Powered by Blogger.
RSS
Showing posts with label Indiva. Show all posts
Showing posts with label Indiva. Show all posts

Ketika Alam Mengajarkan Banyak Hal


Judul: Rengganis - Altitude 3088
Penulis: Azzura Dayana
Penyunting Bahasa: Mastris Radyamas
Penerbit: Indiva Media Kreasi
Cetakan: Pertama, Agustus 2014
Ketebalan : 232 halaman
Ukuran : 20 cm
ISBN: 978-602-1614-26-6

Kegiatan mendaki gunung kini menjadi hobi yang banyak diminati. Sensasi sebuah pendakian bisa dirasakan melalui tulisan-tulisan yang mudah diakses, yang tersebar di blog, note fb, dan media sosial lain serta dilengkapi foto-foto menawan. Begitu pula acara-acara televisi yang menampilkan tayangan liputan sebuah perjalanan pendakian gunung. Maka tak ayal, keindahan sebuah gunung bisa tervisualisasikan lebih nyata.
Novel “Rengganis-Altitude 3088” karya Azzura Dayana, adalah salah satu contoh novel yang memperlihatkan bagaimana lika-liku sebuah perjalanan pendakian.    Dikisahkan tentang sekelompok anak muda yang merencanakan pendakian ke Pegunungan Hyang. Mereka, lima laki-laki dan tiga perempuan, berkumpul di Surabaya, berkeinginan sama, yaitu menjejak Puncak Rengganis. Mereka adalah Acil, Dewo, Fathur, Dimas, Rafli, Sonia, Nisa, dan Ajeng. Sebagai guide adalah Acil yang paling paham medan, sedangkan yang ditunjuk menjadi pemimpin adalah Dewo.

Selanjutnya diceritakan bagaimana proses perjalanan menuju Puncak Rengganis hingga kembalinya. Saat berangkat, kedelapannya merupakan tim yang solid. Bahu membahu, seia sekata. Namun dalam perjalanannya, friksi-friksi tak dapat dihindarkan. Rafli beberapa kali tidak sependapat dengan Dewo. Keduanya berselisih, bahkan pernah hingga sama-sama naik pitam. Untunglah yang lain bisa melerai. Namun ketegangan-ketegangan itu tak urung menimbulkan suasana tidak enak. Rafli yang ada rasa pada Sonia, secara refleks selalu ingin menjadi pelindung Sonia. Keputusan Dewo yang dirasanya tidak berpihak pada Sonia akan ditentangnya keras.

Dalam novel ini, pembaca dimanjakan oleh deskripsi setting yang sangat detil dan menarik. Keindahan alam selama perjalanan menuju Puncak Rengganis dibentangkan nyata. Keelokan hamparan sabana, jalur yang terjal dan menantang, deretan pinus yang kaku menjulang, juga hewan-hewan liar yang ditemui sepanjang jalan. Sungai Cikasur adalah salah satu kesederhanaan yang indah di bumi Argopuro. Sebuah sungai kecil beralur panjang dan sempit dengan airnya yang bersih dan jernih serta mengalir cukup deras. Suara gemuruh yang diciptakan oleh aliran air sungai, entah mengapa jadi terdengar merdu di telinga. Banyak tumbuhan selada air di sungai itu yang selalu dimanfaatkan pendaki untuk dimasak sebagai sayuran hangat. Tepian kiri dan kanan sungai dipenuhi rerumputan rumput tebal bernuansa hijau dan campuran antara putih dan coklat. Sungguh eksotik. (halaman 47).  

Selain kecantikan alam yang menyenangkan mata, diceritakan juga sisi historis jejak peninggalan istana putri Raja Majapahit, Dewi Rengganis. Cerita tersebut beredar dalam berbagai versi. Mengapa Prabu Brawijaya membangunkan sebuah istana di puncak gunung yang indah itu, terdapat beberapa alasan yang entah mana yang paling benar. Legenda tersebut pun masih mengandung misteri. Terutama pada bagian menghilangnya sang Dewi serta para dayangnya, di sebuah danau. Konon katanya, sang dewi ini bukan seorang wanita biasa. Dia adalah seorang pertapa yang memiliki ilmu kanuragan, hal yang lumrah dan tenar dalam kehidupan masa lalu di zaman kerajaan. (halaman 41)

Maka, hal yang beraroma mistis turut mewarnai perjalanan mereka. Keanehan-keanehan terjadi. Puncaknya ketika salah seorang dari tim ini raib, pergi entah ke mana. Pada saat yang kritis itu, kekompakan dan kerjasama tim sangat menentukan. Bagaimana jika pulang tanpa jumlah yang lengkap seperti saat kedatangan?

Namun kemistisan suatu tempat bukan hal yang perlu dibesar-besarkan. Pendaki kita mengajarkan tentang ini. Tidak selalu terjadi hal yang seperti itu pada para pendaki. Hanya beberapa saja yang pernah mengalami beberapa keganjilan. Aku pun sebenarnya ingin sekali tidak percaya, tapi ... entahlah. Alam gaib memang ada. Tugas kita hanyalah berhati-hati dan menjaga iman kita, kata Fathur. (halaman 220)

Perjalanan sebuah pendakian bukan sekadar petualangan yang seru dan mengasyikkan. Alam adalah guru yang mengajarkan banyak hal. Kita harus peka dan cerdas mencermatinya. Bagaimana seharusnya kita memperlakukan alam ditunjukkan oleh kedelapan pendaki ini. Leave nothing but footprint, take nothing but picture, kill nothing but ego (Hal. 208) Menjelang kepulangan, mereka melakukan operasi semut, membersihkan sampah-sampah. Kantung-kantung plastik besar berisi sampah dibawa turun untuk dibuang di beberapa tempat sampah yang mereka lewati di tepi jalan.

Pengetahuan-pengetahuan seputar pendakian yang hadir dalam novel ini pun akan menambah wawasan pembaca. Dalam keadaan darurat, semisal kehabisan makanan, dapat memanfaatkan tumbuhan dan dedaunan yang ternyata banyak sekali yang bisa dimakan. Namun harus diperhatikan karena ada tumbuhan beracun. Salah satu cara mengetahuinya dengan menggosokkan daun tersebut ke tangan. Bila tidak terasa gatal, berarti aman. Lalu pilih yang tumbuhan atau batangnya tidak berbulu.
“Berarti sebenarnya alam ini sangat memanjakan kebutuhan kita, ya?”
“Asal kita pandai memilih, menjaga, dan memanfaatkannya.”
“Selalu ada keringanan untuk setiap beban. Selalu tersedia solusi untuk setiap masalah dan musibah. Alam juga seperti itu sifatnya.” (halaman 216)
           
            Tak ada gading yang tak retak, demikian pun buku ini. Pada bagian awal, ritmenya agak terasa membosankan karena cerita masih datar dan belum tampak konflik yang menggigit. Beranjak ke bagian tengah barulah terasa gejolaknya, dan mengikat pembaca untuk tidak melepas buku ini sebelum selesai hingga akhir. Terlalu banyaknya tokoh juga kurang memperlihatkan perwatakan yang kuat. Penjelasan tentang tokoh di halaman akhir buku, justru terasa mengganggu. Tentu akan lebih menawan bila gambaran tokoh tersebut hadir menapasi jalan cerita.

Anyway, buku ini sangat layak direkomendasikan. Di tengah gencarnya gempuran bacaan beraroma vulgar bagi pembaca usia muda, maka buku ini hadir bak oase di tengah gurun. Bahasanya santun dengan diksi yang apik. Sisi romansa di dalamnya tidak terlalu ditonjolkan namun tetap terasa manisnya. Ditambah dengan pengetahuan-pengetahuan yang akan membuka wawasan pembaca.

Selamat bertualang bersama buku ini dan menemukan kearifan di dalamnya.

#Resensi ini diikutsertakan pada Lomba Menulis ResensiNovel Indiva 2015

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kisah Sebelas Mimpi, Inspirasi Bagi Penyandang Disabel



 Judul : Pasukan Matahari
Penulis : Gol A Gong
Penerbit : Indiva Media Kreasi
Tahun Terbit : Pertama, September 2014
Jumlah Halaman : 368 halaman
ISBN : 978-602-1614-43-3

Disabilitas di mata masyarakat masih berorientasi pada orang cacat yang harus banyak dibantu. Padahal dengan segala keterbatasan fisik itu, para penyandang disabel hanya perlu diberi kesempatan yang sama. Mereka selayaknya diberikan fasilitas yang memadai untuk mendorong aktivitasnya agar setara dengan non-disabel. Namun sayangnya upaya menciptakan kesetaraan itu belum sepenuhnya terwujud.
Berharap banyak pada pemerintah sepertinya sulit untuk dilakukan. Meski sudah ditetapkan UU Konvensi Hak Penyandang Disabilitas, namun penerapannya masih lemah. Berkeluh kesah tentang hal ini pun tidak akan memperbaiki keadaan. Banyak para penyandang disabel yang lantas memilih fokus pada peningkatan kualitas diri dengan segala keterbatasannya.
Heri Hendrayana atau yang lebih populer dengan nama Gol A Gong, membagi pengalamannya sebagai penyandang disabel yang berprestasi, dalam novel berjudul Pasukan Matahari.  Inspirasi yang ditularkan Gol A Gong melalui tokoh Doni, tidak hanya menyentuh para penyandang disabel. Para orangtua yang memiliki anak disabel, akan tercerahkan dengan gambaran mengenai bagaimana dukungan yang harus diberikan agar anak disabel dapat tumbuh dan berkembang dengan kemampuan mengeksplorasi potensi yang dimiliki.
Alur bergerak maju mundur. Diawali dengan perlakuan tidak adil yang diterima Doni dari perusahaan media cetak tempatnya bekerja. Permintaan cuti yang sudah diajukan sebulan lalu, ditolak, dan malah diminta untuk tetap meliput. Doni menolak keras, tapi respons yang diterima ternyata tidak menyenangkan.  “ Doni! Kamu mestinya bangga karena perusahaan memilihmu. Perusahaan sudah mengangkat derajatmu. Realistis saja, Don. Dengan kondisi tanganmu yang buntung, mestinya kamu bersyukur perusahaan tidak melakukan diskriminasi terhadapmu.” (halaman 14)
Respons seperti itu masih banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Penyandang disabel tidak diukur melalui kemampuannya, namun diposisikan sebagai orang yang patut dikasihani.
Momen penting yang akan dilakukan Doni adalah reuni bersama ke-10 teman masa kecilnya, yang terbagi dalam dua kelompok. Yang pertama, Pasukan Semut. Ini adalah teman-teman di lingkungan rumah Doni, yang berjumlah tujuh orang. Yang kedua adalah Pasukan Matahari, yaitu teman-teman Doni, sesama pasien yang diamputasi di RSUD Serang, yang berjumlah tiga orang. Mereka bersebelas berencana reuni dengan mendaki anak gunung Krakatau.
Saat alur bergerak mundur, dikisahkan mengenai Pasukan Semut dan Pasukan Matahari. Dukungan positif teman-temannya sangat berperan signifikan dalam kehidupan Doni, pasca jatuh dari pohon yang mengakibatkan tangannya diamputasi. Ditambah dengan orangtua yang legowo dan selalu menumbuhkan kepercayaan diri pada Doni, maka hidup Doni bergulir seperti orang-orang pada umumnya. Bahkan berprestasi gemilang di dunia literasi dan cabang olahraga badminton. Salah satu petuah bapak Doni yang selalu terngiang adalah, “Hidup sebagai orang cacat itu butuh perjuangan. Tapi percayalah, buku dan olahraga akan menjadikanmu kuat dalam mengatasi perlakuan diskriminasi masyarakat!” (halaman 42)
Kehidupan di desa tidak menjadikan kesebelas anak kampung tersebut ragu untuk bermimpi. Mereka memancang mimpi dan saling bahu membahu mendukung impian itu dengan sikap optimis. Tidak ada yang mengecilkan harapan satu sama lain. Semua percaya, siapa pun akan bisa mewujudkan mimpi asal bersungguh-sungguh disertai doa. Meski memiliki keterbatasan fisik, Doni dan ketiga temannya melayakkan diri untuk bersaing dengan orang lain yang fisiknya sempurna.
Selain penekanan pada dunia disabel, novel ini pun memperlihatkan pentingnya mencintai buku. Betapa kehidupan Doni akrab dengan buku. Dan itu membuka cakrawala berpikirnya. Di rumah, orangtuanya memiliki rumah baca yang koleksi bukunya boleh dibaca siapa pun. Teman-teman Doni dan anak kampung lainnya didorong untuk gemar membaca. Begitupun saat dirawat di rumah sakit, Doni dan teman-temannya rajin mengunjungi perpustakaan rumah sakit. Di sana mereka mendapatkan inspirasi dari kisah orang-orang hebat yang dibacanya. Dokter yang merawatnya pun mendukung kegemaran membaca. Kata petugas perpustakaan, kamu rajin membaca buku. Teruskan. Membaca buku itu akan menambah wawasan kamu. Saya bisa jadi dokter juga karena hobi membaca. Semua orang hebat di dunia ini hobi membaca. Saya yakin, jika kamu rajin membaca maka kamu tidak akan menjadi anak minder hanya gara-gara tanganmu satu!” (halaman 254)
Bukan berarti novel ini melulu tentang Doni dan segala kehebatannya. Hadir pula konflik-konflik lain yang membuat kisah Doni tidak membosankan. Karakter para tokoh pun tidak sepenuhnya sempurna. Peran setiap tokoh berkontribusi dengan baik. Doni, bukan the one and only sebagai tokoh jagoan. Pembaca diajak menyelami aneka permasalahan hidup melalui orang-orang di sekitar Doni.
Novel yang inspiratif dan sarat dengan perenungan ini disajikan dalam bahasa yang ringan dan mudah dicerna. Sangat menarik mengikuti perjalanan kisah menyenangkan dan mengharukan dengan banyak hikmah di dalamnya.
Selamat membaca!

*) Resensi ini diikutsertakan dalam Lomba Resensi Buku FLP bulan Maret 2015 yang disponsori oleh Penerbit Indiva
*) Resnsi ini dimuat di harian Singgalang Minggu, hari Minggu, 14 Juni 2015
 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Sebentuk Cinta Dalam Sebuah Pencarian


Judul Buku                :  My Avilla
Penulis                        :  Ifa Avianty
Penerbit                      :  Afra Publishing (imprint of Indiva Media Kreasi)
Terbit                         :  Cetakan I, Februari 2012
Tebal Buku                :  184 halaman
Ukuran                       :  20 cm
ISBN                           :  978-602-8277-49-5
Harga                          :  Rp. 26.000

Ini kisah tentang kakak beradik dengan karakter berbeda. Margriet yang lembut dan serius, sedang adiknya, Trudy, gadis populer yang selalu tertantang pada sebuah kompetisi. Mereka mencintai lelaki yang sama, Fajar. Cowok ganteng yang pendiam, serius, dan pemalu.  

Margriet yang empat tahun lebih tua dari Fajar, berusaha menyangkal perasaannya. Sedang Trudy, dengan caranya sendiri, melampiaskan kekecewaan akibat mengalami penolakan telak dari Fajar. Sementara Fajar, tak peduli pada bilangan usia yang terpaut jauh, ia sudah benar-benar jatuh ke kedalaman cinta karena pesona Margriet. Bahkan ia punya panggilan istimewa untuk Margriet: My Avilla. 

Fajar yang bingung mencari jalan Tuhan, merasa klop bertanya dan berdiskusi dengan Margriet. Keduanya sama, dalam kegelisahan menuju jalan Tuhan. Namun Margriet lebih mantap bermuslimah, sementara Fajar gamang dalam kebimbangan bermuslim di tengah Mama dan kakak yang Katolik. Sedang ia sendiri saat itu beragama Islam karena Papanya seorang muslim. 

Lalu, di tengah perjalanan kisah, muncul Phil. Ia rekan kerja Margriet, sesama dosen di sebuah universitas internasional di Jakarta. Seorang atheis yang kemudian memilih menjadi muslim dan menemukan kedamaian di dalam Islam. Meski niat awalnya demi menunjukkan kesungguhan cinta kepada Margriet, namun secara alami Phil menemukan makna mencintai dalam hidupnya, mencintai Tuhan.
*****

My Avilla, novel drama cinta yang indah, karya Ifa Avianty. Penuturannya mengalir dengan bahasa yang ringan, soft dan feminin, khas penulis ini. Namun berbeda dengan karya Ifa Avianty sebelumnya, My Avilla tidak sekadar menghadirkan kisah cinta. Di dalamnya tergambar sebuah pencarian. Pencarian akan Tuhan, dengan segenap pertanyaan yang berkelindan. Perlukah sebuah agama untuk mengenal Tuhan? Apakah seseorang harus menentukan satu jalan saja untuk menuju Tuhan? Apakah tidak bertuhan merupakan salah satu pilihan jalan? 

Fajar dalam lorong pencariannya, merasa berada dalam labirin, berputar-putar dengan beragam pertanyaan yang berjejal memenuhi benaknya. Jiwanya gelisah. Yang jelas, keinginan Fajar sangat kuat untuk melayani Tuhan. Namun apakah dengan berkhidmat dalam dzikir kepada Allah, atau menempuh jalan selibat di hadapan altar Al-Masih? Fajar sungguh bingung. 

Jangan membayangkan ini sebuah novel berat dan serius, yang dipenuhi kajian kritis yang akan membuat dahi berkerut. Diskusi-diskusi tentang pencarian Tuhan, dikemas ringan. Seperti yang diakui penulis pada lembar awal, bahwa ia bukan ahli ilmu perbandingan agama, maka jangan berharap dalil-dalil memadati buku ini. Tapi pilihan kalimat-kalimatnya tetap bernas karena menampilkan pemikiran-pemikiran cerdas dengan sedikit teori-teori dari buku karya filsuf barat. 

Cerita bergerak flashback. Diawali dengan prolog dari sudut pandang Trudy dan Margriet. Kemudian mengalir dari masa remaja hingga ujung cerita dalam kehidupan berumah tangga. Ifa Avianty, seperti dalam karya-karyanya yang lain, selalu berhasil menghadirkan banyak  tokoh dengan karakter yang kuat. Tokoh-tokoh itu berbicara bergantian, membentuk jalinan cerita yang runut.  

Saya paling suka pada tokoh Margriet. She’s like an angel. Meski mengalami pergolakan-pergolakan batin, tapi ia mampu mengelola hatinya sehingga sikapnya teraplikasi dalam bingkai muslimah yang shalihah. Kegalauannya akan perasaan cinta kepada Fajar, tidak serta merta menjadikannya lemah. Ia teguh memegang prinsip menjaga kesucian hati.

Kisah cinta segitiga Margriet-Fajar-Trudy terasa mengaduk emosi. Dialog dan narasi yang sangat kuat menggambarkan olah emosi para tokoh, cukup membawa pembaca larut terhanyut di dalamnya. Dengan bahasa yang segar dan lincah, dijamin membuat pembaca tak ingin beranjak hingga halaman terakhir. Sedang alur kisah cintanya sendiri jauh dari monoton, karena ada beberapa kejutan tak terduga yang mewarnai. Irama alurnya menyenangkan, tidak terlalu cepat pun tidak mengalun lambat.

Entah apa karena saya demikian jatuh cintanya pada novel ini, maka sulit rasanya mencari kelemahan kisah ini. Hanya saja memang untuk detil deskripsi setting tempat, tidak begitu menonjol. Semisal ketika Fajar bersekolah teologi di Roma, ‘rasa’ Roma-nya tidak tercium tajam. Tapi seorang penulis tidak harus hebat dalam semua unsur kan?

Dengan segala kelebihan dan kekurangan yang mengiringinya, bagi saya novel ini memiliki dua sisi yang berkombinasi dengan baik. Sebuah pencerahan tentang kesadaran bertuhan. Tentang makna keimanan. Keimanan nggak bisa ditukar semudah menukar pakaian hanya karena kita merasa nggak cocok. Keimanan adalah sebuah konsekuensi logis dunia dan akhirat yang kita tidak bisa mengambil sebagiannya dan membuang sebagian yang lain (halaman 54).

Pada sisi lainnya, “My Avilla” menyuguhkan pemaknaan sebentuk cinta. Betapa cinta adalah sesuatu yang indah dan berefek pada kebahagiaan. Ia tidak rumit, karena kebahagiaan itu sesungguhnya sederhana. Dia ada di dalam hati yang bersyukur, dan ketulusan mencintai serta memaafkan (halaman 182).
Novel ini sukses membuat saya tersenyum dan meluruhkan airmata. Ia menggedor bilik kesadaran saya. Membuat saya bergegas menujuNya, meraih cintaNya. Semoga Anda pun demikian setelah membaca buku favorit saya ini. It’s so recommended book.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pelajaran Cinta Dari Gaza




Judul Buku                :  Rinai
Penulis                        :  Sinta Yudisia
Penerbit                      :  Gizone Books (imprint of Indiva Media Kreasi)
Terbit                         :  Cetakan I, September 2012
Tebal Buku                :  400 halaman
Ukuran                       :  20 cm
ISBN                           :  978-602-8277-65-7
Sebuah novel mengisahkan sebuah cerita, itu biasa. Tidak demikian dengan RINAI. Ada cerita dalam cerita, di dalamnya. Tokoh Aku didatangi seorang ibu yang membawa buku catatan harian milik anaknya. Sang ibu berharap agar buku harian itu ditulis menjadi sebuah kisah. Maka mewujudlah kisah Rinai.
Alur cerita mengalir dengan beberapa flashback. Masa lalu Rinai memiliki andil besar dalam kehidupannya. Termasuk mimpi menahun yang terus menguntit dalam tidurnya. Tentang Ular. Mimpi inilah yang menjadi pijakan awal kisah ini. Dan pembaca langsung dipertemukan dengan Freud. Aroma ilmu psikologi mulai tercium, dan akan terus mewarnai novel ini.
Rinai, mahasiswi psikologi, hidup dalam keluarga yang memegang erat keluhuran nilai-nilai Jawa. Ibunya, Bunda Rafika, tipikal wanita Jawa yang tangguh dalam ke-nrimo-annya. Tak pernah ada perlawanan meski mengalami tekanan dari sana-sini. Sing waras ngalah.
Di kampusnya, Rinai mengagumi dosen bernama Nora Efendi, seorang psikolog klinis. Asisten lab-nya, Amaretta, kakak kelas Rinai yang tengah menempuh S2,  sepertinya tak pernah bisa ‘rukun’ dengan Rinai. Mereka tergabung dalam tim relawan HRHW (Human Relief for Humanitarian Welfare) cabang Indonesia. Sebuah organisasi independen yang bergerak untuk meningkatkan kesejahteraan manusia, terutama berkecimpung di wilayah konflik, korban bencana, atau daerah-daerah yang sulit dijangkau oleh pemerintah terkait. Gaza, tujuan perjalanan kali ini. Rinai berada di bawah pimpinan Nora, dalam tim kecil yang bertujuan mengatasi posttraumatic stress disorder, bersama tim trauma healing lainnya, juga para jurnalis dan praktisi medis. Perjalanan di Gaza inilah, yang menjadi jantung novel ini.
Sinta Yudisia, memang pernah mengunjungi Gaza. Maka, ia seolah tidak melewatkan satu inci pun penglihatannya tentang kondisi Gaza untuk dihadirkan kepada pembaca. Detil setting sangat rinci hingga ke hal-hal kecil. Tidak hanya bermain apik dalam setting tempat, penulis juga menampilkan karakter tokoh-tokohnya melalui penggambaran fisik dan emosi yang lengkap.
Kondisi Gaza sebagai wilayah konflik ternyata tidak porak poranda dalam semua aspek. Mereka tetap berkegiatan senormal yang mereka bisa. Apa yang menyebabkan daya tahan demikian besar dari warga Gaza? Mengapa tingkat depresi kecil, sangat minim kasus skizofrenia, bahkan violence tak menjadi kebiasaan umum masyarakat? (halaman 179) Ternyata kuncinya adalah kecintaan pada Quran. Mereka akrab dengan huruf-huruf Quran, yang bergerak dari kanan ke kiri, menyeimbangkan kerja otak. Mereka bahkan menghafalnya, terutama Surat At Taubah dan Al-Anfaal. IQ anak-anak tak ada di bawah angka 100. Beberapa orang dewasa fasih berbahasa Inggris. Mereka memiliki tingkat kecerdasan yang baik. Semua bermuara pada keyakinan akan nilai-nilai Islam. Everything is from Allah and back to Allah (halaman 180). Shiroh Nabawiyah dan kisah shahabat dipelajari dengan baik. Mereka belajar bagaimana survive dalam kehidupan. Masjid, Quran, belajar, berjuang, bertahan. Itulah orbit yang dilalui terus menerus (halaman 181).
Perang tentu menimbulkan kerusakan. Bangunan-bangunan hancur, pasokan listrik dibatasi, dan aneka ketidaknyamanan lainnya, tidak menampilkan kemurungan. Bahkan keramahan warga Gaza sangat menonjol. Mereka menyambut baik kedatangan para pemberi bantuan dari negara lain. Namun bukan tersebab menerima bantuan. Bagi warga Gaza, menjamu tamu, menghormati tamu adalah sebagian dari keimanan (halaman 183). Betapa nilai-nilai Islam demikian merasuk dalam keseharian mereka.
Pada bagian lain, penulis menggiring halus pembaca pada pelajaran cinta tanah air. Mereka berjuang keras demi berkibarnya bendera di tanah sendiri. Sementara kita, di negeri merdeka ini, kerap abai pada nilai sejarah berkibarnya bendera pusaka. Dan lihatlah warga Palestina yang harus tabah bertransaksi dengan shekel, mata uang Israel. Sedangkan kita, leluasa menggunakan rupiah, mata uang kita sendiri.
Pelajaran cinta berikutnya tentang keluarga. Sosok Hazem, anak lelaki berusia 12 tahun, mendampingi penuh cinta sang kakak yang mengalami bisu tuli akibat trauma perang. Ia menjadi kepala keluarga dalam usia semuda itu, dalam kondisi kehilangan sebelah kaki. Lalu ada Nirmeen, gadis secantik bidadari, mengajar di sebuah sekolah dasar. Ia bertutur, kehidupan kami sedikit lebih cepat dari kehidupan lain dari belahan bumi lain (halaman 360). Mereka harus siaga dengan segala resiko terburuk. Semua dilakukan ikhlas, karena cinta.
Tidak ketinggalan, penulis menyuguhkan kisah cinta romantis yang syahdu. Sebuah perasaan indah yang terselip dalam perjalanan ini. Ada denyar hati yang sangat halus antara Rinai dan Montaser, seorang pemandu. Tokoh Montaser digambarkan penulis terasa begitu nyata. Sosok pemuda berusia 25 tahun dengan kontur wajah yang mengagumkan serta berkepribadian menawan. Cukuplah Gaza memiliki penjaga seperti Montaser. Pemuda terhormat yang menjaga pandangan. Menghiasi diri dengan hafalan Quran. Membaktikan diri bagi negara, setia pada kebenaran dan kemuliaan (halaman 376). Perasaan kedua insan tak terucap kata, tapi sinyalnya lembut terasa.
Pada bagian lain, hadir pula intrik dan friksi dalam satuan tim relawan tersebut. Pergulatan idealisme dan tuntutan operasional penelitian. Tindakan manipulatif tak terhindarkan. Membuat jengah Rinai yang masih hijau dalam proyek besar ini. Lalu menyeret Rinai dalam petualangan mendebarkan. Bertindak tanpa persetujuan tim. Hingga dirinya berada di tengah baku tembak yang menegangkan. Inilah satu-satunya adegan yang memperlihatkan bahwa mereka berada di medan konflik yang rawan letusan tembakan dan mesiu. Jadi jangan berharap novel ini banyak menghadirkan bagian yang membuat napas tertahan, karena terkepung dalam serangan keji Israel yang datang tiba-tiba.
Dengan ketebalan 400 halaman, novel ini memang berbicara banyak. Heroisme, religi, psikologi, tafsir mimpi, romance, tradisi Jawa, kritik sosial, dan nilai-nilai kemanusiaan yang dalam. Sungguh bukan novel biasa dari penerbit biasa. Grup Indiva, konsisten menghadirkan novel-novel berupa karya bermutu, yang bernapaskan Islam. Plot yang kuat, dengan penokohan yang berkarakter. Jalan cerita menarik dengan ide yang bukan kebanyakan. Tak sekadar menghibur, di dalamnya terdapat pemikiran-pemikiran cerdas nan bernas. Sebut saja beberapa novel, seperti: De Winst, Da Conspiracao, My Avilla, Livor Mortis, Rose, Tarapuccino, Jasmine, dll. Meski dalam novel Rinai ini, terdapat typo yang cukup banyak, namun tertutupi oleh bagusnya isi cerita. Hanya, tentu saja, kesalahan ini jangan sampai terulang lagi. Dalam kesalahan cetak kali ini, untuk kata ‘seiring’ beberapa kali tercetak ‘seiiring’. Contoh lain: ‘senatiasa’ seharusnya ‘senantiasa’ (halaman 172), ‘meimbulkan’ seharusnya ‘menimbulkan’ (halaman 181), ‘situaasi’ seharusnya ‘situasi’ (halaman 188), dan beberapa lagi yang lain. Yang juga membuat agak tidak nyaman adalah, catatan kaki ditaruh di bagian belakang, dan bukannya di bawah halaman. Padahal banyak sekali kata-kata yang disertai catatan kaki, terutama istilah-istilah psikologi.
Terlepas dari itu, Penerbit Indiva, tampaknya berusaha mengusung idealisme bahwa karya yang baik bukan berarti harus selalu mengikuti pasar. Karya bermutu, bila dikemas baik, tetap akan menarik minat pembaca. Karena sesungguhnya, pembaca pun merindukan buku-buku yang bukan karya biasa yang kebanyakan beredar tanpa memerhatikan bobot isi. Tinggal menunggu waktu, Indiva akan semakin berkibar dikenal sebagai penerbit bermutu yang menerbitkan karya-karya berkelas.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS