Powered by Blogger.
RSS
Showing posts with label romance remaja. Show all posts
Showing posts with label romance remaja. Show all posts

Misteri Sepasang Kembar





Judul Buku                :  Brisbane – Pesan Cinta Terhalang
Penulis                        :  Leyla Hana
Penerbit                      :  DAR! Mizan
Terbit                         :  Cetakan I, Oktober 2014
Tebal Buku                :  212 halaman
ISBN                           :  978-602-242-492-5

Blurb:
Sejak kecil, Raka tak pernah bisa lepas dari Anggia, adik kembarnya. Dia selalu ingin bersamaAnggia, kemana pun mereka pergi. Bagaimana bila Anggia melanjutkan kuliah di Brisbane? Raka akan berpisah dengan Anggia untuk waktu yang tak sebentar.

Raka dan Anggia memang bersaudara kembar, tetapi mereka merasa aneh mengapa orang-orang selalu meragukan bahwa keduanya bersaudara? Raka juga heran dengan dirinya yang begitu menyayangi Anggia, dan menjadi sangat bergantung. Begitu juga Anggia. Secara tak sadar, dia tak ingin Raka berhubungan dengan gadis mana pun. Namun untuk berpikir bahwa mereka punya rasa selain kasih sayang kakak beradik, sungguh tak mungkin.

Review:
Apa yang terpikir setelah membaca blurb di atas? Apakah membayangkan bahwa Raka dan Anggia memang bukan kakak beradik dan mereka saling jatuh cinta? Yup! Dilanjut aja baca review ini ya.. :)

Saya suka dengan prolog novel ini. Lalu membayangkan prolog ini menjadi semacam clue yang akan menapasi isi cerita. Tapi rupanya, dari prolog tersebut sudah langsung terkuak di bab awal, bahwa Anggia adalah anak pungut. Anggia dan Raka lahir pada waktu yang sama di rumah sakit bersalin yang sama. Karena ibu Anggia raib, dilatari rasa iba, Lidya dan Rahman (orangtua Raka) membawa serta bayi itu pulang bersama bayinya sendiri. Keduanya ditahbiskan kepada khalayak sebagai bayi kembar.  Jadi ketika mulanya saya berpikir akan penasaran benarkah Raka dan Anggia bukan saudara kembar, maka rasa penasarannya diubah menjadi bagaimana nanti pada akhirnya mereka akan tahu jati diri mereka yang sesungguhnya.

Kisah novel ini sangat membumi, tidak mengada-ada. Tokoh ibu seperti Lidya, memang banyak yang demikian. Termasuk saya sendiri, ngerasa Lidya kok saya banget.. hehe.. yang memanjakan dan protective sama anak. Lalu iri-nya Anggia kepada Raka, mirip banget seperti putri semata wayang saya yang iri kepada adik bungsunya. Saya jadi berpikir, oh.. mungkin seperti ini ya, yang dirasakan oleh putri saya itu.

Mbak Leyla dengan jam terbang yang tinggi di dunia novel, memang pandai meramu kisah sederhana menjadi cerita yang manis. Dengan mengusung genre remaja, cerita dan gaya bahasanya memang pas buat remaja. Dan dalam novel ini, tampak Mbak Leyla mengalami kemajuan yang signifikan.. halah! sapa guee.. :P *toyor pala sendiri

Karakter tokohnya nggak neko-neko. Saya bisa dengan mudah menginterpretasikan bagaimana rupa dan karakter tokoh melalui deskripsi yang easy understanding. Alur mundur yang kerap muncul, tidak membuat capek pembaca. Semua mengalir enak, nggak susah dicerna.

Setting Brisbane, deskripsinya cukup detil dan rapi. Salut untuk Mbak Leyla yang berani mengambil setting luar meski belum pernah menginjakkan kaki di sana. Mbak Leyla tampak mengerahkan segenap kemampuannya, agar pembaca benar-benar dapat berada di Brisbane. Sehingga kadang ada terasa deskripsi setting ini agak terlalu show, dan bukan disiasati ke dalam dialog atau masuk ke dalam adegan.

Konfliknya pun sederhana, seputar Raka-Anggia. Tidak terlalu digambarkan bagaimana konflik di sekolah dengan teman-teman, hanya sekilas tentang cewek-cewek penggemar Raka. Sedangkan tentang status Anggia sebagai anak pungut, tidak dimunculkan konflik berarti. Meski ada kejutan tak terduga juga tentang siapa orangtua kandungnya.

Ada yang menjadi pertanyaan tentang status anak adopsi. Apakah memang perlu keterusterangan saat mendaftar sekolah di SD, SMP, SMA? Karena saya cuma pernah menjadi kepsek TK, jadi saya tidak paham untuk jenjang pendidikan lanjutan. Sementara di TK, keterangan seperti itu tidak perlu disampaikan resmi.  Lalu Bapak Kepsek SMA tempat Anggia sekolah, kok segala cerita-cerita sama anaknya, ya? Padahal itu cukup riskan mengingat anaknya adalah teman dekat Anggia.

Oh iya, ada satu lagi tentang IMD (Inisiasi Menyusui Dini). Saat Lidya melahirkan Raka, suster menyodorkan Raka setelah 3 jam pasca persalinan, dan disebut sebagai IMD. Bukannya IMD itu, bayi langsung diserahkan kepada ibunya sesaat setelah lahir, tanpa dibungkus kain atau atau selimut (skin to skin)? Hehe.. asli saya lupa lagi.. maklum sudah ssangat lampau mengalaminya.

Anyway, novel ini bagus dengan pesan moral yang dapat tertangkap dengan jelas. Selain tentang bagaimana pola pengasuhan yang baik dan benar, juga menyiratkan motivasi kepada generasi muda untuk berjuang meraih mimpi. Dibutuhkan kemandirian dan keteguhan agar sukses melangkah menuju gerbang cita-cita. Dan, kesadaran untuk berdamai dengan masa lalu, menjadi kunci untuk mengukir masa depan yang lebih baik.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Cinta Beda Kasta



 Sebuah novel kembali lahir dari tangan Iwok Abqary. Lagi-lagi bergenre romance. Setelah sukses dengan ‘Laguna’ yang membawa bendera amore, Iwok Abqary kini menapaki jalur teenlit. ‘Dandelion’ adalah kisah cinta yang manis namun tidak melulu idealis.

Bagi yang baru mendengar kata ‘dandelion’ tidak usah mengernyit, karena cover novel ini sudah berbicara. Yup! Dandelion adalah sejenis bunga liar yang bila ditiup akan beterbangan bulu-bulunya. Bunga ini sangat disuka oleh Yara, tokoh utama novel ini. Dan bunga dandelion tidak sekadar menjadi tempelan dalam novel ini. Ia menapasi alur kisahnya.

Cerita dibuka dengan adegan kepergian Yara ke Singapura yang diliputi kesedihan. Hatinya tertinggal di tanah air. Ia tak ingin berpisah dengan Ganesh. Namun kehendak ayahnya tak mungkin dilawan. Yara terpaksa menurut ketika didaftarkan kuliah di negeri singa.

Kisah cinta Yara dan Ganesh bagai kisah dalam dongeng. Yara, si cantik nan kaya raya, menjalin kasih dengan Ganesh, si tampan namun miskin papa. Tetapi cerita cinta ini disampaikan begitu nyata, membawa saya berpikir pada sisi realistis sebuah romansa.

Yara bersikeras menepis jurang perbedaan di antara mereka. Baginya Ganesh adalah lelaki yang dicarinya. Tapi Ganesh juga bersikukuh dengan pendapatnya.

Ganesh adalah lelaki terbaik yang aku kenal. Dia sangat bisa menghargai perempuan bak porselen. Selama kami bersama, kapan dia pernah berani memeluk atau menciumku? Belum pernah. Dan nilai lebihnya kutambahkan karena itu. (halaman 31-32)

Tidak, Yara, hidupmu terlalu indah untuk kuhancurkan. Kamu berada dalam gelimang keindahan dan kemewahan. Apa yang kamu cari dari sosokku? Aku terlalu biasa dalam segala kriteria. Jangan karena rasa sukamu lantas kamu menutup mata dan telinga. (halaman 24)

Selanjutnya Yara berkubang dalam kesedihan karena tak kunjung menemukan jejak Ganesh. Dari Singapura, ia terus mengontak kawan-kawan SMA-nya di Jakarta demi mendapat informasi tentang keberadaan Ganesh. Poor Yara, segala usahanya nihil hasil.

Sementara itu, sosok pria lain, Bryan, mulai mencoba masuk dalam kehidupan Yara. Ia sudah lulus kuliah dan sedang magang di sebuah penerbitan di Singapura. (belakangan saya tahu, mengapa Iwok Abqary memilih bidang penerbitan sebagai bidang yang digeluti Bryan)

Meski Yara mulai dekat dengan Bryan, namun hatinya masih bimbang. Sosok Ganesh masih lekat dalam ingatannya. Pada saat yang sama, Ganesh pun tak kurang memendam rindu pada Yara. Namun ia tetap merasa, mencintai dan merindukan Yara adalah sebuah kesalahan. Maka segala pilunya ditumpahkan dalam tulisan yang kemudian mewujud sebuah novel. Atas saran Laras, sahabat Ganesh, tulisan itu dikirimkan ke penerbit. Laras-lah yang menyemangati dan mendukung Ganesh. Ketulusan dan kebaikan Laras pun dimasukkan Ganesh ke dalam bagian akhir novelnya.

Setelah menunggu sekian lama, tulisan Ganesh di-acc, lalu diterbitkan. Novel itu berjudul “Dandelion”. Ganesh mengabadikan bunga yang sangat disuka Yara, sebagai judul novelnya.

Ternyata novel itu meledak di pasaran dan menjadi best seller. Ketika Bryan berkunjung ke Jakarta untuk urusan kantor, ia membelikan novel itu, karena tahu Yara sangat suka pada dandelion. Dan benar, Yara langsung jatuh cinta pada kover novel itu yang latarnya hamparan padang bunga penuh dandelion.

“Novel itu lagi best seller lho. Dalam lima bulan cetak ulang tiga kali. Prestasi hebat untuk penulis baru.”
“Kok tahu?”
“Yara, aku kerja di dunia penerbitan. Hal-hal seperti buku ‘best seller’ , apalagi di negara sendiri, sudah semestinya aku tahu. Buku itu ramai dibicarakan.” (halaman 97)

Nah, itu rupanya alasan Iwok Abqary untuk menempatkan Bryan pada bidang penerbitan. Agar logika cerita terjaga. Good job.

Setelah sekian lama menyembunyikan identitas diri melalui nama pena: Alang, akhirnya Ganesh membuka akun twitter, mengikuti saran editornya. Yara pun berhasil menemukan jejaknya, dan tanpa basa-basi langsung menodong pertanyaan: apakah Alang adalah Ganesh. Tentu saja Ganesh berkelit. Yara semakin penasaran.

 Alur kisah Dandelion terlalu mirip dengan kisah yang pernah kualami. Kalau Anda bukan Ganesha Arwan, lalu ada hubungan apa Anda dengan dia? (halaman 125) --ini tulisan pada twitter, dan ternyata tidak lebih dari 140 karakter, wow.. kecermatan yang patut diacungi jempol--

Bunga dandelion itulah yang kemudian menghubungkan kisah cinta ini. Ia bukan semata bagian dari kenangan Yara dan Ganesh, tapi dalam rentang jarak dan waktu yang terpisah jauh, keduanya terhubung oleh dandelion.

Novel ini mengusung kisah cinta beda kasta. Sebuah kisah klasik. Namun ia tampil beda. Bukan cerita cinta yang cengeng, bukan pula bertabur mimpi ala dongeng khas sinetron. Membacanya, saya seperti dipampangkan pada sisi realita kehidupan. Bahwa hidup adalah pilihan. Cinta memang milik siapa saja. Tapi berpijak pada kenyataan, tidak lantas menjadikan cinta berkurang kadarnya.

Ada dua pilihan. Yang pertama, keukeuh mempertahankan cinta tanpa memedulikan jurang perbedaan yang menganga lebar. Resikonya, tentu butuh usaha yang sangat keras, yang akan menyedot banyak energi, dan bukan tidak mungkin membuat berdarah-darah.

Pilihan kedua, berpikir realistis dan berdamai dengan keadaan. Melepas cinta, lalu membina hubungan baru dengan seseorang yang lain yang lebih sepadan. Ini jalan aman yang juga tidak mudah.

Masing-masing pilihan memiliki konsekuensi. Dan kita harus belajar menghargai apa pun pilihan yang ditempuh. Di sinilah saya merenungi bahwa jalan cinta pada setiap orang tidak bisa disamaratakan.

Maka novel ini sangat menarik. Dengan menggunakan dua sudut pandang bergantian antara Yara dan Ganesh, membuat pembaca lebih bisa merasakan gejolak emosi masing-masing tokoh. Dan meski penulisnya laki-laki, pada bagian Yara, sisi keperempuanannya terolah dengan baik. Namun sepertinya posisi Yara lebih dititikberatkan, sehingga Ganesh agak sedikit ‘terlupakan’ pada bagian dia pasca lulus SMA. Tidak terlalu diperlihatkan apa aktivitas Ganesh, sebelum ia menemukan jalannya, pada menulis.

Deskripsi setting cukup detil dan meyakinkan. Beberapa bagian Singapura dikuasai Iwok Abqary dengan baik. Demikian juga dengan deskripsi tokoh, tergambarkan jelas. Ganesh yang cakep dan baik dengan kesederhanaannya, Yara yang cantik dan tidak sok kaya meski berayah pengusaha hebat, lalu Bryan yang ganteng dan mapan serta dewasa.

Dengan label teenlit, Dandelion bukan sekadar cerita remaja penuh suka-suka. Ia paket komplet. Selain sisi remaja yang riang, ada sisi romansa yang menyentuh, sisi humanis, juga sisi motivasi. Semua menyelusup halus di sekujur kisah. Ini menjadikan Dandelion sebagai novel yang recommended.

Judul                          :  Dandelion
Penulis                        :  Iwok Abqary
Penerbit                      :  PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku                :  200 halaman
Cetakan                      : Pertama, Mei 2014
ISBN                           :  978-602-03-0431-1

#Resensi ini terpilih sebagai Resensi Pilihan Gramedia




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Kisah Cinta Dalam Semangkuk Ramen




Judul Buku : Cool Guys Ramen Shop
Penulis        : Lee Min Young
Penerjemah : Beatrice Marunduri
Penerbit      : Qanita (Mizan Grup)
Terbit          : Cetakan I, Januari 2014
Tebal            : 454 Halaman
ISBN           :  978-602-1637-14-2

Drama Korea memiliki banyak penggemar di tanah air. Ceritanya yang ringan, menyentuh, dengan sisi-sisi dramatis menjadi daya tarik tersendiri. Ditambah dengan para pemain yang berwajah cantik dan tampan, semakin membuat Drama Korea menjadi tontonan yang diminati. Salah satu Drama Korea yang tayang pada tahun 2011 berjudul Flower Boy Ramyon Shop diadaptasi ke dalam novel Cool Guys Ramen Shop. Drama Korea ini dibintangi Jung Il Woo dan Lee Chung Ah.
Novel ini berkisah tentang perempuan muda bernama Eun Bi, mantan atlet voli yang berbakat semasa SMA-nya. Ia sedang berusaha keras mempersiapkan ujian Negara untuk mendapatkan sertifikat guru. Meskipun masih ada ujian dan pelatihan yang harus dilalui, tekadnya adalah lolos pada tahun ini.
Saat menjadi guru magang di SMA Cha Seong, seharusnya Eun Bi menjadi guru sebaik mungkin. Sayangnya, kehadiran Chi Soo sebagai muridnya, membuat suasana menjadi runyam. Chi Soo adalah putra Presiden Direktur Cha Seong Grup, perusahaan makanan terbesar di Korea, yang membangun SMA Cha Seong.
Sebelum berjumpa di sekolah, Eun Bi pernah berada dalam beberapa pertemuan tak terduga dengan Chi Soo. Saat pertemuan pertama, ketika tanpa sengaja mereka berada dalam jarak yang sangat dekat, Eun Bi mendengar suara lonceng berdentang di telinganya. Menurut seorang peramal, Jika kamu bertemu dengan jodohmu, akan terdengar bunyi lonceng.. teng.. teng.. (halaman 35). Eun Bi sempat bingung namun kemudian kembali fokus pada persiapan ujiannya.
Di sekolah, Eun Bi beberapa kali terlibat masalah dengan Chi Soo. Ia benci kepada Chi Soo yang karena ketampanan dan kekayaaannya, suka meremehkan orang lain. Puncak masalah terjadi ketika Chi Soo tersungkur jatuh kena hantaman bola voli dari spike yang kuat yang dilontarkan Eun Bi. Pihak sekolah gusar. Lalu dalam pertemuan dengan PresDir Cha, Eun Bi terlibat adu mulut hingga akhirnya ia mengundurkan diri.
Sementara itu, kematian ayah Eun Bi, Cheol Dong, membuat Eun Bi mantap melepas impiannya menjadi guru. Ia bertekad untuk melanjutkan usaha toko ramen warisan ayahnya yang hampir bangkrut.  Tekadnya menguat karena dukungan Kang Hyuk, murid mendiang ayahnya, yang mahir membuat ramen dengan rasa yang enak, mirip ramen buatan Cheol Dong.  Rahasia Cheol Dong adalah karena kecintaannya pada ramen, dan ingin membagi kehangatan kepada orang-orang yang menyantap ramen buatannya. Demikian besar cinta Cheol Dong pada ramen, hingga pada hari kematian istrinya pun ia tetap membuka toko ramennya dan menyajikan ramen kepada para pelanggan setianya.
Kang Hyuk mengajak Eun Bi melestarikan toko ramen yang kecil dan jelek itu.  Meski kecil dan jelek, toko itu memberikan angin hangat bagi pengunjungnya. Nama “Toko Makanan Kecil Eun Bi” diubah menjadi  “Cool Guys Ramen Shop”.
Selanjutnya perjalanan Cool Guys Ramen Shop mengalir dalam kisah yang manis. Gejolak cinta yang misterius antara Chi Soo dan Eun Bi, serta kedekatan Kang-Hyuk dan Eun Bi, menjadi romansa yang tidak mudah ditebak.
Intrik persaingan bisnis hadir juga, memperlihatkan betapa perjuangan Eun Bi harus menemui kerikil-kerikil tajam dalam perjalanan usaha kulinernya. Toko ramen “Cool Guys Ramen Shop” mendapat intimidasi dari pihak lawan yang lebih kuat. Bagaimana perjuangan yang dilakukan Eun Bi, Kang-Hyuk dan tim agar dapat bertahan, menjadi konflik yang cukup apik.
Unsur nasionalisme tersirat dalam bagian tudingan penjiplakan resep dari ramen Jepang yang dilakukan Kang Hyuk. Siapa yang mau makan di sana? Ayo kita ke Chwa Noodle saja. Kan, malu makan di tempat yang menjiplak resep orang lain. Bagaimana bisa dia berpikir menjiplak resep dari Jepang? Parah, benar-benar patah. Ini bisa menghancurkan negara kita. (halaman 418)
Secara keseluruhan, novel ini menyenangkan. Tidak ketinggalan ada juga kejutan-kejutan tak terduga bagi pembaca. Bagi para penyuka novel ringan dengan romance yang manis, novel ini cocok untuk dikoleksi.

# Resensi ini dimuat di media rimanews.com pada tanggal 13 April 2014

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Bila Dewa Jatuh Cinta





Judul buku      : First Couple in Love
Penulis             : Hanna Natasha
Penerbit           : Qanita
Tahun terbit     : Cetakan I, September 2013
Tebal               : 212 halaman
ISBN               : 978-602-9225-97-6
Harga              : Rp. 47.000

Dalam fiksi, cinta bisa menyapa siapa saja. Tak terkecuali dewa. Meski kedigdayaannya tak tertandingi dalam tugas utama melindungi bumi, namun sang dewa tidak kuasa meredam getar-getar cinta yang menyerbu, apalagi melenyapkannya. Sebab sesungguhnya para dewa dilarang jatuh cinta. Sangsi berat menanti bila hal tersebut dilanggar.

Setidaknya itulah gambaran para dewa yang dikisahkan dalam novel remaja “First Couple in Love”. Ada Kaori (Dewa Air), Masato (Dewa Api), Take (Dewa Angin), dan Hiro (Dewa Tanah). Mereka adalah manusia pilihan yang diangkat menjadi dewa penjaga dan pengendali keseimbangan keempat elemen bumi. 

Awalnya mereka tidak saling mengenali satu sama lain. Namun ada ciri khusus berupa tato deretan segitiga tak terputus yang melingkar pada lengan kanan, yang memiliki warna sesuai elemennya masing-masing. Kaori memiliki tato berwarna biru, Masato berwarna merah, Take berwarna abu-abu, dan Hiro berwarna cokelat.  Hingga akhirnya pada satu kesempatan, tato itu terlihat dan keempatnya mengetahui keberadaan masing-masing.

Dewa tertinggi, Raja Akita, menitahkan tugas khusus kepada Kaori untuk melindungi Ayana Kinoshiri, gadis misterius yang berusaha bunuh diri. Suatu malam, Ayana mencoba untuk mengakhiri hidupnya di atas rel kereta. Ia merasa tidak lagi sanggup menanggung beban hidup akibat keluarganya yang broken home. Ibunya pergi sehingga ia hidup bersama ayahnya yang berperilaku buruk. Saat kereta melintas dan nyaris melindas tubuhnya, Kaori mendorong dan Ayana pun selamat.

Ternyata kemudian Ayana menjadi siswa baru di sekolah tempat keempat dewa itu bersekolah (halaman 19). Ia duduk di bangku sebelah Kaori. Namun Ayana selalu jutek pada perhatian Kaori. Ia sangat tidak peduli pada lingkungan sekitarnya, tidak mau bergaul, dan bersikap seenaknya kepada sensei. Berkali-kali ia dikeluarkan dari kelas gara-gara makan, tidur, tidak membawa buku pelajaran, dan lain-lain.

Kaori bingung menghadapi Ayana, tapi ia tetap berusaha menjaga dan melindunginya, meski Ayana tampak terganggu.  Ketika Ayana mencoba bunuh diri untuk kedua kalinya, ia malah membentak Kaori yang kembali menyelamatkannya (halaman 60). 

Namun akhirnya hati Ayana tersentuh oleh perhatian tulus Kaori. Ini terjadi ketika Kaori melindunginya dari hukuman sensei akibat Ayana memecahkan tabung reaksi di ruang praktikum. Kaori mengaku bahwa dirinyalah yang melakukan.

Kecantikan dan kemisteriusan Ayana membuat Kaori jatuh cinta kepadanya. Dan gayung bersambut, meski keduanya belum saling mengungkapkan. Tentu saja hal ini membuat Raja Akita marah, karena Kaori melanggar aturan bahwa dewa dilarang jatuh cinta. Hukuman mati pun membayangi Kaori.

Kisah cinta yang dibalut oleh nuansa fantasi ini, terasa khas remaja. Diwarnai dengan hal-hal yang dekat dengan dunia remaja, di mana keempat dewa tersebut dalam wujudnya sebagai remaja murid sekolah menengah, adalah juga anak-anak band. Band Orpheus, namanya. Kaori sebagai pemain bass, Masato sebagai vokalis, Take sebagai pemukul drum, dan Hiro sebagai pemetik gitar.

Dilengkapi pula dengan bumbu-bumbu intrik yang biasa terjadi di kalangan remaja, seperti persaingan antar siswa, yang dilakukan oleh gank Sakura terhadap Ayana. Selain itu juga hadir konflik persahabatan, di mana Kaori harus bersaing dengan Hiro, yang ternyata jatuh cinta kepada Ayana.

Setting Jepang tampak sangat kental terasa. Makanannya, beberapa panggilan khas, alat musik, hingga Festival Sapporo dan Danau Mashu, salah satu danau terindah di dunia, dideskripsikan dengan jelas.

Sayangnya, ada beberapa kekurangan pada novel ini, seperti kurangnya penjelasan mengapa Ayana pindah sekolah ke sekolah keempat dewa tersebut. Kemudian logika yang dipaksakan tentang ibu Ayana yang meninggalkan putri semata wayangnya. Akan terasa lebih logis bila ibu Ayana kabur dengan membawa serta Ayana. 

Di luar kekurangan tersebut, novel yang ditulis oleh penulis yang berusia masih belia ini, sangat pas dibaca oleh penggemar romance remaja dan penyuka hal-hal yang berhubungan dengan Jepang. Bagaimana kelanjutan kisah cinta sang dewa, silakan membaca novel imajinatif ini.

#resensi ini dimuat di media indoleader.com


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS