Powered by Blogger.
RSS

Misteri Akademi Nusa






Judul Buku                :  Melintasi Batas
Penulis                        :  Sinta Yudisia
Penerbit                      :  Dar!Mizan
Cetakan                      :  I, 2005
Tebal Buku                :  296 halaman
ISBN                           :  979-752-253-9



Blurb:
Atas perintah majikannya, Intan diharuskan menemani Karina –seorang foto model ternama- bersekolah di Akademi Nusa, sekolah alternatif bagi anak-anak para petinggi negeri dan perwakilan negara asing. Sebuah sarana pendidikan yang memiliki fasilitas sangat lengkap dengan para pengajar berkualitas internasional.
Namun, banyak hal terjadi di sana! Apalagi, mengingat para siswanya yang hampir bermasalah. Ada anak bos mafiosa Italia, anak bangsawan Belanda, anak konglomerat minyak Timur Tengah, dan masih banyak lagi. Benarkah ada konspirasi terselubung di sekolah nan megah itu?
Akademi Nusa yang gemerlap laksana mercusuar di Kepulauan Nusa Penida, Bali, itu semakin sulit dijamah saat Intan dituding sebagai pecandu narkoba. Padahal, dia bukanlah siapa-siapa! Intan hanyalah anak seorang pembantu!
Belum jelas kasus yang menimpa Intan. Dua kali, Linda nyaris mati! Apa benar ada yang menginginkan kematiannya? Ataukah ada hal lain yang membuat Akademi Nusa begitu misteri dan sulit dijamah?
Harus ada manusia-manusia yang berani mengambil risiko: Melintasi Batas!

Sinopsis:
Cerita diawali dengan mendaratnya Karina di Pulau Dewata. Ia akan bersekolah di Akademi Nusa, sebuah sekolah eksklusif dengan kurikulum berbeda dari sekolah biasa. Karina tidak datang sendiri dari Jakarta. Mamanya menugaskan Intan, anak pembantu mereka, untuk menemani selama bersekolah di sana.
Rencana tinggal rencana. Akademi Nusa sangat ketat menerapkan peraturan. Selain siswa, tidak boleh ada orang lain yang masuk ke area sekolah. Intan kebingungan. Akhirnya ia mencari penginapan murah di sekitar itu.
Sebagai muslimah shalihah, Intan merasa tidak nyaman karena amanah tidak bisa dilaksanakan. Maka ia bertekad untuk bisa masuk ke dalam Akademi Nusa, demi mendampingi Karina. Di samping itu, bayaran tinggi yang dijanjikan Mama Karina, sangat dibutuhkan agar bisa menambah tabungannya untuk melanjutkan sekolah.
Dengan perjuangan alot, akhirnya Intan diizinkan masuk. Kebetulan kaki Karina terkilir cukup serius, sehingga butuh bantuan orang untuk mendorong kursi rodanya.
Sementara itu, suasana di antara para siswa terjadi perubahan dengan kedatangan siswa baru, Karina dan lainnya. Pertemanan antara Sabrina, Rendi, dan Jeremy, merenggang. Sabrina merasa sebal karena anak-anak baru itu lebih menarik perhatian para cowok seangkatannya. Begitu pun di antara sesama angkatan Karina sendiri, mulai timbul friksi.
Ketika pelajaran praktik terbang layang, terjadi insiden gawat. Parasut yang dikenakan Linda, teman seangkatan Karina, tidak mengembang. Kunci pengamannya rusak. Kakak kelasnya, Julie berusaha menolong. Mereka berdua mendarat dengan posisi jatuh bertumpang tindih, terbebat tali, dan terkurung payung. Julie luka ringan, sedangkan Linda cukup parah. Kakinya harus digips.
Pembina Akademi, Ibu Sukreni, menawarkan kepada Intan untuk menjadi pendamping Linda. Meski sering dibully secara verbal yang merendahkan posisinya sebagai pelayan, Intan tetap menerima tawaran itu. Karena dengan demikian, ia bisa berada lebih lama di dalam Akademi Nusa, sehingga bisa tetap memantau keadaan Karina.
Kedekatan Julie dengan Sabrina kemudian terus berlanjut. Keduanya mencium ketidakberesan pada diri Linda. Mereka mendapati Intan diperlakukan semena-mena oleh Linda. Dan penderitaan Intan tidak cukup di situ, beberapa hari kemudian ia dipanggil Ibu Sukreni lalu diminta test urine. Hasilnya positif menunjukkan bahwa Intan pengguna narkoba. Intan dilarang beraktivitas apa pun sampai penyelidikan mengenai keberadaan zat aditif berbahaya itu selesai.

Review:
Apa yang temen-temen rasakan ketika membaca blurb di atas? Ini novel yang keren, kan? Beraroma misteri dan detektif. Yup! Novel ini bukan seperti novel kebanyakan. Setidaknya menurut saya, ada sepuluh hal menarik:
1.      Idenya unik. Permasalahan yang terjadi pada anak-anak orang kaya. Mereka berkumpul dalam sebuah kamp eksklusif yang nyaman dengan fasilitas super lengkap. Kemudian dibenturkan dengan sosok Intan, gadis mandiri dari kalangan bawah.
2.      Pemilihan tokoh yang bukan sekedar remaja anak orang kaya Indonesia, tapi dari berbagai belahan dunia, cukup menarik dan variatif. Ada Irene Girbaud dari Perancis, Ayman Saad dari Mesir, Andre Fentini dari Italia, Julie Blanskerpoor dari Netherland, dan lain-lain.
3.      Deskripsi tokoh sangat detil. Gadis beralis tebal, bermata cekung, tulang pipi menonjol, berambut keriting, dan kulit kemerahan menandakan ia berasal dari wilayah Arabia (halaman 13). Deskripsi ini pun diselipkan dalam banyak narasi dan dialog, sehingga tidak melulu berupa penjelasan.
4.      Setting tempat tergambarkan dengan sangat baik. Pemandangan elok Bali, Nusa Penida, maupun seluk beluk sekolah Akademi Nusa benar-benar diuraikan detil.
5.      Memaparkan kondisi SDM tanah air dengan negara lain. Pembaca diajak berpikir mengenai potensi diri dan pengembangannya. Bagaimana kita harus dapat berkompetisi di dunia internasional. Bagaimana kita mengerahkan kemampuan mengolah kekayaan alam yang melimpah yang dimiliki negeri ini. Masalah serius tersebut, menyusup halus dalam cerita.
6.      Menyadarkan arti pentingnya keluarga. Anak-anak orang kaya dalam kisah ini, mengalami beragam masalah yang benang merahnya adalah kehilangan kehangatan sebuah keluarga. Tampak bahwa uang dan materi sama sekali tidak menjamin kebahagiaan seseorang. Berimbas pula pada kemandirian dan tanggung jawab. Sosok Intan, mewakili remaja dari keluarga yang penuh kasih sayang, meski latar ekonomi tidak mampu.
7.      Penulis sangat sabar menghembuskan unsur misteri yang melingkupi Akademi Nusa dan orang-orang yang ada di dalamnya. Membuat pembaca gregetan, tapi dipaksa menahan diri.
8.      Banyak informasi yang membuka wawasan pembaca. Tentang narkoba, kebudayaan Bali, dan pengetahuan umum lainnya termasuk wawasan keislaman.
9.      Bahasanya segar, ringan dan mengalir, mudah dicerna oleh pembaca remaja sekali pun.
10.  Mengangkat lokalitas budaya tanah air.

Mengiringi hal-hal yang menarik, ada juga yang terasa mengganjal:
1.      Logika yang agak sulit diterima untuk kondisi Intan sebagai pendamping Karina. Apa yang ada di benak Mama Karina ketika menugaskan Intan? Tidak mungkin sebagai siswa karena biayanya yang selangit. Apakah Mama Karina tidak tahu peraturan Akademi Nusa yang melarang siswanya ditemani, demi menanamkan kemandirian? Jadi, bagaimana caranya Intan diminta untuk memantau Karina sehari-hari? Dan ketika Intan sendirian karena dilarang ikut saat di dermaga, mengapa tidak langsung menghubungi Mama Karina?
2.      Masih tentang kelogisan cerita. Akademi Nusa dengan kualitas bertaraf internasional, dengan peraturan yang sangat ketat, kok bisa luluh pada Intan yang notabene cuma gadis sederhana yang bukan siapa-siapa.
3.      Cover yang kurang greng, dari pemilihan warna maupun ilustrasi. Gambar 3 orang lelaki rasanya tidak ada kaitannya dengan cerita lebih didominasi tokoh utama dari kaum perempuan.
4.      Ending kurang jelas. Mungkin maksudnya menggantung, tapi menggantungnya juga terasa kurang enak. Sepertinya pembaca diminta untuk melakukan analisa dari keterangan yang terkumpul di bagian akhir. Apabila demikian, memang akan didapat satu kesimpulan, meski jatuhnya jadi nebak-nebak. Yang jelas, cerita ini rasanya tidak ditutup dengan asyik.

Satu hal yang perlu diingat, novel ini terbit nyaris sepuluh tahun yang lalu. Maka, hal-hal yang mengganjal seperti di atas sudah tidak lagi ditemui dalam karya terbaru Mbak Sinta Yudisia. Dan untuk ukuran tahun 2005, novel ini tentu sangat keren pada zamannya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

8 comments:

Melani Ika Savitri said...

Wow, saya jadi mkin tertarik baca-baca novel Mbak Sinta. Keren-keren, ya :)

riawani elyta said...

mbak SInta berarti emang penulis serba bisa ya, tahun 2005 aja temanya udah yang berat gini

Fardelyn Hacky said...

Saya udah sejak lama membaca tulisan-tulisan Sinta Yudisia, sebelum karyanya sebanyak sekarang, saat di mana beliau memulai menulis di majalah Annida. Sejak dulu, tulisan-tulisannya memang keren, idenya gak biasa, meskipun kadang suka menemukan kejanggalan. Tapi waktu itu saya pikir, biasalah jika penulis memulai dengan adanya bolong di sana-sini. Tapi lagi, dengan semua kelebihan yang saya sebut, saya berpikir juga, waktu itu, Sinta Yudisia akan menulis sesuatu yang dahsyat di masa yang akan datang (itu pikiran lebih dr 10 tahun lalu).
Dan waktu sudah membuktikannya, beliau konsisten menulis dan menghasilkan sesuatu yang dahsyat.
Jadi kangen baca tulisan2nya mb sinta, udah lama gak baca soalnya, xixixiiiii

Linda Satibi said...

Mbak Melani, iya Mbak Sinta tuh dah keren sejak dulu.. :)

Linda Satibi said...

Mbak Lyta, 11-12 sama Mbak juga.. tema novel Persona Non Grata juga berat.. kereen.. :)

Linda Satibi said...

Wah, prediksi Ecky betul ya.. Mbak SInta memang membuktikan kalo karyanya makin keren. Dan itu berkat kekonsistenannya..
huhuu... aku kapan konsistennya yaa..?

Efi Fitriyyah said...

Saya juga sukaaa sama novel-novelnya Mba Sinta. Yang Existere bikin saya merenung dalam. Yang Takudar kepo level dewa nunggu trilogi terakhir. Ah ditambah yang ini pula. Unsur sejarah yang kuat, analisa yang dalamdan filosofi yang cetar bikin saya ngefans sama beliau. Selaras pula dengan status-statusnya di FB, ya. BTW saya penasaran pengen gabung di grup Blogger Buku. Ada syaratnya ga sih? Blog khusus tentang buku saya belum banyak. Sebelumnya ada si di blog yang campur2 itu.

atria sartika said...

Wah reviewnya lengkap.
Bukunya sepuluh tahun yang lalu (>_<) kalo usia anak-anak udah kelas 4 SD kali ya :D

Post a Comment