Powered by Blogger.
RSS

Belajar dari Bunda Khadijah



 Judul                           :  Cantiknya Akhlak Khadijah
Penulis                         :  Irma Irawati dan Wylvera W.
Penerbit                       :  Adibintang - Zaytuna Ufuk Abadi
Tebal Buku                  :  164 halaman
Cetakan                       : Januari 2016
ISBN                           :  978-602-372-067-5

Siapa yang tak kenal Bunda Khadijah? Beliau istri pertama Nabi Muhammad, dan merupakan muslimah pertama di dunia. Yup, Bunda Khadijah adalah wanita pertama yang memeluk agama Islam. Banyak buku yang mengupas riwayat hidup wanita mulia ini. Termasuk yang diperuntukkan bagi si kecil. Buku untuk anak-anak, selain untuk mengenalkan anak-anak pada keluarga Rasulullah, tetap bisa dikonsumsi orang dewasa sebagai penambah pengetahuan.
Di buku “Cantiknya Akhlak Khadijah” karya Irma Irawati dan Wylvera W., diceritakan dari masa kecil Bunda Khadijah hingga akhir hayatnya. Kita bisa mengetahui betapa baik dan lembutnya hati beliau. Kita juga bisa mencontoh kesungguhannya dalam mengerjakan sesuatu sehingga membuahkan hasil yang sukses. Perangainya yang berbudi luhur, membuat kecantikannya tidak sekadar cantik wajahnya saja, namun kecantikannya juga terpancar dari hati.
Ada salah satu cerita dalam buku ini yang berjudul “Anting-anting Khadijah”. Tapi jangan mengira ini kisah tentang anting-anting indah yang terpasang di telinga Bunda Khadijah. Lho, jadi apa dong? Ternyata ini cerita tentang Bunda Khadijah di masa kecil yang senantiasa mengingat nasihat dari ayahnya. Dengan penuh kesabaran, ayahnya selalu mengajari putri tersayangnya. Khadijah dibiasakan bangun di awal waktu, dilatih mahir berkuda, terampil berhitung dan aritmatika. Ibundanya pun senantiasa mengajarkan kelembutan dan suka memberi. Khadijah kecil yang cerdas dan cekatan, selalu mengingat baik-baik semua nasehat, sehingga nasehat-nasehat itu seperti melekat bagai anting-anting yang menempel di kedua telinganya.
Keistimewaan lain yang dimiliki Bunda Khadijah adalah kemampuannya bertahan dalam terik dan badai padang pasir. Seperti yang kita tahu, betapa panasnya udara di sana, dan angin yang bertiup bisa sewaktu-waktu berubah menjadi badai. Hanya kesabaran yang luar biasa, yang akan membuat seseorang bertahan sampai melalui padang pasir menuju tempat yang dituju.
Selain kesabaran untuk mampu bertahan dari sesuatu yang berat seperti cuaca buruk, ternyata ada kesabaran yang lain juga. Ada nasehat ayahnya yang selalu diingat oleh Bunda Khadijah, yaitu bahwa bersabar itu bukan hanya sebatas bertahan menghadapi segala rintangan. Tapi juga, sabar untuk tidak membalas kejelekan orang lain, meski mampu melakukannya.
Setelah kisah menyenangkan di masa kecilnya, cerita bergerak menuju masa remaja. Bunda Khadijah harus berjuang setelah ayahnya meninggal. Beliau melanjutkan usaha perniagaan ayahnya demi kelangsungan hidup bersama adik-adik yang dikasihinya. Bunda Khadijah berusaha sungguh-sungguh. Kecerdasannya semakin terasah. Beliau mengurus usahanya dengan teliti, tekun, dan cermat.
Bukan berarti Bunda Khadijah selalu hidup enak. Di tengah kesuksesan bisnisnya, beliau mengalami juga kerugian. Ada pegawainya yang tidak jujur. Namun Bunda Khadijah sudah terlatih sejak kecil. Ayahnya selalu mengajarkan untuk menjadi orang yang kuat dan bersabar di saat sulit.
Bunda Khadijah memiliki beberapa gelar yang baik. Beliau digelari “Ath-Thahirah”, artinya perempuan yang mampu menjaga kesucian dirinya. Gelar lain yaitu “Sayyidah Nisa’ Quraisy” yang artinya pemuka perempuan Quraisy. Lalu, “Ratu Mekah” adalah gelar yang disematkan kepada beliau juga, sebagai perempuan satu-satunya dan terkaya di Mekah. Dan terakhir, “Ummul Mukminin” yaitu ibu orang-orang yang beriman.
Selanjutnya, kisah pertemuan beliau dengan Nabi Muhammad, kemudian pernikahannya, hingga kehidupan keluarganya kelak. Kisah-kisah tersebut banyak sekali yang bisa kita ambil teladannya. Bagaimana kesabaran Bunda Khadijah mendampingi Nabi Muhammad, perjuangannya dalam mendukung dakwah suami tercintanya, kegigihannya dalam membela Islam, serta kepeduliannya yang tinggi kepada sesama. Beliau adalah bunda yang dicintai oleh anak-anaknya dan juga oleh seluruh kaum muslimin.
Hati Khadijah yang lembut selalu menangis jika ada seorang muslim yang disakiti, disiksa, atau dihinakan. Air matanya selalu mengalir dalam doa-doa yang dipanjatkannya kepada Allah. Dengan kebesaran jiwanya, Bunda Khadijah justru merasa sedih melihat mereka yang keji dan ingkar hatinya pada Kebesaran Allah. (halaman 154-155)
Di dalam buku ini pun, kita bisa mengetahui orang-orang yang berada dalam kehidupan Bunda Khadijah. Ada pembantu setianya yang bernama Maisarah,  kakek tua pembawa peta, Dujayah yang dibebaskan dari perbudakan, Paman Waraqah yang penuh kasih sayang, Berenis sang pengelana, Nafisah sang sahabat sejati,  Zaid si budak istimewa, dan lainnya.
Jadi, di samping ceritanya yang asik dan menghibur bagi anak-anak, kisah-kisah dalam buku ini memberi banyak pengetahuan sejarah Islam. Sangat tepat menjadi bacaan keluarga muslim.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Memotret Wajah Kaum Urban



 Judul      : Tiada Ojek di Paris
Penulis   : Seno Gumira Ajidarma
Penerbit : Mizan
Cetakan : 2015
Tebal     : 207 Halaman
ISBN     : 978-979-433-846-9
Kaum urban mengacu pada masyarakat kota modern yang bergerak dinamis. Jakarta, dengan segala dinamikanya menjadi contoh nyata pergulatan hidup kaum urban. Segala permasalahan ibukota berputar bagai lingkaran setan, namun tetap memikat orang-orang untuk mengadu nasib di Jakarta.
Seno Gumira Ajidarma, membincang kaum urban, khususnya Jakarta, dalam Tiada Ojek di Paris. Buku ini memuat esai-esai bernas yang pernah dimuat dalam buku Affair dan Kentut Kosmopolitan, serta majalah Djakarta!. Meski ditulis dalam kurun tahun 2004 - 2013, namun tetap relevan dibaca saat ini.
Termasuk tipe manakah Jakarta? Seno Gumira Adjidarma mengusung teori Barker (2004: 23 -5) yang menyebutkan tiga tipe kota kontemporer, yaitu kategori Inner City, Global City, dan Postmodern City. Setelah menjabarkan ciri-ciri yang mewakili kategorisasi masing-masing, tampak Jakarta lebih condong pada Postmodern City atau Kota Pasca Modern.
Dalam kerangka baru fragmentasi, segregasi, dan polarisasi sosial, kelas menengah mengalami pengerutan, sementara gelandangan, buruh murah, dan siapa pun bergantung pada bantuan dinas sosial, semakin berkembang -- yang berhubungan langsung dengan semakin banyaknya pendatang, dan artinya keberbedaan etnik semakin terasa. Meningkatnya kekerasan dan kriminalitas dijawab dengan kesadaran atas keamanan yang tinggi. Maka wajah kota akan ditandai oleh rumah bertembok tinggi, satpam bersenjata, mall yang selalu dipatroli, kawat berduri dan kamera pengintai (di Jakarta semua ini ada bukan?) (halaman 18)
Selanjutnya seperti apakah manusia Jakarta? Seperti kita ketahui, Jakarta dan macet selalu berpasangan. Kondisi macet yang menyebabkan manusia berada dalam mobil lebih lama, menciptakan sebuah trend baru, yaitu manusia mobil. Di dalam mobil, di tengah kepungan macet, manusia Jakarta bisa melakukan banyak hal. Seorang istri biasa membawa paket kosmetik ringkas, di mana ia mengoleskan pensil alis, membuat bayangan mata, hingga mewarnai bibir dengan rapi. Termasuk makan, membaca koran, mendengar berita, memasang CD, sampai ber-handphone ria. Maka mobil menjadi bukan sekadar sarana transportasi. Transaksi bisnis yang dilakukan melalui notebook mungil yang selalu terbuka, hingga wawancara pun dilakukan di dalam mobil. Tak ayal lagi, mobil adalah dunia ketiga, setelah rumah dan tempat kerja. Di Dunia Ketiga itu dilakukan segala hal yang mungkin --maupun tidak mungkin-- terjadi di Dunia Pertama maupun Dunia Kedua : berkeluarga, bekerja, atau bercinta. Hmmm. Berterima kasihlah pada kemacetan Jakarta. (halaman 23)
Dalam geliat Jakarta, premanisme menjadi sisi gelap yang senantiasa menetap dan menahun. Para preman beraksi dibungkus dengan kostum wajah sangar. Kerja kotor ini berhasil menghimpun rupiah dalam bentuk pungutan liar. Penguasa ‘resmi’ bermunculan menduduki sebuah wilayah untuk ditarik ‘pajak’ alias dipalak atau di-kompas dengan menyebarkan anak buahnya. Namun mengusut lalu membabat para preman ini bukan hal mudah.  Di titik ini, Seno Gumira justru membidik preman dalam bentuk lain. Apakah kita tidak sebaiknya menjadi lebih empet kepada para jawara berdasi yang perusahaannya resmi, tetapi sangat berdaya menilep tanah dan mengakali pajak dengan piawai sekali? Jumlah penilepan mereka inilah yang telah diketahui angkanya oleh Sri Mulyani ketika masih menjadi menteri Mereka tidak bertato, tampangnya tidak sangar fashion-nya pun jauh dari kampungan, tapi mereka inilah yang layak ditembak mati. (halaman 79)
Tulisan menarik lainnya menyoal gaya hidup manusia Jakarta, daerah pinggiran Jakarta, the motorcycle people, kafe dan warung kopi, para pengamen, fenomena mudik, dan beragam permasalahan yang berkelindan di belantara Jakarta. Sesekali dihadirkan juga kutipan yang berasal dari para pemikir kontemporer sekelas Barker, Mauss, Bhaba, dan Saunders.
Buku setebal 207 halaman ini mengajak pembaca untuk mencermati tingkah polah Jakarta dengan gaya santai, ringan, bak obrolan di warung kopi. Pembaca bisa tersenyum, mengernyit, hingga tertawa, yang di ujungnya mengarah pada perenungan tentang makna kehidupan urban yang serba cepat dan mudah berubah. Dari perenungan itulah akan muncul gagasan-gagasan baru yang diharapkan membawa perubahan pada kebaikan.

*) resensi ini dimuat di indoleader.com pada tanggal 3 Februari 2016

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Keajaiban Natal Terakhir Untuk Cecilia



 Judul: Dunia Cecilia
Penulis: Jostein Gaarder
Penerbit: Mizan, Bandung
Cetakan: Pertama, Juni 2015
Tebal: 216 Halaman
ISBN: 978-979-433-886-5
Natal menyimpan momen-momen istimewa yang selalu dinanti. Pohon natal, kado-kado, sinterklas, lagu-lagu, juga makanan lezat menjadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak. Di samping suasana khidmat atas kekudusan natal itu sendiri yang dirindukan orang dewasa.
Tidak demikian halnya bagi Cecilia. Gadis kecil ini hanya bisa menghirup aroma natal di tempat tidur di lantai atas rumahnya. Cecilia sakit keras. Namun keluarganya sangat mendukung. Ayahnya membopong Cecilia ke lantai bawah, untuk berkumpul bersama keluarga di dekat pohon natal. Ia mendapat hadiah natal yang diidamkannya, yaitu papan ski dan toboggannya. Padahal dengan sakit berat yang dideritanya, rasanya tidak mungkin Cecilia bisa bermain ski di atas salju.
Ketika kembali ke kamar, Cecilia kembali merasakan sepi. Lalu tiba-tiba ada sosok berjubah putih duduk di depan jendela. Ia menanyakan apakah Cecilia bisa tidur nyenyak. Sosok itu ternyata adalah malaikat. Namanya Ariel. Keduanya lalu asyik mengobrol hingga dibuat kesepakatan, Cecilia memberikan informasi tentang bagaimana rasanya menjadi manusia yang menjalani kehidupan di dunia, sebaliknya Ariel menyampaikan seperti apakah kehidupan di surga.
Cecilia banyak mengajukan pertanyaan, seperti: mengapa malaikat tak punya rambut, apakah malaikat menggosok gigi dan memotong kuku setiap Sabtu, apakah malaikat punya sayap, apakah malaikat merasa capek, dan sebagainya. Begitu pun malaikat Ariel, ia menanyakan tentang ‘rasa’, kata-kata yang keluar dari mulut, perbedaan waktu, rasa sayang antar keluarga, dan lain-lain.
Melalui percakapan itulah, Jostein Gaarder, sang penulis buku ini, memaparkan pemikiran filsafat mengenai kehidupan manusia, hubungan antara Tuhan, manusia, dan malaikat, serta hakikat alam semesta. Pembaca diajak menelusuri hakikat penciptaan alam serta korelasi antar makhluk dilihat dari perbedaan dan persamaannya.
Seperti halnya anggapan umum, Cecilia mengira malaikat punya sayap. Anggapan itu dibantah Ariel. Sayap malaikat hanyalah takhayul kuno yang dimulai pada masa ketika manusia menganggap Bumi ini datar seperti kue dadar, dan bahwa malaikat sepanjang waktu terbang pulang-pergi antara Surga dan Bumi. Sebenarnya tidak sesederhana itu. Burung memerlukan sayap untuk terbang karena mereka terbuat dari darah dan daging. Kami terbuat dari ruh, jadi kami tidak memerlukan sayap untuk bergerak di alam semesta ini. (halaman 84)
Burung yang terbuat dari darah dan daging, tidak berbeda dengan manusia. Dengan malaikat, manusia pun punya kesamaan. Malaikat dan manusia sama-sama punya ruh yang diciptakan Tuhan. Tapi, manusia juga punya badan untuk tumbuh, seperti tumbuhan dan hewan. (halaman 49)
Cecilia menganggap pernyataan tersebut konyol, karena ia tidak ingin disamakan dengan hewan. Namun Malaikat Ariel menjelaskan lebih lanjut. Bahwa semua tumbuhan dan hewan memulai hidup mereka sebagai benih atau sel mungil. Mula-mula mereka sangat serupa sehingga manusia tak bisa membedakannya. Tapi kemudian, benih-benih mungil perlahan berkembang dan menjelma menjadi segala tumbuhan, mulai dari semak berry merah dan pohon plum sampai jerapah. Tapi, tak ada dua manusia yang benar-benar sama, begitu juga binatang. Bahkan, di seluruh dunia, tak ada dua helai rumput yang identik. (halaman 49-50)
Percakapan semakin menarik. Dialog Surga dan Bumi yang menggugah kesadaran. Cecilia yang cerdas selalu mengajukan pertanyaaan-pertanyaan kritis dan melontarkan ide-ide yang mencengangkan. Ia paham bagaimana proses komunikasi yang terjadi di antara mereka berdua. Aku yakin yang kau maksud adalah kau tak mendengar dengan telinga seperti diriku. Kita berdua berbincang kira-kira dengan saling mendengar pikiran kita. (halaman 103)
Ketika Cecilia menanyakan tentang keberadaan surga, Malaikat Ariel memintanya untuk memahami bahwa saat itu ia sudah berada di surga. Cecilia tersentak. Inikah Surga? Malaikat Ariel mengangguk. Menurutmu, kita berada di mana? Bumi hanyalah satu noktah kecil di alam semesta yang mahaluas. (halaman 157)
Cecilia merasa dirinya tak pernah berpikir demikian. Lalu Malaikat Ariel melanjutkan keterangannya. Inilah Bumi Surgawi, Cecilia. Inilah Taman Firdaus tempat manusia. Para malaikat tinggal di tempat-tempat lainnya. (halaman 158).
 Cecilia tetap bertanya. Aku selalu bertanya-tanya di manakah surga berada. Tak seorang pun astronaut pernah melihat Tuhan atau malaikat (halaman 158). Malaikat Ariel menjawab dengan analogi mendalam. Tak seorang pun ahli bedah otak pernah menemukan pikiran dalam otak. Dan, tak seorang pun psikolog pernah melihat mimpi orang lain. Itu tak berarti pikiran dan mimpi tak benar-benar ada di dalam kepala manusia.” (halaman 158).
Seperti buku karya Jostein Gaarder sebelumnya, Dunia Sophie, yang merupakan fiksi terlaris di dunia pada 1995 dan telah diterjemahkan ke dalam 50 bahasa dunia, Dunia Cecilia pun telah terjual lebih dari 2,5 juta kopi dan telah diterjemahkan ke dalam 20 bahasa. Buku ini juga memenangi Norwegian Bookseller Prize dan diadaptasi ke dalam film yang juga memenangi Amanda Award, anugerah tertinggi Norwegia pada 2009. Sebuah novel yang layak direkomendasikan karena merupakan perpaduan indah antara fiksi dan filsafat, yang mengajak pembaca pada perenungan mengenai hakikat alam semesta dan penciptaannya. 

*) Resensi ini dimuat di koran Radar Sampit, tanggal 10 Januari 2016 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Ketika Alam Mengajarkan Banyak Hal


Judul: Rengganis - Altitude 3088
Penulis: Azzura Dayana
Penyunting Bahasa: Mastris Radyamas
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Cetakan: Pertama, Agustus 2014
Ketebalan : 232 halaman
Ukuran : 20 cm
ISBN: 978-602-1614-26-6

Kegiatan mendaki gunung kini menjadi hobi yang banyak diminati. Sensasi sebuah pendakian bisa dirasakan melalui tulisan-tulisan yang mudah diakses, yang tersebar di blog, note fb, dan media sosial lain serta dilengkapi foto-foto menawan. Begitu pula acara-acara televisi yang menampilkan tayangan liputan sebuah perjalanan pendakian gunung. Maka tak ayal, keindahan sebuah gunung bisa tervisualisasikan lebih nyata.
Novel “Rengganis-Altitude 3088” karya Azzura Dayana, adalah salah satu contoh novel yang memperlihatkan bagaimana lika-liku sebuah perjalanan pendakian.    Dikisahkan tentang sekelompok anak muda yang merencanakan pendakian ke Pegunungan Hyang. Mereka, lima laki-laki dan tiga perempuan, berkumpul di Surabaya, berkeinginan sama, yaitu menjejak Puncak Rengganis. Mereka adalah Acil, Dewo, Fathur, Dimas, Rafli, Sonia, Nisa, dan Ajeng. Sebagai guide adalah Acil yang paling paham medan, sedangkan yang ditunjuk menjadi pemimpin adalah Dewo.

Selanjutnya diceritakan bagaimana proses perjalanan menuju Puncak Rengganis hingga kembalinya. Saat berangkat, kedelapannya merupakan tim yang solid. Bahu membahu, seia sekata. Namun dalam perjalanannya, friksi-friksi tak dapat dihindarkan. Rafli beberapa kali tidak sependapat dengan Dewo. Keduanya berselisih, bahkan pernah hingga sama-sama naik pitam. Untunglah yang lain bisa melerai. Namun ketegangan-ketegangan itu tak urung menimbulkan suasana tidak enak. Rafli yang ada rasa pada Sonia, secara refleks selalu ingin menjadi pelindung Sonia. Keputusan Dewo yang dirasanya tidak berpihak pada Sonia akan ditentangnya keras.

Dalam novel ini, pembaca dimanjakan oleh deskripsi setting yang sangat detil dan menarik. Keindahan alam selama perjalanan menuju Puncak Rengganis dibentangkan nyata. Keelokan hamparan sabana, jalur yang terjal dan menantang, deretan pinus yang kaku menjulang, juga hewan-hewan liar yang ditemui sepanjang jalan. Sungai Cikasur adalah salah satu kesederhanaan yang indah di bumi Argopuro. Sebuah sungai kecil beralur panjang dan sempit dengan airnya yang bersih dan jernih serta mengalir cukup deras. Suara gemuruh yang diciptakan oleh aliran air sungai, entah mengapa jadi terdengar merdu di telinga. Banyak tumbuhan selada air di sungai itu yang selalu dimanfaatkan pendaki untuk dimasak sebagai sayuran hangat. Tepian kiri dan kanan sungai dipenuhi rerumputan rumput tebal bernuansa hijau dan campuran antara putih dan coklat. Sungguh eksotik. (halaman 47).  

Selain kecantikan alam yang menyenangkan mata, diceritakan juga sisi historis jejak peninggalan istana putri Raja Majapahit, Dewi Rengganis. Cerita tersebut beredar dalam berbagai versi. Mengapa Prabu Brawijaya membangunkan sebuah istana di puncak gunung yang indah itu, terdapat beberapa alasan yang entah mana yang paling benar. Legenda tersebut pun masih mengandung misteri. Terutama pada bagian menghilangnya sang Dewi serta para dayangnya, di sebuah danau. Konon katanya, sang dewi ini bukan seorang wanita biasa. Dia adalah seorang pertapa yang memiliki ilmu kanuragan, hal yang lumrah dan tenar dalam kehidupan masa lalu di zaman kerajaan. (halaman 41)

Maka, hal yang beraroma mistis turut mewarnai perjalanan mereka. Keanehan-keanehan terjadi. Puncaknya ketika salah seorang dari tim ini raib, pergi entah ke mana. Pada saat yang kritis itu, kekompakan dan kerjasama tim sangat menentukan. Bagaimana jika pulang tanpa jumlah yang lengkap seperti saat kedatangan?

Namun kemistisan suatu tempat bukan hal yang perlu dibesar-besarkan. Pendaki kita mengajarkan tentang ini. Tidak selalu terjadi hal yang seperti itu pada para pendaki. Hanya beberapa saja yang pernah mengalami beberapa keganjilan. Aku pun sebenarnya ingin sekali tidak percaya, tapi ... entahlah. Alam gaib memang ada. Tugas kita hanyalah berhati-hati dan menjaga iman kita, kata Fathur. (halaman 220)

Perjalanan sebuah pendakian bukan sekadar petualangan yang seru dan mengasyikkan. Alam adalah guru yang mengajarkan banyak hal. Kita harus peka dan cerdas mencermatinya. Bagaimana seharusnya kita memperlakukan alam ditunjukkan oleh kedelapan pendaki ini. Leave nothing but footprint, take nothing but picture, kill nothing but ego (Hal. 208) Menjelang kepulangan, mereka melakukan operasi semut, membersihkan sampah-sampah. Kantung-kantung plastik besar berisi sampah dibawa turun untuk dibuang di beberapa tempat sampah yang mereka lewati di tepi jalan.

Pengetahuan-pengetahuan seputar pendakian yang hadir dalam novel ini pun akan menambah wawasan pembaca. Dalam keadaan darurat, semisal kehabisan makanan, dapat memanfaatkan tumbuhan dan dedaunan yang ternyata banyak sekali yang bisa dimakan. Namun harus diperhatikan karena ada tumbuhan beracun. Salah satu cara mengetahuinya dengan menggosokkan daun tersebut ke tangan. Bila tidak terasa gatal, berarti aman. Lalu pilih yang tumbuhan atau batangnya tidak berbulu.
“Berarti sebenarnya alam ini sangat memanjakan kebutuhan kita, ya?”
“Asal kita pandai memilih, menjaga, dan memanfaatkannya.”
“Selalu ada keringanan untuk setiap beban. Selalu tersedia solusi untuk setiap masalah dan musibah. Alam juga seperti itu sifatnya.” (halaman 216)
           
            Tak ada gading yang tak retak, demikian pun buku ini. Pada bagian awal, ritmenya agak terasa membosankan karena cerita masih datar dan belum tampak konflik yang menggigit. Beranjak ke bagian tengah barulah terasa gejolaknya, dan mengikat pembaca untuk tidak melepas buku ini sebelum selesai hingga akhir. Terlalu banyaknya tokoh juga kurang memperlihatkan perwatakan yang kuat. Penjelasan tentang tokoh di halaman akhir buku, justru terasa mengganggu. Tentu akan lebih menawan bila gambaran tokoh tersebut hadir menapasi jalan cerita.

Anyway, buku ini sangat layak direkomendasikan. Di tengah gencarnya gempuran bacaan beraroma vulgar bagi pembaca usia muda, maka buku ini hadir bak oase di tengah gurun. Bahasanya santun dengan diksi yang apik. Sisi romansa di dalamnya tidak terlalu ditonjolkan namun tetap terasa manisnya. Ditambah dengan pengetahuan-pengetahuan yang akan membuka wawasan pembaca.

Selamat bertualang bersama buku ini dan menemukan kearifan di dalamnya.

#Resensi ini diikutsertakan pada Lomba Menulis ResensiNovel Indiva 2015

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS