Powered by Blogger.
RSS

And The Mountains Echoed - Dan Gunung-gunung pun Bergema



Judul : And The Mountains Echoed
Penulis : Khaled Hosseini
Penerbit : Quanta - PT Mizan Pustaka
Tebal Buku : 516 Halaman
ISBN : 978-602-9225-93-8
Tahun Terbit : Cetakan Ke-I, Juli 2013

                      Cetakan ke-II, Oktober 2013

Blurb:
Kulihat peri kecil muram
Di keteduhan pohon kertas
Kumengenal peri kecil muram
Yang tertiup angin suatu malam

Abdullah sangat menyayangi Pari, adik satu-satunya. Sejak ibu meninggal dan ayah mereka menikah lagi dengan Parwana, Abdullah menjadi ayah, sekaligus ibu bagi Pari. Bagi Abdullah, Pari adalah bumi, langit, sekaligus semestanya. Dalam kehidupan pedesaan Afghanistan yang keras dan kejam, Pari adalah seberkas cahaya matahari bagi Abdullah.

Lalu, ayahnya menjual Pari kepada pasangan kaya di Kabul demi kelangsungan hidup keluarga mereka di musim dingin. Abdullah limbung, dunianya hancur. Tak ada lagi Pari, tak ada lagi kehidupan.

And The Mountains Echoed, novel ketiga Khaled Hosseini yang menggemakan kehidupan keras di Afghanistan. Lewat novel ini, Hosseini berkisah bagaimana pilihan yang kita ambil akan bergaung hingga ke generasi selanjutnya. Bagaimana cinta yang tulus, akan bergema ke seluruh semesta, memanggil jiwa-jiwa yang kehilangan belahannya. 

Alhamdulillah request buku ini dikabulkan sama Mizan. Udah lama banget pingin baca, baru kesampean sekarang. So, telat yaa review buku ini sekarang. Orang-orang mah udah zaman kapan baca buku ini. It's Ok ae lah, better late than never.. :)

Ini buku kedua karya Khaled Hosseini yang aku baca, meski dalam jejeran karyanya, ini adalah novel ketiga. Yang pertama kubaca, pastilah The Kite Runner. Buku yang mengguncang perasaan, dan susah move on berhari-hari dari buku itu.

Ketika baca buku The Mountains Echoed ini, nggak bisa dipungkiri, aku punya ekspektasi yang paling nggak, buku ini menyamai The Kite Runner. Secara Khaled Hosseini, konon memang ahlinya mengaduk emosi pembaca. Halaman-halaman awal, aku terhanyut. Bahkan mata mendanau, emosi terseret dalam duka yang menyayat. Tapi semakin lanjut ke halaman berikutnya, emosi kurasakan mengendur. Entahlah, aku tidak lagi merasa terikat kuat.

Kisah diawali dengan dongeng yang dituturkan Baba kepada Abdullah dan Pari. Dongeng Baba itu terasa ngilu, tentang seorang ayah yang kehilangan anak kesayangannya. Dan ketika cerita bergerak, kemudian Baba pun mengalami nasib yang sama.

Secara singkat, cerita novel ini adalah tentang Abdullah dan Pari. Bocah kecil kakak beradik dari sebuah kampung miskin di Afghanistan. Desa Shadbagh namanya. Mereka memiliki paman yang bekerja di Kabul, pada keluarga kaya raya, yang tak memiliki anak. Sang nyonya jatuh cinta kepada Pari. Ia ingin memiliki anak cantik dan cerdas itu. Dengan uang berlimpah yang dimilikinya, Pari pun akhirnya menjadi 'anak' di keluarga kaya tersebut, keluarga Wahdati.

Jangan dikira Baba adalah ayah yang kejam karena tega menjual anaknya. Di sinilah letak kekuatan Hosseini. Keterpaksaan akibat kemiskinan yang menjerat serta rasa kehilangan dan rindu yang mencekik, mengakibatkan Baba membenci dirinya sendiri. Perasaan Baba terdeskripsikan dengan sangat baik, sehingga pembaca bisa merasakan kepedihan yang sungguh mengiris itu.

Yang lebih mencelos hati adalah apa yang terjadi pada Abdullah. Separuh jiwanya kosong, hilang bersama kepergian Pari. Bagaimana ia menguntai kenangan tatkala Pari masih di sampingnya, adalah bagian yang menusuk hati. Tak hanya Abdullah, seekor anjing kampung yang setia pada Pari, turut berduka, hingga akhirnya ajal menjemput dalam rindu yang tak berbalas.

Cerita terus berlanjut mengisahkan paman Nabi, yaitu paman yang bekerja pada Keluarga Wahdati. Kemudian orang-orang yang terkait dengan Pari dan Abdullah. Masing-masing dari sudut pandangnya sendiri. Seperti biasa, Hosseini sangat detil mendeskripsikan apa yang terjadi, emosi yang tercipta, serta lekuk setting yang melatari. Keahliannya yang satu ini, tak tertandingi.

Ada kejutan yang muncul dari Tuan Wahdati. Sejujurnya, aku nggak kepikir tentang hal itu. Oh, ternyata Tuann Wahdati itu.......... Ah, aku nggak suka. Lalu Paman Nabi yang ganteng itu hingga akhir hayatnya tidak menikah.. mengapa oh mengapa..

Banyaknya tokoh yang bercerita membuatku agak sedikit merasa kurang nyaman. Aku terlampau jatuh sayang kepada Abdullah dan Pari. Tapi porsi keduanya tidak lebih dominan dibanding tokoh-tokoh lain: Paman Nabi, Nila Wahdati, Parwana, Markos, Pari (anak Abdullah). Tapi aku salut pada Hosseini. Kemampuannya meramu beragam sudut pandang, PoV 3 dan PoV1 dengan banyak tokoh, nggak mengganggu jalan cerita. Semua karakternya tetap ajeg alias konsisten.

Seperti halnya The Kite Runner yang berlatar waktu sangat panjang, demikian pun novel ini. Bermula dari musim gugur 1952 hingga musim dingin 2010. Setting tempat pasti Afghanistan, walaupun ternyata Desa Shadbagh itu fiktif, tapi tentu mencerminkan desa miskin di Afghanistan kala itu. Ada juga Paris dan Yunani. Sudah bisa dibayangkan ya, gimana detil deskripsi yang disuguhkan buat pembaca. Benar-benar memanjakan. Hosseini memang nggak ada matinya untuk urusan ini.

So, nggak nyesel baca buku ini. Meski nggak sedahsyat The Kite Runner, tapi ceritanya apik dengan alur berliku. Kalaupun nanti ada novel keempat yang akan dilahirkan, para pembaca di seluruh dunia pasti akan tetap menantikannya. Khaled Hosseini sepertinya memang punya kemampuan menyihir.



 



  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

9 comments:

Fardelyn Hacky said...

Mbaaaaak, aku juga belum baca buku ini lhoooo. Jadi masih ada yang lebih telat lagi, wkwkwkwk. Bahkan bukunya Khaled yang kedua juga belum cobak :D
Kabarnya, buku ketiga ini memang tidak 'sedahsyat' buku pertama dan kedua.
Kabarnya, buku kedua lebih menyayat-nyayat dibanding buku pertama.
Ah, aku punya aja belum :D

riawani elyta said...

Saya belum kelar baca. Setuju dgn mbak linda. Bab2 awal seperti punya magis dan sangat emosional, masuk pertengahan mulai kendor krn banyaknya tokoh yg 'bicara' sehingga perhatian pembaca jg jd gak terlalu fokus

Linda Satibi said...

hihi.. ternyata Ecky blm baca..
aku mah buku kedua mau pinjem aja ah..
tapi, se-nggak dahsyat-nya karya Khaled Hosseini, teuteup ciamik lah gaya penceritaannya. Cuma karena The Kite Runner itu top banget, jd mau nggak mau pembaca akan membandingkan.

Linda Satibi said...

Mbak Lyta blm kelar ya? hehe..
iya Mbak, terlalu banyak yg bicara, padahal pinginnya kamera tetap di Abdullah dan Pari..
endingnya jg kurang nampol kalo menurutku..

Sumarti Saelan said...

aku suka buku sejarah atau berbau sejarah daerah pperang, tapi suka ngenes karena banyak tragis2nya gitu, dan bisa kebayang hingga berhari-hari, buku ini gitu juga ga? *pertanyaan absurd buat siap2 mantepin hati kalau udah nemu buku ini*

ulu said...

duh penulis yang satu ini temanya getir-getir euy. baca dua novel dia sebelumnya dan ngerasa cukup sudah heuheuheu gak kuat baca peristiwa yg harus dialamin tokoh-tokoh karakternya euy. kisah-kisahnya, walo novel itu fiktif, pasti diangkat dari kisah nyata deh, atau terinspirasi dari lingkungan sekitar. jadi berasa baca kejadian nyata kalo baca novel Hosseini :D

Linda Satibi said...

Mbak Sumarti, mending baca The Kite Runner dulu deh.. :)
mengaduk emosi pokonya.. mantav..

Linda Satibi said...

Mbak Ulu, setuju ya.. meski fiktif tapi berasa hidup.. ruhnya dapet..

Yulina Trihaningsih said...

Baca The Kite Runner pertama kali, disusul A Thousand Splendid Suns, rasa getirnya gak hilang berhari-hari.

Buku ini walau sudah lama punya, belum kubaca tuntas dari awal sampai akhir. Hanya baca cepat di beberapa bagian saja. Kayaknya jadi pengin baca ulang sekarang :D

Post a Comment