Powered by Blogger.
RSS

Cinta Beda Kasta



 Sebuah novel kembali lahir dari tangan Iwok Abqary. Lagi-lagi bergenre romance. Setelah sukses dengan ‘Laguna’ yang membawa bendera amore, Iwok Abqary kini menapaki jalur teenlit. ‘Dandelion’ adalah kisah cinta yang manis namun tidak melulu idealis.

Bagi yang baru mendengar kata ‘dandelion’ tidak usah mengernyit, karena cover novel ini sudah berbicara. Yup! Dandelion adalah sejenis bunga liar yang bila ditiup akan beterbangan bulu-bulunya. Bunga ini sangat disuka oleh Yara, tokoh utama novel ini. Dan bunga dandelion tidak sekadar menjadi tempelan dalam novel ini. Ia menapasi alur kisahnya.

Cerita dibuka dengan adegan kepergian Yara ke Singapura yang diliputi kesedihan. Hatinya tertinggal di tanah air. Ia tak ingin berpisah dengan Ganesh. Namun kehendak ayahnya tak mungkin dilawan. Yara terpaksa menurut ketika didaftarkan kuliah di negeri singa.

Kisah cinta Yara dan Ganesh bagai kisah dalam dongeng. Yara, si cantik nan kaya raya, menjalin kasih dengan Ganesh, si tampan namun miskin papa. Tetapi cerita cinta ini disampaikan begitu nyata, membawa saya berpikir pada sisi realistis sebuah romansa.

Yara bersikeras menepis jurang perbedaan di antara mereka. Baginya Ganesh adalah lelaki yang dicarinya. Tapi Ganesh juga bersikukuh dengan pendapatnya.

Ganesh adalah lelaki terbaik yang aku kenal. Dia sangat bisa menghargai perempuan bak porselen. Selama kami bersama, kapan dia pernah berani memeluk atau menciumku? Belum pernah. Dan nilai lebihnya kutambahkan karena itu. (halaman 31-32)

Tidak, Yara, hidupmu terlalu indah untuk kuhancurkan. Kamu berada dalam gelimang keindahan dan kemewahan. Apa yang kamu cari dari sosokku? Aku terlalu biasa dalam segala kriteria. Jangan karena rasa sukamu lantas kamu menutup mata dan telinga. (halaman 24)

Selanjutnya Yara berkubang dalam kesedihan karena tak kunjung menemukan jejak Ganesh. Dari Singapura, ia terus mengontak kawan-kawan SMA-nya di Jakarta demi mendapat informasi tentang keberadaan Ganesh. Poor Yara, segala usahanya nihil hasil.

Sementara itu, sosok pria lain, Bryan, mulai mencoba masuk dalam kehidupan Yara. Ia sudah lulus kuliah dan sedang magang di sebuah penerbitan di Singapura. (belakangan saya tahu, mengapa Iwok Abqary memilih bidang penerbitan sebagai bidang yang digeluti Bryan)

Meski Yara mulai dekat dengan Bryan, namun hatinya masih bimbang. Sosok Ganesh masih lekat dalam ingatannya. Pada saat yang sama, Ganesh pun tak kurang memendam rindu pada Yara. Namun ia tetap merasa, mencintai dan merindukan Yara adalah sebuah kesalahan. Maka segala pilunya ditumpahkan dalam tulisan yang kemudian mewujud sebuah novel. Atas saran Laras, sahabat Ganesh, tulisan itu dikirimkan ke penerbit. Laras-lah yang menyemangati dan mendukung Ganesh. Ketulusan dan kebaikan Laras pun dimasukkan Ganesh ke dalam bagian akhir novelnya.

Setelah menunggu sekian lama, tulisan Ganesh di-acc, lalu diterbitkan. Novel itu berjudul “Dandelion”. Ganesh mengabadikan bunga yang sangat disuka Yara, sebagai judul novelnya.

Ternyata novel itu meledak di pasaran dan menjadi best seller. Ketika Bryan berkunjung ke Jakarta untuk urusan kantor, ia membelikan novel itu, karena tahu Yara sangat suka pada dandelion. Dan benar, Yara langsung jatuh cinta pada kover novel itu yang latarnya hamparan padang bunga penuh dandelion.

“Novel itu lagi best seller lho. Dalam lima bulan cetak ulang tiga kali. Prestasi hebat untuk penulis baru.”
“Kok tahu?”
“Yara, aku kerja di dunia penerbitan. Hal-hal seperti buku ‘best seller’ , apalagi di negara sendiri, sudah semestinya aku tahu. Buku itu ramai dibicarakan.” (halaman 97)

Nah, itu rupanya alasan Iwok Abqary untuk menempatkan Bryan pada bidang penerbitan. Agar logika cerita terjaga. Good job.

Setelah sekian lama menyembunyikan identitas diri melalui nama pena: Alang, akhirnya Ganesh membuka akun twitter, mengikuti saran editornya. Yara pun berhasil menemukan jejaknya, dan tanpa basa-basi langsung menodong pertanyaan: apakah Alang adalah Ganesh. Tentu saja Ganesh berkelit. Yara semakin penasaran.

 Alur kisah Dandelion terlalu mirip dengan kisah yang pernah kualami. Kalau Anda bukan Ganesha Arwan, lalu ada hubungan apa Anda dengan dia? (halaman 125) --ini tulisan pada twitter, dan ternyata tidak lebih dari 140 karakter, wow.. kecermatan yang patut diacungi jempol--

Bunga dandelion itulah yang kemudian menghubungkan kisah cinta ini. Ia bukan semata bagian dari kenangan Yara dan Ganesh, tapi dalam rentang jarak dan waktu yang terpisah jauh, keduanya terhubung oleh dandelion.

Novel ini mengusung kisah cinta beda kasta. Sebuah kisah klasik. Namun ia tampil beda. Bukan cerita cinta yang cengeng, bukan pula bertabur mimpi ala dongeng khas sinetron. Membacanya, saya seperti dipampangkan pada sisi realita kehidupan. Bahwa hidup adalah pilihan. Cinta memang milik siapa saja. Tapi berpijak pada kenyataan, tidak lantas menjadikan cinta berkurang kadarnya.

Ada dua pilihan. Yang pertama, keukeuh mempertahankan cinta tanpa memedulikan jurang perbedaan yang menganga lebar. Resikonya, tentu butuh usaha yang sangat keras, yang akan menyedot banyak energi, dan bukan tidak mungkin membuat berdarah-darah.

Pilihan kedua, berpikir realistis dan berdamai dengan keadaan. Melepas cinta, lalu membina hubungan baru dengan seseorang yang lain yang lebih sepadan. Ini jalan aman yang juga tidak mudah.

Masing-masing pilihan memiliki konsekuensi. Dan kita harus belajar menghargai apa pun pilihan yang ditempuh. Di sinilah saya merenungi bahwa jalan cinta pada setiap orang tidak bisa disamaratakan.

Maka novel ini sangat menarik. Dengan menggunakan dua sudut pandang bergantian antara Yara dan Ganesh, membuat pembaca lebih bisa merasakan gejolak emosi masing-masing tokoh. Dan meski penulisnya laki-laki, pada bagian Yara, sisi keperempuanannya terolah dengan baik. Namun sepertinya posisi Yara lebih dititikberatkan, sehingga Ganesh agak sedikit ‘terlupakan’ pada bagian dia pasca lulus SMA. Tidak terlalu diperlihatkan apa aktivitas Ganesh, sebelum ia menemukan jalannya, pada menulis.

Deskripsi setting cukup detil dan meyakinkan. Beberapa bagian Singapura dikuasai Iwok Abqary dengan baik. Demikian juga dengan deskripsi tokoh, tergambarkan jelas. Ganesh yang cakep dan baik dengan kesederhanaannya, Yara yang cantik dan tidak sok kaya meski berayah pengusaha hebat, lalu Bryan yang ganteng dan mapan serta dewasa.

Dengan label teenlit, Dandelion bukan sekadar cerita remaja penuh suka-suka. Ia paket komplet. Selain sisi remaja yang riang, ada sisi romansa yang menyentuh, sisi humanis, juga sisi motivasi. Semua menyelusup halus di sekujur kisah. Ini menjadikan Dandelion sebagai novel yang recommended.

Judul                          :  Dandelion
Penulis                        :  Iwok Abqary
Penerbit                      :  PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku                :  200 halaman
Cetakan                      : Pertama, Mei 2014
ISBN                           :  978-602-03-0431-1

#Resensi ini terpilih sebagai Resensi Pilihan Gramedia




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Semangat Ukhuwah di Negeri Orang



 Judul Buku: The Dream In Taipei City
Penulis: Mell shaliha
Penerbit: Indiva
Terbit: Februari 2014
ISBN: 978-602-1614-16-7
Tebal: 360 hal

Memulai hidup di negeri orang tanpa pengalaman sebelumnya, tentu menimbulkan perasaan gimir dan khawatir. Terutama bagi muslimah berjilbab, yang menjadi minoritas. Apalagi tidak adanya kawan dari tanah air, akan membuat perasaan takut lebih mendominasi.

Ella Tan, tokoh utama dalam novel “The Dream in Taipei City”, mengalami nasib seperti itu. Ia seorang diri melangkah ke Taiwan, mengikuti ayah kandungnya yang asli warga negara sana. Sejak perceraian kedua orangtuanya di masa kecil, Ella hidup bersama ibunya, kembali ke Pulau Jawa. Namun menginjak usia 17 tahun, Ella harus tinggal bersama ayahnya di Taipei. Demikian bunyi kesepakatan antara ayah dan ibu Ella.

Meski tidak persis pada usia 17 tahun, karena menyelesaikan dulu sekolah dan kuliah diploma tiga di Indonesia, Ella menemui ayahnya pada usia 22 tahun. Dengan usia yang cukup dewasa, Ella tetap merasa asing di tanah kelahirannya. Apalagi keluarga ayahnya bersikap dingin, sama sekali tidak bersahabat. Istri baru ayahnya dan kedua saudara tirinya tidak menganggap Ella sebagai keluarga. Sedangkan ayahnya sendiri pun sangat pendiam.

Beruntung Ella berjumpa dengan kawan-kawan sesama orang Indonesia yang sangat ramah dan menerimanya penuh kekeluargaan. Selain itu, ada juga teman baiknya, mahasiswa asal Korea bernama Kim Hae Yo, seorang drummer. Berbagai kesulitan yang dihadapi Ella, banyak dibantu oleh teman-temannya.

Kegundahan dialami Ella saat ia menyadari telah jatuh hati kepada dosen mudanya yang tampan bernama Marcell Yo. Namun ia berusaha menepis dan mengingatkan diri untuk serius kuliah tanpa terganggu oleh hal-hal beraroma asmara. Akhirnya Ella mengetahui bahwa Marcell Yo menjalin cinta dengan Miss Wang. Sementara itu, Kim Hae Yo rupanya menaruh hati kepada Miss Wang yang merupakan lawan mainnya dalam kolaborasi pagelaran musik, di mana Miss Wang adalah seorang pemain musik tradisional, guzheng.

Selanjutnya kisah mengalir dengan dinamis. Perjuangan Ella berjibaku dengan kondisi di Taipei yang serba baru, interaksi dengan lingkungan kampus Universitas Nasional Taiwan, proses adaptasi yang tidak mudah, serta letupan-letupan asmara yang harus dikendalikan.

The Dream in Taipei City, memperlihatkan manisnya persahabatan sesama kawan sebangsa setanah air. Sikap bersahabat pada diri Adrian, senior Ella di kampus, patut diacungi jempol. Ia memperkenalkan Ella pada komunitas mahasiswa asal Indonesia. Dalam kondisi jauh dari keluarga di tanah air, maka kawan-kawan sesama Indonesia adalah keluarga terdekat yang menjadi tumpuan. Setelah beberapa jam mengobrol dengan teman-teman Adrian yang saat itu sudah menjadi teman Ella juga, Ella merasa mereka sangat ramah dan memanusiakannya. (halaman 51)

Dalam situasi apa pun, Ella tidak pernah meninggalkan kewajiban shalat lima waktu. Sikap religiusnya itu tanpa disadari menjadi syi’ar dakwah. Sahabatnya, Kim Hae Yo, tergugah oleh ketaatan dan kekhidmatan Ella dalam beribadah. Terima kasih atas kebiasaan-kebiasaanmu yang kau perkenalkan kepadaku. Terutama kebiasaanmu menjalankan ibadah, menyembah Tuhanmu. Dari situ, aku berpikir bahwa peran Tuhan sangat penting untuk kehidupan kita. (halaman 278). Nyatalah bahwa teladan dalam bersikap, lebih efektif mempengaruhi seseorang ketimbang ceramah berpanjang kata.

Pertemanan Ella pun terjalin dengan sesama muslimah dari negara lain, India, Malaysia, dan lainnya. Walau berbeda bangsa dan berlainan tingkat serta jurusan kuliah, namun ikatan ukhuwah demikian erat sehingga silaturahmi di antara mereka mengukuhkan hubungan persaudaraan sesama muslim. Bagian ini menyiratkan pesan bahwa di belahan bumi mana pun kita berpijak, perjumpaan dengan saudara seiman seyogianya meningkatkan ukhuwah Islamiyah dengan baik.

Kekuatan lain dari novel ini adalah pemaparan deskripsi setting yang detil dan menarik. Suasana Taipei benar-benar seperti dihadirkan di depan mata pembaca. Bagian ini pun menjadi informasi yang membuka wawasan. Bagaimana situasi kampus, mesjid, pertokoan, moda transportasi, apartemen, kuliner, budaya masyarakat, kondisi cuaca dan alam, semua disampaikan rinci namun tidak bertele-tele. Ia menyatu dengan cerita, sehingga tidak terkesan sebagai information dump.

Di luar kehidupan kampus, ada sisi lain yang menyentuh, yaitu kisah Ella dan Papanya. Terpisah sekian lama, karena perceraian akibat keluarga Papa Ella yang tidak menyetujui pernikahan dengan Mama Ella yang TKI, membuat hubungan ayah-anak itu menjadi kaku. Terlebih lagi pembawaan Papa Ella yang pendiam, menjadikan ikatan mereka tidak hangat sebagaimana orangtua dengan anak. Namun, dalam diamnya, Papa Ella menunjukkan tanggung jawab dan perhatian yang sungguh tidak disangka Ella. Hal itu memberi kekuatann baginya. Ia pun lantas menyadari betapa ayahnya itu sangat menyayanginya, dan Ella bisa merasakan kalau ayahnya masih juga sayang dan merindu pada ibunya.

Secara keseluruhan, novel ini sangat layak direkomendasikan untuk dibaca kalangan muda. Kerja keras yang ditunjukkan para mahasiswa  dalam meraih impiannya, patut diteladani. Dalam keceriaannya, mereka berjuang dengan kesadaran untuk tidak mengecewakan harapan orangtuanya. Kesungguhan mereka dalam memperjuangkan masa depan yang baik, merupakan cerminan sikap positif yang harus dimiliki generasi muda.

#Resensi ini dimuat di media edakwah pada hari Minggu, 18 Mei 2014

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ketika Cinta Terbentur Jarak



 Judul Buku : LDR #Crazy Love
Penulis        : Riawani Elyta, dkk
Penerbit      : Bentang Belia
Terbit          : Desember 2013
Tebal          : vi + 194 Halaman
ISBN           :  978-602-7975-72-9

Bagi muda-mudi yang tengah menjalin cinta, senantiasa berada di dekat pasangannya menjadi hal yang paling diinginkan. Sebaliknya, bila harus berjauhan, akan menjadi hal yang paling ditakutkan. Bagaimana tidak? Dengan jarak yang terbentang, aneka konflik bisa bermunculan. Meski komunikasi zaman kini sudah demikian canggih, namun perjumpaan fisik secara langsung tetap lebih disukai. Penggunaan alat komunikasi pun berimplikasi dengan biaya, sehingga berbicara tidak terlalu bisa leluasa. Maka cinta jarak jauh atau lebih gaya disebut Long Distance Love alias LDR, potensial menjadi momok yang ditakuti banyak pasangan.

“LDR #Crazy Love” merupakan kumpulan cerita bertema hubungan cinta jarak jauh. Beragam masalah yang timbul menjadi konflik apik yang dituangkan dalam jalinan cerita yang renyah dan manis. Keraguan, perdebatan, janji kesetiaan, keputusasaan, pengkhianatan, penantian, mewarnai kisah ini. Bagaimana keyakinan, keteguhan, kemantapan, kepercayaan, serta rasa tak ingin kehilangan, menjadi penguat bagi pasangan yang menjalani Long Distance Relationship.

Ada lima cerita yang ditulis oleh lima penulis, dalam buku ini. Masing-masing membawa warna sendiri-sendiri. Diawali dengan cerita berjudul “Chococherry Chocolate” yang ditulis oleh Ayuwidya. Seperti judulnya, kisah ini semanis chococherry chocolate. Dengan gaya bahasa yang renyah, cerita ini asyik dikunyah.

“Chococherry Chocolate” mengisahkan seorang cewek manis berpostur lebar alias gemuk, bernama Salsa. Ia bersahabat dengan Carlo, dan menjalin cinta dengan Marvel. Kisah ini dituturkan dengan lincah ditingkahi bahasa segar yang menggelitik, membuat pembaca spontan tersenyum-senyum. Meski ceritanya klise, namun Ayuwidya berhasil meracik kisah ini menjadi kisah yang kuat. Ia membuat pembaca tersenyum geli, merengut kesal, mencelos pilu, membuncah suka, pokoknya bikin geregetan.

Kutipan yang menarik digarisbawahi dari cerita ini adalah: Untukku, sekedar jarak tak bisa membuat dua hati menjadi jauh. Pengkhianatanlah yang membuatnya. Tidak hanya menciptakan jarak, tapi juga sekat. Dunia bisa menciptakan segalanya untuk meniadakan jarak, tapi tak bisa menghapus sekat itu. LDR tidak hanya cukup saling percaya, tapi juga bagaimana menjadi orang yang bisa dipercaya. (halaman 43)

Kisah menarik lainnya berjudul “Smiles” yang ditulis oleh Elsa Puspita. Tentang Arine dan Biru yang terpisah jarak antara Malang-Jakarta. Arine kuliah di Sastra Inggris, Malang, sedang Biru di Teknik Elektro, Jakarta. Keduanya menjalani LDR dengan sandungan-sandungan yang khas, seperti: rindu yang menyiksa, pertengkaran-pertengkaran yang seharusnya tidak perlu, ketidaksesuaian waktu luang, kesibukan agenda masing-masing, dan semacamnya.

Biru yang piawai dalam merakit robot, kerap mengikuti lomba yang menguras waktu, tenaga, dan pikiran, sehingga tidak jarang perhatian kepada Arine pun berkurang. Hal serupa ini bisa menjadi pemicu ketegangan hubungan mereka. Yang lebih buruk lagi, ternyata kemudian Biru mendapat beasiswa ke Kyoto, Jepang.

Perjalanan LDR Arine-Biru terasa sangat natural. Memang begitulah kejadiannya. Dialog-dialognya pas, tidak mengada-ngada. Kemanjaan dan keputusasaan Arine tersampaikan dengan baik, begitu pun kedewasaan dan kesungguhan Biru. Cerita “Smiles” ini menyemangati pasangan yang akan dan tengah menjalani LDR. Quote pada kisah ini: There is always a smile, among thousands of miles.

Satu lagi kisah yang mewakili dari buku ini adalah yang ditulis oleh Riawani Elyta, berjudul “Rancho”. Tidak sekadar kisah cinta, namun di dalamnya terekam kisah kelam negeri ini saat kerusuhan melanda pada kisaran tahun 1997. Melvina, seorang gadis keturunan Tionghoa, terpaksa merelakan kuliahnya di Singapura harus kandas, karena keluarganya terkena imbas krisis moneter kala itu. Toko milik ayahnya dibakar massa, dan kehidupan mereka terus merosot jauh.

Saat kuliah di Singapura itulah, Melvina bersahabat baik dengan mahasiswa jurusan IT asal Indonesia juga, bernama Ryan, atau lebih dikenal dengan panggilan Rancho. Meski lain jurusan, dan segudang perbedaan lain, keduanya tetap akrab. Kebersamaan yang sebatas teman, tanpa embel-embel asmara.
Ketika Melvina kembali ke tanah air, komunikasi tidak berjalan mulus. Awalnya Melvina masih bisa membalas surel dari Rancho, namun seiring kondisi yang memanas, tidak memungkinkan baginya untuk bisa membuka internet lagi. Komunikasi pun terputus sepihak.

Berbilang tahun kemudian, Melvina bisa lagi membuka internet, dan mendapati ratusan surel dari Rancho. Melvina terharu menyadari betapa Rancho tetap berusaha berkomunikasi dengannya. Namun ketika Melvina datang ke Singapura, ia tidak dapat berjumpa dengan Rancho. Ada masalah berat yang menyeret Rancho ke meja hijau, terkait kasus yang melibatkan dirinya dengan dosen pembimbingnya. Penemuan hebat Rancho di bidang IT ditengarai menjadi penyulut kasus ini.

Maka kisah penutup dalam buku ini bukan kisah cinta biasa. Beberapa muatan yang cukup berat bisa masuk ke dalam cerita tanpa mengurangi sisi romansanya. Perjuangan Rancho saat LDR dengan Melvina memperlihatkan kekuatan cinta yang sesungguhnya.

Dua kisah lainnya yaitu “Don’t Stop Believing” karya Christina Juzwar, dan “Inseaparable” karya Anjani Fitriana. Keduanya melengkapi rangkaian kisah LDR ini sebagai buku yang asyik dinikmati. Dan, bagi para pelaku LDR, nikmatilah episode berjauhan yang tengah dijalani. Bagaimanapun ditiadakan, jarak akan tetap ada. Tetap semangat!

#Resensi ini dimuat di media rimanews.com pada hari Minggu, 18 Mei 2014

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Di Balik Intrik Pusaran Kekuasaan Istana




Judul Buku                :  Citra Rashmi : Konspirasi Putri Mahkota
Penulis                        :  Tasaro GK
Penerbit                      :  Qanita (imprint PT Mizan Pustaka)
Terbit                         :  Cetakan Pertama, September 2013
Tebal Buku                :  624 halaman
ISBN                           :  978-602-9225-99-0
Harga                         :  Rp. 79.000

Ada dua hal yang selalu diusung Tasaro GK dalam novel-novelnya, yaitu: keindonesiaan dan keislaman. Sebut saja tiga novel terakhirnya dengan genre berbeda, Galaksi Kinanthi (romance), Nibiru (fantasi), Citra Rashmi (fiksi sejarah). Kedua unsur tersebut menyelusup mengalir halus dalam bangun cerita.

Citra Rashmi, adalah novel dengan eksotika nusantara yang kental, yang diwarnai kisah persilatan kolosal dengan jurus-jurus yang hebat. Berlatar sejarah masa silam, kisah ini mengurai tragedi Perang Bubat, yang ketika itu sekeluarga penguasa Tanah Sunda dibantai pasukan Gajah Mada. Tasaro, dengan lihai mengisi celah fiksi pada kisah epik ini. Citra Rashmi sebagai putri Raja Sunda, melakukan konspirasi rumit demi rencana besar yang digagasnya. Citra Rashmi berhadapan dengan pusaran kekuasaan antara Raja Sunda dan pemberontak kerajaan paling berbahaya: Yaksapurusa.

Diawali dengan kisah Citra Rashmi ketika berusia 10 tahun, saat diculik Yaksapurusa. Keadaan yang genting dan mencekam itu diakhiri oleh aksi Purandara, anak tunggal Yaksapurusa, yang menyelamatkan Citra Rashmi dengan cara meloloskannya. Kenangan masa kecil itu terekam dengan baik dalam benak keduanya. Bahkan Citra Rashmi memiliki nama panggilan khusus: Boneka Kayu, yang hanya Purandara memanggilnya demikian.

Masih dalam usia kecilnya, Citra Rashmi dikirim ayahnya, Raja Linggabuana, berguru kepada Candrabhaga, pemimpin padepokan ternama di Kawali. Di sana, Citra Rashmi belajar filsafat, sastra, dan tentu ilmu kanuragan. Meski sesungguhnya, ia dikirim untuk dijadikan mata-mata, namun berkat kecerdasan dan bakat kanuragannya, Citra Rashmi, yang menggunakan nama samaran: Sannaha, menjadi murid kesayangan Candrabhaga.

Kecurigaan Linggabuana sangat besar. Bahwa pokok-pokok ajaran Candrabhaga akan mengancam posisi kekuasaannya. Lantas padepokan tersebut dibumihanguskan. Candrabhaga pun kemudian hengkang dari Kawali, dan menepi ke lereng Pangrango.

Berbilang tahun kemudian, Citra Rashmi tumbuh menjadi gadis remaja dengan kecantikan memukau, serta menguasai ilmu kanuragan tingkat tinggi. Kisah kemudian bergulir penuh dinamika. Citra Rashmi membela mati-matian Candrabhaga saat digempur pasukan Yaksapurusa, lalu berkobar tekadnya untuk membalaskan dendam atas kematian guru tercintanya itu. Dalam rentang waktu tersebut, Citra Rashmi kembali bertemu dengan Purandara, dengan julukan Elang Merah, yang telah menjadi satu dari empat pilar Yaksapurusa. Ketiga pilar lainnya yaitu: Harimau Emas, Merak Hitam, dan Kuda Putih.

Di dalam lingkungan kerajaan, Citra Rashmi harus berhadapan dengan selir terkasih ayahnya, Pwhaci. Sang selir memiliki pengaruh kuat dalam penetapan kebijakan raja. Hal itu menjadi sumber kebencian Citra Rashmi, yang membuat hubungan mereka tidak harmonis. Citra Rashmi mengendus ambisi Pwhaci untuk memuluskan jalan bagi putranya, Bayutala, menduduki kursi pewaris tahta kerajaan.

Citra Rashmi pun beradu siasat dengan Pwhaci. Rencana-rencana yang disusun oleh masing-masing, kemudian akan saling berbenturan dan saling mengalahkan. Intrik yang penuh taktik cantik.

Pergulatan konflik sepanjang novel ini, dituturkan Tasaro dengan apik. Berbagai kejutan disiapkan dengan rapi. Plant harvest tertata cermat. Alur pun bergerak dinamis. Banyak hal yang tidak disangka-sangka terjadi dalam dunia persilatan, musuh dalam selimut pun hadir tak terduga.

Candrabhaga sebagai tokoh panutan yang lurus, disiratkan membawa ajaran Islam. Ajaran tua yang dibawa Candrabhaga dari Pase itu mengajarkan tata hidup yang tertib dan harmoni antara manusia dan alam (halaman 64). Lebih jelas lagi menyisipkan pokok aqidah, dalam petikan berikut: Ajaran ini meyakinkan penganutnya bahwa Tuhan adalah tunggal, dan tak berbagi dengan tuhan-tuhan yang lain dalam mengatur alam semesta. Ajaran baru itu juga menghapus kasta sebab derajat semua manusia sama. Ajaran yang dibenci oleh sebagian kalangan kerajaan ini juga mewajibkan cara penyembahan yang tidak biasa. Tanpa dupa, penganut ajaran ini akan berkomat-kamit selama beberapa waktu, menghadap ke Barat, berdiri, membungkuk, lantas menempelkan kening mereka ke Bumi. Gerakan-gerakan mistis seperti itulah yang baru saja diselesaikan Candrabhaga. Wajahnya masih basah oleh air yang menyucikan seluruh tubuhnya setiap hendak melakukan persembahyangan (halaman 198)

Romansa yang mengalun dalam kisah ini, lain dari kisah percintaan biasa. Terasa dingin tanpa taburan kata-kata mesra. Tidak pula ditingkahi dengan tatapan penuh cinta yang dibalas dengan wajah tertunduk, tersipu malu. Apalagi kontak fisik, semacam berpegangan tangan dan berangkulan, sama sekali tidak ada. Namun pembaca bisa merasakan kuatnya perasaan kedua insan itu. Bahkan terhanyut dalam arus cinta mereka yang misterius.

Sebagai novel dwilogi, buku pertama ini sudah mengikat pembaca dengan kisah yang menegangkan dan membuat penasaran, sehingga kehadiran buku kedua akan sangat dinantikan. Semoga buku kedua nanti, ditandai dengan cover yang lebih menawan. Karena pada buku pertama ini, penampakan covernya kurang eye catching.

#Resensi ini dimuat di nabawia.com pada hari Senin, 12 Mei 2014

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS