexa, sementara Lexa mulai berubah pikiran tentang pilihannya untuk tidak berurusan dengan cinta. Lexa keukeuh mengejar Aditya. Sikap Aditya yang angkuh dan dingin tidak menggoyahkan usaha Lexa. Bagaimana ujung dari cinta segitiga ini, tidak semudah yang diduga.

Saat membaca novel ini, saya merasa sebal sama Lexa. Duh, bukan gue banget. Mengemis cinta pada lelaki? No way deh. Tapi bagi sebagian wanita, memang menunjukkan rasa cinta secara demonstratif itu nggak diharamkan, ya.  Mungkin ini yang disebut perjuangan cinta.

Karakter Lexa sebagai wanita yang keras hati cukup tergambarkan. Betapapun sikap Galang bisa membuat meleleh hati wanita manapun, tapi Lexa bergeming. Teduh tatap mata Galang yang menyihir, tak mampu menembus ke dalam hati Lexa. Hingga kemudian cinta menunjukkan pesonanya. Lexa tak berkutik. Kebekuan hatinya perlahan mencair. Aditya membuatnya berubah pikiran. Yang aku tahu, kamu satu-satunya orang yang bisa membuatku menginginkan lelaki dalam hidupku (halaman 106).

Kerasnya hati Lexa kembali nampak saat ia pantang menyerah menaklukkan hati Aditya. Meski perlakuan Aditya sangat menyakitkan, tak membuat semangat Lexa surut. Yang menjadi pertanyaan, apakah orang yang keras hati ketika menginginkan sesuatu maka ia bersikukuh untuk mendapatkannya, tanpa memedulikan harga dirinya yang terinjak? Sikap Aditya yang keterlaluan, benar-benar tidak menggoyahkan Lexa untuk memenangi hati Aditya.

Sekarang kita bicara tentang Aditya. Awalnya so sweet karena dia begitu setia pada Renata, kekasih yang telah pergi untuk selamanya. Aditya tidak bisa memaafkan dirinya atas kematian Renata, lalu menutup hati rapat-rapat. Tak akan ada lagi wanita yang bisa memasuki hatinya, karena hatinya hanya untuk Renata. Tapi semakin cerita bergerak ke tengah, karakter Aditya tampak goyang. Perubahan suasana hatinya terlalu cepat berganti-ganti.

Sementara itu, Galang, si pecundang yang memiliki karakter sempurna. Ia sangat mencintai Lexa. Ketulusannya terpancar dari pengorbanan demi mendapatkan Lexa. Sosok playboy menjadi lenyap tak berbekas. Kelapangan dadanya saat Lexa dengan jujur berkata bahwa ia tidak akan bisa melupakan perasaaannya pada Aditya, sangat luar biasa. Galang berusaha menerima bahwa Lexa demikian tangguh mempertahankan Aditya. Dan saat Lexa terluka oleh sikap Aditya, ia segera memberikan bahunya untuk Lexa bersandar. Sepertinya karakter Galang memang disiapkan penulis untuk menarik simpati pembaca.   

Sisi lain yang menarik dari novel ini adalah deskripsi setting yang detil dan mendukung cerita. Suasana gunung Gede serta kondisi rinci tentang pendakian, disampaikan dengan fasih. Pembaca betul-betul seperti tengah berada di tengah hamparan edelweiss dengan hawa dingin yang merasuk. Begitu pun setting tempat-tempat lain berada proporsional di dalam cerita. Selain itu, pilihan diksi yang indah turut mempermanis cerita ini.

Hal yang menjadi catatan, yaitu adegan serba kebetulan yang menghiasi cerita. Butik Lexa tidak jauh dari kantor Aditya. Kafe milik Aditya dekat dengan butik Lexa dan menjadi tempat favorit Lexa untuk makan siang. Sasa, pelanggan setia Lexa, ternyata adiknya Aditya, dan beberapa kebetulan lainnya. Meski konflik dibuat agak berputar, namun berbagai kebetulan ini cukup menjemukan.
Selesai membaca novel ini, timbul pertanyaan, apa hubungan sepasang tsuru dan sarang burung yang manis di cover dengan isi cerita? Mengapa  bukan ilustrasi lukisan ‘Ruang Rindu’ atau hamparan edelweiss berlatar gunung dengan nuansa dingin dan muram?

Anyway, novel ini menyemangati pembaca yang sedang berjuang mendapatkan cinta. Meskipun terluka, aku tetap bertahan dengan satu harapan, bahwa suatu saat nanti aku mampu menaklukkan hatimu. Harapan bahwa suatu hari nanti kau akan menjadi milikku. Karena aku memiliki sebuah keyakinan dalam hatiku, bahwa cinta haruslah memiliki! (halaman 2). Di sisi lain, ketika cinta harus pergi, maka pasti akan ada lembaran baru yang menanti. Dia terus melangkah meninggalkan hall, membawa serpihan hatinya. Mulai detik ini dia akan belajar mengikhlaskan jalan hidupnya sesuai kehendak-Nya. Dia yakin akan ada lembaran baru yang telah dipersiapkan untuknya (halaman 246).


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Menyelami Jiwa Anak-anak Panti Asuhan




Judul      : Pangeran Bumi Kesatria Bulan
Penulis   : Ary Nilandari
Penerbit : Qanita - Mizan
Cetakan : Pertama, Juli 2014
Tebal     : 320 Halaman
ISBN     : 978-602-1637-38-8

Tidak semua anak dapat mengecap kebahagiaan hidup bersama kedua orangtua yang menyayanginya. Ada yang ‘terpaksa’ harus hidup di sebuah panti asuhan. Mereka menjalani keseharian bersama anak-anak yang lain yang senasib, di bawah asuhan seorang Ibu Panti. Suka duka mereka jalani tanpa kehadiran orangtua kandung.

Sangat menarik, novel “Pangeran Bumi dan Kesatria Bulan” membidik kehidupan anak-anak panti asuhan. Ada Maylana (Maya), Juno, Augy, Septi, Okta, yang berada di bawah pengasuhan Bunda Wulan. Lima tokoh yang masing-masing memiliki karakter yang kuat.

Selain menyuguhkan kisah cinta yang manis dan lembut yang dialami Maylana (Maya), novel ini kental memuat nilai-nilai humanis. Bunda Wulan yang berhati emas, setulusnya mengasuh, membesarkan, dan mendidik anak-anak yang tak ber-ayah bunda. Ia berjuang tanpa pamrih agar anak-anak asuhnya beroleh kebahagiaan. Dan ketika mereka mendapatkan orangtua yang cocok yang berminat mengadopsi, Bunda Wulan melepasnya ikhlas.

Bunda Wulan mempunyai tradisi yang aneh. Memajang setiap foto anak asuhnya, paling disukai saat berusia tujuh bulan. Lalu ketika seorang anak diadopsi, fotonya akan diturunkan dari dinding, disimpan, dan dilupakan. Seakan dengan demikian, Bunda memutuskan akar panti asuhan dari kehidupan anak tersebut. Secara simbolik, Bunda melepaskan anak itu untuk melupakan asalnya. Anak-anak datang dan pergi, foto-foto baru dipajang dan diturunkan, tetapi foto lima bayi itu, tetap menghuni dinding (halaman 24).

Ketulusan dan keikhlasan Bunda Wulan merepresentasikan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.  Demikian sejatinya seorang ibu. Hanya memberi tak harap kembali. Meski status anak-anak sebatas anak angkat, namun Bunda Wulan mencurahkan segenap kasih sayangnya tak bersisa.

Kegigihan  anak yatim piatu tampil melalui sosok Maylana (Maya). Ia menolak imej anak yatim piatu sebagai anak yang hanya pantas dikasihani. Sejak kecil, sikap mandirinya sudah tampak. Riwayat bekerjanya dimulai sangat dini. Ia menjadi pembaca buku bagi seorang manula, saat usianya sembilan tahun. Lalu bekerja di restoran, pada usia dua belas tahun. Kemudian pada usia tiga belas, pindah kerja di usaha katering disambi menjadi babysitter pada beberapa keluarga. Setelah itu bekerja di salon. Masa SMA, Maylana menjadi guru bimbel. Ia berhasil membeli sedan Baleno bekas dengan tabungannya sendiri pada usia delapan belas. Selepas SMA, Maylana kuliah di Teknik Industri ITB dan tetap menekuni pekerjaan sebagai guru bimbel.

