Powered by Blogger.
RSS

Keajaiban Natal Terakhir Untuk Cecilia



 Judul: Dunia Cecilia
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Juni 2015
Tebal: 216 Halaman
ISBN: 978-979-433-886-5
Natal menyimpan momen-momen istimewa yang selalu dinanti. Pohon natal, kado-kado, sinterklas, lagu-lagu, juga makanan lezat menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak. Di samping suasana khidmat atas kekudusan natal itu sendiri yang dirindukan orang dewasa.
Tidak demikian halnya bagi Cecilia. Gadis kecil ini hanya bisa menghirup aroma natal di tempat tidur di lantai atas rumahnya. Cecilia sakit keras. Namun keluarganya sangat mendukung. Ayahnya membopong Cecilia ke lantai bawah, untuk berkumpul bersama keluarga di dekat pohon natal. Ia mendapat hadiah natal yang diidamkannya, yaitu papan ski dan toboggannya. Padahal dengan sakit berat yang dideritanya, rasanya tidak mungkin Cecilia bisa bermain ski di atas salju.
Ketika kembali ke kamar, Cecilia kembali merasakan sepi. Lalu tiba-tiba ada sosok berjubah putih duduk di depan jendela. Ia menanyakan apakah Cecilia bisa tidur nyenyak. Sosok itu ternyata adalah malaikat. Namanya Ariel. Keduanya lalu asyik mengobrol hingga dibuat kesepakatan, Cecilia memberikan informasi tentang bagaimana rasanya menjadi manusia yang menjalani kehidupan di dunia, sebaliknya Ariel menyampaikan seperti apakah kehidupan di surga.
Cecilia banyak mengajukan pertanyaan, seperti: mengapa malaikat tak punya rambut, apakah malaikat menggosok gigi dan memotong kuku setiap Sabtu, apakah malaikat punya sayap, apakah malaikat merasa capek, dan sebagainya. Begitu pun malaikat Ariel, ia menanyakan tentang ‘rasa’, kata-kata yang keluar dari mulut, perbedaan waktu, rasa sayang antar keluarga, dan lain-lain.
Melalui percakapan itulah, Jostein Gaarder, sang penulis buku ini, memaparkan pemikiran filsafat mengenai kehidupan manusia, hubungan antara Tuhan, manusia, dan malaikat, serta hakikat alam semesta. Pembaca diajak menelusuri hakikat penciptaan alam serta korelasi antar makhluk dilihat dari perbedaan dan persamaannya.
Seperti halnya anggapan umum, Cecilia mengira malaikat punya sayap. Anggapan itu dibantah Ariel. Sayap malaikat hanyalah takhayul kuno yang dimulai pada masa ketika manusia menganggap Bumi ini datar seperti kue dadar, dan bahwa malaikat sepanjang waktu terbang pulang-pergi antara Surga dan Bumi. Sebenarnya tidak sesederhana itu. Burung memerlukan sayap untuk terbang karena mereka terbuat dari darah dan daging. Kami terbuat dari ruh, jadi kami tidak memerlukan sayap untuk bergerak di alam semesta ini. (halaman 84)
Burung yang terbuat dari darah dan daging, tidak berbeda dengan manusia. Dengan malaikat, manusia pun punya kesamaan. Malaikat dan manusia sama-sama punya ruh yang diciptakan Tuhan. Tapi, manusia juga punya badan untuk tumbuh, seperti tumbuhan dan hewan. (halaman 49)
Cecilia menganggap pernyataan tersebut konyol, karena ia tidak ingin disamakan dengan hewan. Namun Malaikat Ariel menjelaskan lebih lanjut. Bahwa semua tumbuhan dan hewan memulai hidup mereka sebagai benih atau sel mungil. Mula-mula mereka sangat serupa sehingga manusia tak bisa membedakannya. Tapi kemudian, benih-benih mungil perlahan berkembang dan menjelma menjadi segala tumbuhan, mulai dari semak berry merah dan pohon plum sampai jerapah. Tapi, tak ada dua manusia yang benar-benar sama, begitu juga binatang. Bahkan, di seluruh dunia, tak ada dua helai rumput yang identik. (halaman 49-50)
Percakapan semakin menarik. Dialog Surga dan Bumi yang menggugah kesadaran. Cecilia yang cerdas selalu mengajukan pertanyaaan-pertanyaan kritis dan melontarkan ide-ide yang mencengangkan. Ia paham bagaimana proses komunikasi yang terjadi di antara mereka berdua. Aku yakin yang kau maksud adalah kau tak mendengar dengan telinga seperti diriku. Kita berdua berbincang kira-kira dengan saling mendengar pikiran kita. (halaman 103)
Ketika Cecilia menanyakan tentang keberadaan surga, Malaikat Ariel memintanya untuk memahami bahwa saat itu ia sudah berada di surga. Cecilia tersentak. Inikah Surga? Malaikat Ariel mengangguk. Menurutmu, kita berada di mana? Bumi hanyalah satu noktah kecil di alam semesta yang mahaluas. (halaman 157)
Cecilia merasa dirinya tak pernah berpikir demikian. Lalu Malaikat Ariel melanjutkan keterangannya. Inilah Bumi Surgawi, Cecilia. Inilah Taman Firdaus tempat manusia. Para malaikat tinggal di tempat-tempat lainnya. (halaman 158).
 Cecilia tetap bertanya. Aku selalu bertanya-tanya di manakah surga berada. Tak seorang pun astronaut pernah melihat Tuhan atau malaikat (halaman 158). Malaikat Ariel menjawab dengan analogi mendalam. Tak seorang pun ahli bedah otak pernah menemukan pikiran dalam otak. Dan, tak seorang pun psikolog pernah melihat mimpi orang lain. Itu tak berarti pikiran dan mimpi tak benar-benar ada di dalam kepala manusia.” (halaman 158).
Seperti buku karya Jostein Gaarder sebelumnya, Dunia Sophie, yang merupakan fiksi terlaris di dunia pada 1995 dan telah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa dunia, Dunia Cecilia pun telah terjual lebih dari 2,5 juta kopi dan telah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa. Buku ini juga memenangi Norwegian Bookseller Prize dan diadaptasi ke dalam film yang juga memenangi Amanda Award, anugerah tertinggi Norwegia pada 2009. Sebuah novel yang layak direkomendasikan karena merupakan perpaduan indah antara fiksi dan filsafat, yang mengajak pembaca pada perenungan mengenai hakikat alam semesta dan penciptaannya. 

*) Resensi ini dimuat di koran Radar Sampit, tanggal 10 Januari 2016 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ketika Alam Mengajarkan Banyak Hal


Judul: Rengganis - Altitude 3088
Penulis: Azzura Dayana
Penyunting Bahasa: Mastris Radyamas
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Cetakan: Pertama, Agustus 2014
Ketebalan : 232 halaman
Ukuran : 20 cm
ISBN: 978-602-1614-26-6

Kegiatan mendaki gunung kini menjadi hobi yang banyak diminati. Sensasi sebuah pendakian bisa dirasakan melalui tulisan-tulisan yang mudah diakses, yang tersebar di blog, note fb, dan media sosial lain serta dilengkapi foto-foto menawan. Begitu pula acara-acara televisi yang menampilkan tayangan liputan sebuah perjalanan pendakian gunung. Maka tak ayal, keindahan sebuah gunung bisa tervisualisasikan lebih nyata.
Novel “Rengganis-Altitude 3088” karya Azzura Dayana, adalah salah satu contoh novel yang memperlihatkan bagaimana lika-liku sebuah perjalanan pendakian.    Dikisahkan tentang sekelompok anak muda yang merencanakan pendakian ke Pegunungan Hyang. Mereka, lima laki-laki dan tiga perempuan, berkumpul di Surabaya, berkeinginan sama, yaitu menjejak Puncak Rengganis. Mereka adalah Acil, Dewo, Fathur, Dimas, Rafli, Sonia, Nisa, dan Ajeng. Sebagai guide adalah Acil yang paling paham medan, sedangkan yang ditunjuk menjadi pemimpin adalah Dewo.

Selanjutnya diceritakan bagaimana proses perjalanan menuju Puncak Rengganis hingga kembalinya. Saat berangkat, kedelapannya merupakan tim yang solid. Bahu membahu, seia sekata. Namun dalam perjalanannya, friksi-friksi tak dapat dihindarkan. Rafli beberapa kali tidak sependapat dengan Dewo. Keduanya berselisih, bahkan pernah hingga sama-sama naik pitam. Untunglah yang lain bisa melerai. Namun ketegangan-ketegangan itu tak urung menimbulkan suasana tidak enak. Rafli yang ada rasa pada Sonia, secara refleks selalu ingin menjadi pelindung Sonia. Keputusan Dewo yang dirasanya tidak berpihak pada Sonia akan ditentangnya keras.

Dalam novel ini, pembaca dimanjakan oleh deskripsi setting yang sangat detil dan menarik. Keindahan alam selama perjalanan menuju Puncak Rengganis dibentangkan nyata. Keelokan hamparan sabana, jalur yang terjal dan menantang, deretan pinus yang kaku menjulang, juga hewan-hewan liar yang ditemui sepanjang jalan. Sungai Cikasur adalah salah satu kesederhanaan yang indah di bumi Argopuro. Sebuah sungai kecil beralur panjang dan sempit dengan airnya yang bersih dan jernih serta mengalir cukup deras. Suara gemuruh yang diciptakan oleh aliran air sungai, entah mengapa jadi terdengar merdu di telinga. Banyak tumbuhan selada air di sungai itu yang selalu dimanfaatkan pendaki untuk dimasak sebagai sayuran hangat. Tepian kiri dan kanan sungai dipenuhi rerumputan rumput tebal bernuansa hijau dan campuran antara putih dan coklat. Sungguh eksotik. (halaman 47).  

Selain kecantikan alam yang menyenangkan mata, diceritakan juga sisi historis jejak peninggalan istana putri Raja Majapahit, Dewi Rengganis. Cerita tersebut beredar dalam berbagai versi. Mengapa Prabu Brawijaya membangunkan sebuah istana di puncak gunung yang indah itu, terdapat beberapa alasan yang entah mana yang paling benar. Legenda tersebut pun masih mengandung misteri. Terutama pada bagian menghilangnya sang Dewi serta para dayangnya, di sebuah danau. Konon katanya, sang dewi ini bukan seorang wanita biasa. Dia adalah seorang pertapa yang memiliki ilmu kanuragan, hal yang lumrah dan tenar dalam kehidupan masa lalu di zaman kerajaan. (halaman 41)

Maka, hal yang beraroma mistis turut mewarnai perjalanan mereka. Keanehan-keanehan terjadi. Puncaknya ketika salah seorang dari tim ini raib, pergi entah ke mana. Pada saat yang kritis itu, kekompakan dan kerjasama tim sangat menentukan. Bagaimana jika pulang tanpa jumlah yang lengkap seperti saat kedatangan?

Namun kemistisan suatu tempat bukan hal yang perlu dibesar-besarkan. Pendaki kita mengajarkan tentang ini. Tidak selalu terjadi hal yang seperti itu pada para pendaki. Hanya beberapa saja yang pernah mengalami beberapa keganjilan. Aku pun sebenarnya ingin sekali tidak percaya, tapi ... entahlah. Alam gaib memang ada. Tugas kita hanyalah berhati-hati dan menjaga iman kita, kata Fathur. (halaman 220)

Perjalanan sebuah pendakian bukan sekadar petualangan yang seru dan mengasyikkan. Alam adalah guru yang mengajarkan banyak hal. Kita harus peka dan cerdas mencermatinya. Bagaimana seharusnya kita memperlakukan alam ditunjukkan oleh kedelapan pendaki ini. Leave nothing but footprint, take nothing but picture, kill nothing but ego (Hal. 208) Menjelang kepulangan, mereka melakukan operasi semut, membersihkan sampah-sampah. Kantung-kantung plastik besar berisi sampah dibawa turun untuk dibuang di beberapa tempat sampah yang mereka lewati di tepi jalan.

Pengetahuan-pengetahuan seputar pendakian yang hadir dalam novel ini pun akan menambah wawasan pembaca. Dalam keadaan darurat, semisal kehabisan makanan, dapat memanfaatkan tumbuhan dan dedaunan yang ternyata banyak sekali yang bisa dimakan. Namun harus diperhatikan karena ada tumbuhan beracun. Salah satu cara mengetahuinya dengan menggosokkan daun tersebut ke tangan. Bila tidak terasa gatal, berarti aman. Lalu pilih yang tumbuhan atau batangnya tidak berbulu.
“Berarti sebenarnya alam ini sangat memanjakan kebutuhan kita, ya?”
“Asal kita pandai memilih, menjaga, dan memanfaatkannya.”
“Selalu ada keringanan untuk setiap beban. Selalu tersedia solusi untuk setiap masalah dan musibah. Alam juga seperti itu sifatnya.” (halaman 216)
           
            Tak ada gading yang tak retak, demikian pun buku ini. Pada bagian awal, ritmenya agak terasa membosankan karena cerita masih datar dan belum tampak konflik yang menggigit. Beranjak ke bagian tengah barulah terasa gejolaknya, dan mengikat pembaca untuk tidak melepas buku ini sebelum selesai hingga akhir. Terlalu banyaknya tokoh juga kurang memperlihatkan perwatakan yang kuat. Penjelasan tentang tokoh di halaman akhir buku, justru terasa mengganggu. Tentu akan lebih menawan bila gambaran tokoh tersebut hadir menapasi jalan cerita.

Anyway, buku ini sangat layak direkomendasikan. Di tengah gencarnya gempuran bacaan beraroma vulgar bagi pembaca usia muda, maka buku ini hadir bak oase di tengah gurun. Bahasanya santun dengan diksi yang apik. Sisi romansa di dalamnya tidak terlalu ditonjolkan namun tetap terasa manisnya. Ditambah dengan pengetahuan-pengetahuan yang akan membuka wawasan pembaca.

Selamat bertualang bersama buku ini dan menemukan kearifan di dalamnya.

#Resensi ini diikutsertakan pada Lomba Menulis ResensiNovel Indiva 2015

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cinderella Syndrome : Ketika Pernikahan Menjadi Begitu Penting di Mata Perempuan




Judul: Cinderella Syndrome
Penulis: Leyla Hana
Penyunting Bahasa: Woro Lestari
Penerbit: Salsabila - Pustaka Al-Kautsar
Cetakan: Pertama, 2012
Jumlah hal.: 240 halaman
ISBN: 978-602-98544-2-8

Menarik banget deh novel ini. Ceritanya membumi. Mewakili perasaan kaum wanita terhadap lembaga pernikahan. Ada 3 tokoh yang bertutur sendiri-sendiri. Erika, Violet, Annisa. Masing-masing menggunakan PoV 1. Yuk, kita berkenalan dengan ketiganya.

Erika, wanita cerdas, high educated, cantik, sangat menentang pernikahan. Ia tidak mau menikah. Baginya, pernikahan hanya akan membuat susah. Wanita akan terbelenggu pada sebuah ikatan yang mengekang. Dan, cinta, hanya perasaan yang bisa membuat seseorang bertindak bodoh. Seperti ibunya, yang diperlakukan semena-mena oleh ayahnya. Dipoligami, tanpa keadilan. Namun atas nama cinta, ibunya bertahan. Bahkan hingga jiwanya terganggu.

Violet, penulis novel romance yang belum terkenal, bersifat kekanakan meski sudah berusia 25 tahun. Sebagai anak semata wayang yang dimanjakan orangtuanya, ia tumbuh menjadi gadis yang tidak mandiri. Ke mana-mana harus selalu diantar, karena ia bisa dipastikan akan tersesat kalau jalan sendiri. Melihat ibunya yang seorang ibu rumah tangga sejati, Vio merasa ngeri sendiri. Bagaimana mungkin seorang perempuan mengerjakan begitu banyak pekerjaan rumah tangga sepanjang hari?

Annisa, seorang guru TK lulusan D1 berpenghasilan 200 ribu sebulan. Sering digunjing tetangga sebagai perawan tua. Hidupnya serasa tak berarti karena pekerjaannya tak membanggakan orangtua dengan jumlah penghasilan yang minim. Di usianya yang ke-28, ia nyaris putus asa karena merasa dirinya seorang pecundang.

Ketiga tokoh ini tidak saling terkait satu sama lain. Masing-masing dengan konfliknya, yang memiliki benang merah, yaitu tentang kesiapan menikah. Erika, dalam usianya yang kepala 3, merasa yakin tidak akan menikah. Baginya, sulit untuk mempercayai sosok laki-laki sebagai pendamping dan pelindung keluarga. Namun, pernikahan memang menjadi momok terbesar untukku. Rasanya aku takkan pernah siap menghadapinya. Entah kenapa, sepertinya Tuhan memang selalu mempertemukanku dengan wanita-wanita yang mengalami kegagalan dalam pernikahan. (halaman 98)

Violet, gadis berusia 25 tahun itu hanya menulis dan menulis saja yang ada dalam pikirannya. Ia membiarkan saja hidup mengalir apa adanya. Aku tak pernah memikirkan kehidupan selain kehidupan yang sedang kujalani ini. Jadi, menikah? Yang benar saja! (halaman 66)

Annisa, sudah gerah dengan julukan ‘perawan tua’ yang seolah ditahbiskan oleh semua orang kepadanya. Ya, usia dua puluh delapan tahun adalah usia yang rawan untukku. Ibuku pun sudah sangat khawatir karena aku belum juga mendapat calon suami. Aku harus bagaimana? Aku juga ingin menikah, tapi belum ada calonnya. (halaman 71)

Dalam perjalanannya kemudian ketiga perempuan itu berjumpa dengan seorang laki-laki yang mulai merasuki hati. Erika yang terkenal judes dan galak pada makhluk berjenis kelamin laki-laki, tiba-tiba merasakan getaran lain saat interaksinya semakin intens dengan Lukman, rekan kerjanya. Violet, yang selama 25 tahun hidupnya tidak pernah merasakan kisah cinta indah berbunga seperti yang ada dalam novel-novelnya, merasa yakin ketiban cinta pada editornya. Sang editor, Arfan, telah memikat hatinya dan melambungkan mimpi-mimpinya. Lain lagi Annisa, ia menjatuhkan harap pada ayah muridnya, seorang duda keren dan kaya.

Konflik demi konflik terjalin apik. Tidak dibuat-buat dan didramatisir. Semua mengalir dan asik diikuti. Dengan bahasa ringan, renyah, nggak bikin boring, namun tidak kosong makna.

Perpindahan bab selalu membuat penasaran, membuat terikat ingin terus membacanya. Walaupun adegannya biasa, tapi nggak bisa ketebak juga kelanjutannya. Dan endingnya.. hmm.. suka deh.. hehe.. pas sama keinginanku.

Rasanya ini novel yang paling aku suka dari novel-novel Mbak Ela. Paling seru dan paling asik. Bukan berarti novel yang lain nggak bagus lho. Tapi kita kadang punya satu favorit dari deretan yang bagus-bagus kan?

Apa nggak ada kekurangannya novel ini? Nggak juga sih. Antar tokoh kadang terasa masih itu-itu juga. Seperti mendengar suara hati Mbak Ela aja.. haha.. maaap atas kesotoyanku ini, Mbak..

Akhirul kata, novel ini recommended buat lajangers maupun yang udah nge-dobel. Prinsip-prinsip tentang pernikahan juga makna suci sebuah lembaga pernikahan, bisa menjadi ilmu yang mencerahkan para lajangers. Sedangkan buat yang udah nikah, novel ini menyadarkan kembali bagaimana sebuah pernikahan harus dibangun. Dan yang tak kalah penting, bagaimana menempatkan cinta pada tempat yang tepat, sehingga membuahkan kebahagiaan hakiki.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

And The Mountains Echoed - Dan Gunung-gunung pun Bergema



Judul : And The Mountains Echoed
Penulis : Khaled Hosseini
Penerbit : Quanta - PT Mizan Pustaka
Tebal Buku : 516 Halaman
ISBN : 978-602-9225-93-8
Tahun Terbit : Cetakan Ke-I, Juli 2013

                      Cetakan ke-II, Oktober 2013

Blurb:
Kulihat peri kecil muram
Di keteduhan pohon kertas
Kumengenal peri kecil muram
Yang tertiup angin suatu malam

Abdullah sangat menyayangi Pari, adik satu-satunya. Sejak ibu meninggal dan ayah mereka menikah lagi dengan Parwana, Abdullah menjadi ayah, sekaligus ibu bagi Pari. Bagi Abdullah, Pari adalah bumi, langit, sekaligus semestanya. Dalam kehidupan pedesaan Afghanistan yang keras dan kejam, Pari adalah seberkas cahaya matahari bagi Abdullah.

Lalu, ayahnya menjual Pari kepada pasangan kaya di Kabul demi kelangsungan hidup keluarga mereka di musim dingin. Abdullah limbung, dunianya hancur. Tak ada lagi Pari, tak ada lagi kehidupan.

And The Mountains Echoed, novel ketiga Khaled Hosseini yang menggemakan kehidupan keras di Afghanistan. Lewat novel ini, Hosseini berkisah bagaimana pilihan yang kita ambil akan bergaung hingga ke generasi selanjutnya. Bagaimana cinta yang tulus, akan bergema ke seluruh semesta, memanggil jiwa-jiwa yang kehilangan belahannya. 

Alhamdulillah request buku ini dikabulkan sama Mizan. Udah lama banget pingin baca, baru kesampean sekarang. So, telat yaa review buku ini sekarang. Orang-orang mah udah zaman kapan baca buku ini. It's Ok ae lah, better late than never.. :)

Ini buku kedua karya Khaled Hosseini yang aku baca, meski dalam jejeran karyanya, ini adalah novel ketiga. Yang pertama kubaca, pastilah The Kite Runner. Buku yang mengguncang perasaan, dan susah move on berhari-hari dari buku itu.

Ketika baca buku The Mountains Echoed ini, nggak bisa dipungkiri, aku punya ekspektasi yang paling nggak, buku ini menyamai The Kite Runner. Secara Khaled Hosseini, konon memang ahlinya mengaduk emosi pembaca. Halaman-halaman awal, aku terhanyut. Bahkan mata mendanau, emosi terseret dalam duka yang menyayat. Tapi semakin lanjut ke halaman berikutnya, emosi kurasakan mengendur. Entahlah, aku tidak lagi merasa terikat kuat.

Kisah diawali dengan dongeng yang dituturkan Baba kepada Abdullah dan Pari. Dongeng Baba itu terasa ngilu, tentang seorang ayah yang kehilangan anak kesayangannya. Dan ketika cerita bergerak, kemudian Baba pun mengalami nasib yang sama.

Secara singkat, cerita novel ini adalah tentang Abdullah dan Pari. Bocah kecil kakak beradik dari sebuah kampung miskin di Afghanistan. Desa Shadbagh namanya. Mereka memiliki paman yang bekerja di Kabul, pada keluarga kaya raya, yang tak memiliki anak. Sang nyonya jatuh cinta kepada Pari. Ia ingin memiliki anak cantik dan cerdas itu. Dengan uang berlimpah yang dimilikinya, Pari pun akhirnya menjadi 'anak' di keluarga kaya tersebut, keluarga Wahdati.

Jangan dikira Baba adalah ayah yang kejam karena tega menjual anaknya. Di sinilah letak kekuatan Hosseini. Keterpaksaan akibat kemiskinan yang menjerat serta rasa kehilangan dan rindu yang mencekik, mengakibatkan Baba membenci dirinya sendiri. Perasaan Baba terdeskripsikan dengan sangat baik, sehingga pembaca bisa merasakan kepedihan yang sungguh mengiris itu.

Yang lebih mencelos hati adalah apa yang terjadi pada Abdullah. Separuh jiwanya kosong, hilang bersama kepergian Pari. Bagaimana ia menguntai kenangan tatkala Pari masih di sampingnya, adalah bagian yang menusuk hati. Tak hanya Abdullah, seekor anjing kampung yang setia pada Pari, turut berduka, hingga akhirnya ajal menjemput dalam rindu yang tak berbalas.

Cerita terus berlanjut mengisahkan paman Nabi, yaitu paman yang bekerja pada Keluarga Wahdati. Kemudian orang-orang yang terkait dengan Pari dan Abdullah. Masing-masing dari sudut pandangnya sendiri. Seperti biasa, Hosseini sangat detil mendeskripsikan apa yang terjadi, emosi yang tercipta, serta lekuk setting yang melatari. Keahliannya yang satu ini, tak tertandingi.

Ada kejutan yang muncul dari Tuan Wahdati. Sejujurnya, aku nggak kepikir tentang hal itu. Oh, ternyata Tuann Wahdati itu.......... Ah, aku nggak suka. Lalu Paman Nabi yang ganteng itu hingga akhir hayatnya tidak menikah.. mengapa oh mengapa..

Banyaknya tokoh yang bercerita membuatku agak sedikit merasa kurang nyaman. Aku terlampau jatuh sayang kepada Abdullah dan Pari. Tapi porsi keduanya tidak lebih dominan dibanding tokoh-tokoh lain: Paman Nabi, Nila Wahdati, Parwana, Markos, Pari (anak Abdullah). Tapi aku salut pada Hosseini. Kemampuannya meramu beragam sudut pandang, PoV 3 dan PoV1 dengan banyak tokoh, nggak mengganggu jalan cerita. Semua karakternya tetap ajeg alias konsisten.

Seperti halnya The Kite Runner yang berlatar waktu sangat panjang, demikian pun novel ini. Bermula dari musim gugur 1952 hingga musim dingin 2010. Setting tempat pasti Afghanistan, walaupun ternyata Desa Shadbagh itu fiktif, tapi tentu mencerminkan desa miskin di Afghanistan kala itu. Ada juga Paris dan Yunani. Sudah bisa dibayangkan ya, gimana detil deskripsi yang disuguhkan buat pembaca. Benar-benar memanjakan. Hosseini memang nggak ada matinya untuk urusan ini.

So, nggak nyesel baca buku ini. Meski nggak sedahsyat The Kite Runner, tapi ceritanya apik dengan alur berliku. Kalaupun nanti ada novel keempat yang akan dilahirkan, para pembaca di seluruh dunia pasti akan tetap menantikannya. Khaled Hosseini sepertinya memang punya kemampuan menyihir.



 



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS