Powered by Blogger.
RSS

Tentang Iman dan Kemanusiaan




Judul Buku                :  Maryam
Penulis                        :  Okky Madasari
Penerbit                      :  Gramedia Pustaka Utama
Cetakan                      :  Februari 2012
Tebal Buku                :  280 halaman
ISBN                           :  978-979-22-8009-8

Ketika pertama kali baca “Entrok”, saya langsung jatuh cinta sama novel itu. Meski ada hal-hal yang beraroma vulgar, tapi kisahnya demikian membumi, sehingga membacanya memberi efek candu. Gaya penuturannya lugas, tapi tetap terasa indah. Kemudian saya baca karya Okky Madasari lainnya berjudul “86”. Saya masih terkagum-kagum dengan novel ini, meski aroma jurnalisnya terlalu pekat. Tapi tetap dua jempol saya berikan. Setelah itu, saya baca “Pasung Jiwa”, dan mulai merasakan tidak nyaman dengan tema yang digelar serta cara eksekusinya. Terakhir, saya baca “Maryam”, rasanya semakin menipis kekaguman itu.

Temanya sangat tidak biasa, mengangkat kelompok Ahmadiyah, dengan latar tempat di Lombok. Tokoh utama, Maryam, adalah perempuan yang terlahir dari rahim seorang Ahmadi sejati. Ia tidak bisa menolak didikan ayah ibunya yang menggiringnya untuk menjadi seorang Ahmadi pula. Mereka shalat di masjid yang berbeda, serta mengikuti pengajian rutin yang berbeda pula dari orang-orang pada umumnya.

Ayah Ibu Maryam sangat menjaga putrinya agar tetap berada di lingkungan Ahmadi. Maryam patuh. Ia tidak pernah jatuh cinta kepada siapa pun. Hingga akhirnya saat kuliah, orang-orang mulai menjodoh-jodohkannya dengan pemuda Ahmadi juga. Namanya Gamal, empat tahun lebih tua dari Maryam, sedang mengerjakan skripsi di Teknik Mesin ITS. Secara alami, keduanya ternyata saling jatuh cinta.

Keadaan berbalik ketika Gamal pulang dari Banten untuk urusan skripsi. Ia menjauh. Tak lagi mau berinteraksi dengan komunitas Ahmadi-nya. Gamal berpindah jalan, melepas ke-Ahmadi-annya. Dan akhirnya Gamal benar-benar menghilang. Maryam patah hati. Ia berdarah-darah dalam luka yang terus membasah.

Selepas lulus kuliah di Surabaya, Maryam melesat ke Jakarta. Perjumpaannya dengan Alam, seorang non-Ahmadi, mampu menggeser posisi Gamal. Maryam pun menetapkan satu tujuan: hanya ingin hidup bahagia bersama Alam. Dan konsekuensinya tentu berimbas pada keharusan untuk keluar dari Ahmadi.  Maryam tak peduli. Ia hanya ingin hidup bahagia bersama lelaki yang mencintai dan dicintainya. Tak ingin lagi ia mengalami kehilangan seperti dulu. Maka ditentangnya ayah ibu tercinta. Maryam pun pergi meninggalkan keluarganya dan kampung kelahirannya, Gerupuk.

Ternyata bahagia masih sulit diraih. Aneka konflik mengepung kehidupan rumah tangga Maryam. Hingga cinta Maryam dan Alam pun karam. Kembali ke kampung menjadi pilihan Maryam untuk menenangkan gejolak hatinya.

Sekian tahun tak pulang, Gerupuk telah berubah. Rumahnya kosong. Telah terjadi pengusiran terhadap warga Ahmadi. Maryam teriris hatinya, membayangkan penderitaan yang dialami ayah ibu dan adiknya. Ia tak ada saat tragedi terjadi. Rasa bersalah yang bertubi, membuatnya berusaha sekuat tenaga mencari jejak keluarganya.

Bagaimana selanjutnya kisah Maryam, tidak akan saya ceritakan. Sinopsis cukup sampai di sini. Ada banyak perkembangan baru dalam status Maryam sebagai janda. Dan tentu saja perkembangan kaum Ahmadi berikutnya. Terlalu spoiler kalau diceritakan semua.

Apa sebetulnya yang ingin disampaikan buku ini? Mendedah siapa kaum Ahmadi? Tidak begitu. Sepertinya penulis ingin menyentuh sisi-sisi kemanusiaan di balik penyerangan terhadap kaum Ahmadi. Tapi yang terasa malah jadi seba nanggung. Tidak ada penjelasan tentang apa itu kaum Ahmadi. Apakah pembaca novel ini semuanya tahu apa itu Ahmadi? Hanya ada disebut-sebut tentang gambar seorang lelaki. Yang dimaksud tentu Ghulam Ahmad. Di antara bingkai-bingkai itu, terselip satu gambar tanpa bingkai. Gambar laki-laki itu. Yang dicintai dengan tulus oleh keluarganya. Yang menjadi perekat dan penyatu. Tapi yang sekaligus membuat hidup mereka kerap diwarnai nada sendu (halaman 59).

Penulis memosisikan diri di tengah. Tidak memihak. Ingin mengajak pembaca untuk menyelami luka hati penganut Ahmadi yang tersakiti akibat diusir dan diserang. Bahwa kaum Ahmadi hanya ingin hidup damai. Tidak mengganggu, dan tetap saling menghormati. Hei.. tunggu! Pihak pemerintah, MUI dan orang-orang yang menentang keberadaan Ahmadiyah, bukan berarti menginginkan ada yang tersakiti dan menderita. Esensinya adalah karena ajaran yang dibawa Ahmadi bertentangan dengan ajaran Rasulullah Muhammad SAW. Jadi ketika digambarkan kondisi Fatimah, adik Maryam, yang mendapat perlakuan diskriminatif di sekolah, rasanya simpati saya tidak terbangkitkan. Sepertinya itu bukan diskriminatif, tapi kompromistis. Toh Fatimah tetap bisa bersekolah, meski nilai Agama di bawah rata-rata, dan itu tersebab ke-Ahmadi-annya, bukan oleh buruknya nilai yang didapat.

Ilustrasi menyedihkan lainnya ketika ayah Maryam meninggal. Bahkan setelah terbujur kaku pun, mayat seorang Ahmadi tetap ditolak oleh warga. Apakah dalam hal ini, rasa kemanusiaan yang harus dikedepankan? Tetap saja, masalah aqidah adalah masalah yang prinsip. Hendaknya orang-orang Ahmadi menyadari itu.

Memang ternyata orang Ahmadi itu ngeyel. Digambarkan dalam beberapa dialog betapa mereka keukeuh untuk satu hal, sementara yang menjadi pokok permasalahan adalah hal yang lain. Gubernur sudah menyediakan tempat penampungan bagi warga Ahmadi yang terusir. Sudah mengupayakan bantuan rutin dari Dinas Sosial. Tapi orang-orang Ahmadi itu tetap saja mempertanyakan kenapa mereka tidak boleh tinggal di rumahnya yang dulu. Padahal sudah jelas, ajaran mereka itu yang merupakan jalan sesat yang tidak bisa diterima warga. Kembalinya mereka ke rumah yang dulu, hanya akan memicu kerusuhan kembali.

“Kalau selamanya harus tinggal di pengungsian seperti ini, bagaimana, Bu?” wartawan itu bertanya lagi.
“Ya bagaimana lagi?” perempuan itu balik bertanya.
“Sudah lama tinggal di sini, apakah terpikir untuk menuruti permintaan orang-orang itu...?”
Perempuan itu tampak bingung dengan pertanyaan wartawan.
“Maksudnya keluar dari Ahmadiyah agar bisa pulang lagi ke rumah,” jelas wartawan.
Perempuan itu menggeleng. “Namanya orang sudah percaya,” jawabnya. “Semakin susah, semakin yakin kalau benar,” lanjutnya.
Wartawan itu terdiam. Raut mukanya menunjukkan rasa kasihan, tak tega, sekaligus terharu. Tak jauh dari mereka, Maryam pun berkaca-kaca. Sementara perempuan yang bicara tetap seperti biasa-biasa saja. Demikian juga teman-temannya
(halaman 272).

Dalam epilog novel ini, tertulis surat yang dibuat Maryam untuk penguasa negeri, konon untuk ketiga kalinya. Isinya tentang penderitaan kaum Ahmadi selama hidup di tempat pengungsian. Maka yang diinginkan adalah keadilan, bukan bantuan. Dan tidak akan ada dendam akibat perlakuan buruk yang diterima di masa lalu. Fyuuh.. rasanya saya pingin bilang, “Cape deeh..!” Kok warga Ahmadi itu nggak ngerti-ngerti, ya?

Karakter Maryam dalam kisah ini terkesan goyah. Sebagai Ahmadi yang menjadi Ahmadi tersebab keturunan, ia mengalami kegalauan. Seperti anak-anak Ahmadi lainnya, saat sekolah mereka takut dengan pelajaran agama yang menyebutkan Ahmadiyah sebagai aliran sesat. Namun lama-lama, kata ‘sesat’ menjadi akrab dalam kesehariannya. Kehidupan sebagai Ahmadi kembali dijalani. Tapi, saat dewasa, keinginan melepaskan diri menggebu lagi. Dan memang Maryam pun kemudian keluar dari Ahmadiyah. Bahkan saat menikah dengan Alam, ia bersyahadat lagi.

Pasca perceraiannya, Maryam tetap bukan Ahmadi. Namun ia sangat kukuh membela keluarga dan kaum Ahmadi lainnya. Hal itu murni dilatari rasa cinta keluarga, dan bukan karena membela keimanan. Sebagai bukan Ahmadi, seharusnya Maryam paham betul, mengapa Ahmadiyah dilarang hidup di negeri ini. Tapi ia menutup mata. Semua berdasar rasa kemanusiaan belaka. Ini cukup mengesankan ambigu. Masalah iman bukan berarti harus minggir ketika kemanusiaan maju ke depan, toh?

Cover buku ini pun terasa kurang nge-klik di hati. Terdapat ilustrasi tokoh Maryam, sebatas pundak. Kenapa harus tanpa busana? Dan tangan Maryam yang menggenggam rumah, kok seperti ada tiga tangan, ya?

Terlepas dari masalah iman dan keyakinan, saya menarik satu pelajaran tentang menjadi orangtua. Betapa hati harus membentang seluas semesta, betapa sabar harus selalu melekat dalam dada, betapa cinta harus melimpah tanpa dipilah. Buah hati yang menjadi tumpuan, yang kepadanya digantungkan sejuta harap, yang digadang-gadang akan menjadi anak baik sesuai ajaran agama yang ditanamkan sejak kecil, setelah dewasa, tak ada lagi kuasa orangtua dalam memengaruhi jalan hidupnya. Orangtua harus siap menghadapi keadaan ketika kenyataan tak sesuai harapan. Di titik ini, saya meyakini dalam diri, sejak sekarang, jangan pernah putus doa dipanjatkan demi keselamatan putra-putri tercinta, terutama keselamatan aqidahnya.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

8 comments:

Melani Ika Savitri said...

Wow, ide ceritanya berani kontoversial. Saya belakangan ini sering dengar nama novelis ini. Jadi cukup tahu setelah baca review ini hehe...

Linda Satibi said...

Iya Mbak Melani, memang ide-ide novelnya Okky Madasari selalu bukan ide yang biasa-biasa saja. Baca "Entrok" deh, itu keren..

Fardelyn Hacky said...

wow...resensi yang padat dan menarik. nanti mau beli buku-bukunya Okky Madasari ah :D

Fenny Ferawati said...

Jadi ikut terbawa kesal baca resensinya mbak dan setuju dengan kesimpulan akhir bahwa kuasa orang tua terhadap anaknya terbatas

atria sartika said...

Saya entah kenapa gak bisa tertarik dengan karya Okky. Entah karena saya pribadi gak bisa melepaskan pemahaman pribadi.
Review ini pun lengkap dan menarik tapi tetap saja rasanya sulit merasa tertarik dengan buku ini (>_<)

Linda Satibi said...

Ecky, yg paling bagus menurutku, "Entrok".. kalo Pasung Jiwa nggak recommended deh..

Linda Satibi said...

Mbak Fenny.. hehe.. ternyata resensi saya bikin kesal ya..? :)
emang iya sih, kesal sm ngeyelnya orang Ahmadi.

Linda Satibi said...

Atria, bagus deh.. emang kalo buat anak muda kayak Atria.. (ehm!) lebih baik nggak usah baca buku kontroversial kayak bukunya Okky gini..

Post a Comment