Di luar kebiasaan, dalam statusnya sebagai gadis kuliahan, Maylana sudah mempunyai keinginan untuk mengadopsi.  Ia ingin menjadi orangtua angkat bagi Septi dan Okta. Proses pengangkatan anak secara hukum, dipaparkan dalam novel ini. Aspek legal pengangkatan anak oleh wanita yang belum menikah, dijelaskan dalam dialog Maylana dengan seorang praktisi hukum. Hal tersebut dibahas baik dari sisi umum juga dalam hukum Islam.

Lalu ada sosok Juno, seorang pria tangguh yang mampu menerima kehadiran ibu kandungnya, meski pertemuan mereka terjadi saat usia Juno sudah remaja. Kondisi ibunya yang labil, tidak menggoyahkan rasa sayang kepada ibu kandungnya tersebut. Juno tetap mendampingi dan melindunginya.

Kemudian, anak yatim piatu lainnya adalah si kembar Septi dan Okta. Betapa Septi demikian sayang kepada adik kembarnya yang menderita sindrom Asperger, yang mirip dengan autisme. Sepeti begitu tulus menjaga Okta.

Satu lagi, tokoh anak yatim piatu ini adalah Augy. Kondisinya sangat mengenaskan saat ditemukan ketika masih bayi. Terlahir sebagai bayi prematur, dan dibuang ke tumpukan sampah dengan tali pusar masih melekat. Darah dan air ketuban kering menodai sekujur tubuhnya, yang dibungkus dengan lapisan koran. Di usianya yang ke-14 tahun, kemudian Augy bisa mendapat pekerjaan sebagai pramusaji kafe, yang dilakoninya sepulang sekolah.

Kondisi yang dialami anak-anak yatim piatu yang melewati harinya di panti asuhan kerap tak terlintas di benak. Novel ini menggedor kesadaran pembaca, bahwa mereka ada dan butuh uluran tangan kita agar dapat hidup bahagia selayaknya anak-anak lain yang memperoleh curahan kasih sayang dari orangtua. Mereka dengan segala permasalahan yang mengikutinya, berjuang di tengah kepiluan hati karena merasa terbuang.

Melalui tokoh Okta, pembaca bertambah wawasan mengenai penderita sindrom Asperger, yang merupakan gejala kelainan perkembangan saraf otak. Penyandangnya memiliki kecerdasan dan perkembangan bahasa yang normal, hanya gagap dalam hubungan sosial dan kurang cakap berkomunikasi (halaman 47). Okta juga menderita Hemifacial Micromia. Jenis-jenis kelainan ini mengingatkan pembaca akan arti syukur.

Yang menarik lainnya yaitu penyerangan Augy terhadap sebuah stasiun TV swasta yang menayangkan liputan tentang bayi terbuang. Peristiwa ini melibatkan pihak berwajib dan membutuhkan advokasi dari kuasa hukum. Augy terusik karena liputan itu menampilkan presenter dengan pakaian dan dandanan pesta. Meski sang presenter menyatakan keprihatinannnya, tapi nada dan suaranya bertolak belakang. Wajahnya sering di-close up menampilkan senyum dan binar mata menggoda. Menurut Augy, gambar-gambar yang ditayangkan sangat mengerikan, tapi presenter yang cantik itu membawakan berita dengan nada seakan mengajak penonton menyaksikan karnaval.

Peristiwa Augy itu menggugah kesadaran bahwa hal-hal yang menyedihkan, mengenaskan, memilukan, kerap menjadi santapan media. Sayangnya, ada media yang tidak bertanggung jawab mengenai dampak psikologis yang ditimbulkan dari pemberitaan tersebut. Apalagi bila ditambah dengan cara pembawaan presenter yang miskin empati. Anak-anak yatim piatu yang mengalami kondisi terbuang, justru merasa teriris hatinya.

Novel ini recommended karena selain isinya yang bagus, juga ditulis dengan bahasa yang indah. Kalimat-kalimatnya tidak membosankan dan enak dibaca. Penuturannya runut dan sistematis. Penokohan dengan karakterakter yang kuat menjadi point istimewa dari novel ini. “Pangeran Bumi dan Kesatria Bulan” menggambarkan kekuatan dan semangat, juga kisah cinta yang menggemaskan dengan keharuan yang manis.

Sebaris kalimat yang menyentak tertulis pada halaman awal novel ini : Terbuangkah aku? Mengapa? –anonim di dalam kardus di tempat sampah.

#Resensi ini dimuat di media smartmomways.com pada tanggal 7 Oktober 2014

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS