Powered by Blogger.
RSS

Perjalanan Seorang Riawani Elyta

Ketika ada pengumuman Quiz Bookpict untuk novel-novel karya Riawani Elyta, aku hanya bisa merana . Bukan karena tidak punya novelnya, tapi memotretnya itu loh.. kebisaanku teramat sangat standar. Apalagi ketika melihat foto jepretan teman-teman untuk lomba ini, sebut saja Mbak Anik Nuraeni, yang hasil besutannya demikian cetar menggelegar.. aku hanya bisa menelan ludah.. glekt! Melipir jauh-jauh lah aku.

Deretan buku-buku karya Riawani Elyta hanya bisa kupandang. Maksud hati ingin menampilkannya, namun apa daya.. ilmu fotografi tak sampai. Lalu.. Mbak Lyta, begitu biasa aku memanggil Riawani Elyta, kembali mengumumkan info mengenai quiz ini, dengan membawa kabar gembira tentang kategori foto original. Mataku pun berbinar.. :)

Sayangnya, binar itu kembali meredup. Apa pasal? Komputer dan laptop di rumah kompak matisuri. Sementara dompetku meringis, maka opsi untuk men-service keduanya harus ditunda hingga menunggu dompetku tersenyum.

Tiba-tiba waktu melesak, deadline pun tampak. Kamis, 13 Maret adalah kesempatan terakhir. Sedangkan pada hari Kamis jadwal mengajarku padat hingga waktu magrib dengan lokasi yang cukup jauh. Akhirnya, pukul 8 malam lewat, aku nekat menuju warnet dengan jarak lumayan. Tiba di sana, ternyata warnetnya sudah mau tutup. Aku meyakinkan si bapak warnet bahwa aku hanya sebentar, hanya memindahkan foto lalu meng-up loadnya di fb. Namun perjuangan belum selesai, Kawan. Komputernya sungguh lola. Dengan remuk redam, aku pun menutup fb, karena proses up load tak kunjung selesai, sementara aku merasa tidak enak karena warnet sudah akan tutup. Ketika membayar biaya rental, si bapak warnet bertanya, "Sudah?" Aku menggeleng lesu. Dan.. oh, si bapak itu berhati mulia, dia menawarkan untuk membantuku. Maka proses up load dimulai lagi di meja si bapak warnet. Dengan menyingkirkan rasa sungkan, akhirnya aku berhasil posting foto untuk Quiz Bookpict Riawani Elyta.

Kupandang lagi foto yang menampilkan deretan buku-buku Mbak Lyta. Ah, betapa perjalanan Mbak Lyta di jalan menulis ternyata berhasil menarikku untuk senantiasa mengikutinya. Sulaman katanya menghasilkan tenunan karya yang indah. Meski kejenuhan sempat menghinggapinya, seperti yang tertulis di blog dan beberapa statusnya, namun Mbak Lyta tidak bisa lepas dari jalan yang telah dipilihnya itu. Jalan itu bernama jalan menulis.

Tidak akan ada yang berubah, pada jalan yang telah kita pilih.. by: Riawani Elyta- Quote dalam "Perjalanan Hati".


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

2 comments:

riawani elyta said...

makasih mbak Linda, udah menjadi teman setia perjalananku, izmi lila, saya sendiri pun udah sulit nemu, pesen di penerbit katanya kosong

Esti Sulistyawan said...

Tetap berpartisipasi ya mbak
Hebaaaat :)

Post a Comment